Páginas

Minggu, 28 Desember 2014

Fatwa-fatwa tentang Hukum Merayakan Tahun Baru Islam

1. Hukum Memberi Ucapan Selamat Merayakan Tahun Baru Islam
Fatwa Mufti Saudi Arabia sahamatus syaikh Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh –Hafizhahullah-
Pertanyaan :
Bolehkah memberi ucapan Selamat atau membuat perayaan tahun Baru?

Jawab:

Mengadakan perayaan tahun baru hijriyah atau merayakan peristiwa hijrah adalah perkara yang sama sekali tidak pernah dilakukan oleh sabiqunal awwalun (generasi yang pertama –sahabat,tabi’in,tabi’ut tabi’in-) yang berhijrah dan mengerti betul peristiwa tersebut serta perkembangannya. Mereka tidak melakukan hal yang demikian sama sekali. Karena dengan peristiwa ini menguatlah keimanan di dalam hati-hati mereka.Inilah pengaruhnya kepada mereka.

Adapun mengadakan perayaan,khutbah, muhasabah, ini semua tidak pernah ada. Apabila Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali serta Imam mereka penghulu Manusia yang pertama dan terakhir tidak pernah membuat untuk peristiwa tersebut sebuah perayaan dan tidak pula khutbah tertentu, hal ini menegaskan kepada kita bahwa perkara itu semua adalah muhdats (ajaran Baru/Bid’ah). Dan yang Utama bagi kita adalah tidak mengadakan hal-hal yang demikian, melainkan apabila kita mengingat peristiwa tersebut kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya dan menguatlah keinginan kita dalam kebaikan dan bersyukur kepada-Nya atas kemenangan agama-Nya.ini yang diinginkan. Kita memohon kepada Allah subahanahu wa ta’ala agar kita dapat mengikuti Nabi kita Shalallahu ‘alaihi wasallam dan berpedoman kepadanya dalam ucapan dan amalannya agar kita bisa mewujudkan kecintaan yang sebenarnya,
قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يعببكم الله
“Katakanlah , “jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Qs. Ali Imran:31)
Nuurrun ‘ala Ad-Darb (2/1/1427H)
2. Hukum Merayakan Tahun Baru Islam
Oleh Al ‘Allamah Asy-Syaikh Utsaimin Rahimahullah
Telah menjadi kebiasaan di tengah-tengah kaum muslimin memperingati Tahun Baru Islam. Sehingga tanggal 1 Muharram termasuk salah satu Hari Besar Islam yang diperingati secara rutin oleh kaum muslimin.
Bagaimana hukum memperingati Tahun Baru Islam dan menjadikan 1 Muharram sebagai Hari Besar Islam? Apakah perbuatan tersebut dibenarkan dalam syari’at Islam?
Berikut penjelasan Asy-Syaikh Al-’Allâmah Al-Faqîh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullahu Ta’ala ketika beliau ditanya tentang permasalahan tersebut. Beliau adalah seorang Ulama Besar ahli fiqih paling terkemuka pada masa ini.
Pertanyaan :
Telah banyak tersebar di berbagai negara Islam perayaan hari pertama bulan Muharram pada setiap tahun, karena itu merupakan hari pertama tahun hijriyyah. Sebagian mereka menjadikannya sebagai hari libur dari bekerja, sehingga mereka tidak masuk kerja pada hari itu. Mereka juga saling tukar menukar hadiah dalam bentuk barang. Ketika mereka ditanya tentang masalah tersebut, mereka menjawab bahwa masalah perayaan hari-hari besar kembalinya kepada adat kebiasaan manusia. Tidak mengapa membuat hari-hari besar untuk mereka dalam rangka bergembira dan saling tukar hadiah. Terutama pada zaman ini, manusia sibuk dengan berbagai aktivitas pekerjaan mereka dan terpisah-pisah. Maka ini termasuk bid’ah hasanah. Demikian alasan mereka.
Bagaimana pendapat engkau, semoga Allah memberikan taufiq kepada engkau. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan ini termasuk dalam timbangan amal kebaikan engkau.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullahu Ta’ala menjawab :
تخصيص الأيام، أو الشهور، أو السنوات بعيد مرجعه إلى الشرع وليس إلى العادة، ولهذا لما قدم النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما
فقال: «ما هذان اليومان»؟ قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية، فقال رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم: «إن الله قد أبدلكم بهما خيراً منهما: يوم الأضحى،
ويوم الفطر». ولو أن الأعياد في الإسلام كانت تابعة للعادات لأحدث الناس لكل حدث عيداً ولم يكن للأعياد الشرعية كبير فائدة.
ثم إنه يخشى أن هؤلاء اتخذوا رأس السنة أو أولها عيداً متابعة للنصارى ومضاهاة لهم حيث يتخذون عيداً عند رأس السنة الميلادية فيكون في اتخاذ شهر المحرم عيداً
محذور آخر. كتبه محمد بن صالح العثيمين
24/1/1418 هـ
Jawab :
Pengkhususan hari-hari tertentu, atau bulan-bulan tertentu, atau tahun-tahun tertentu sebagai hari besar/hari raya (‘Id) maka kembalinya adalah kepada ketentuan syari’at, bukan kepada adat.
Oleh karena itu ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam datang datang ke Madinah, dalam keadaan penduduk Madinah memiliki dua hari besar yang mereka bergembira ria padanya, maka beliau bertanya : “Apakah dua hari ini?” maka mereka menjawab : “(Hari besar) yang kami biasa bergembira padanya pada masa jahiliyyah.
Maka Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari tersebut dengan hari raya yang lebih baik, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.“
Kalau seandainya hari-hari besar dalam Islam itu mengikuti adat kebiasaan, maka manusia akan seenaknya menjadikan setiap kejadian penting sebagai hari raya/hari besar, dan hari raya syar’i tidak akan ada gunanya.
Kemudian apabila mereka menjadikan penghujung tahun atau awal tahun (hijriyyah) sebagai hari raya maka dikhawatirkan mereka mengikuti kebiasaan Nashara dan menyerupai mereka.  Karena mereka menjadikan penghujung tahun miladi/masehi sebagai hari raya. Maka menjadikan bulan Muharram sebagai hari besar/hari raya terdapat bahaya lain.
Allah berfirman :
أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ“
Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?” (QS. Al-Baqarah : 61)
Ditulis oleh : Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn pada 24 – 1 – 1418 H
[dinukil dari Majmû Fatâwâ wa Rasâ`il Ibni ‘Utsaimîn pertanyaan no. 8131]
Para pembaca sekalian
Dari penjelasan di atas,  jelaslah bahwa memperingati Tahun Baru Islam dan menjadikan 1 Muharram sebagai Hari Besar Islam tidak boleh, karena:
  • Perbuatan tersebut tidak ada dasarnya dalam Islam. Karena syari’at Islam menetapkan bahwa Hari Besar Islam hanya ada dua, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.
  • Perbuatan tersebut mengikuti dan menyerupai adat kebiasaan orang-orang kafir Nashara, di mana mereka biasa memperingati Tahun Baru Masehi dan menjadikannya sebagai Hari Besar agama mereka.
Oleh karena itu, wajib atas kaum muslimin agar meninggalkan kebiasaan memperingati Tahun Baru Islam.
Sangat disesalkan, ada sebagian kaum muslimin berupaya menghindar dari peringatan Tahun Baru Masehi, namun mereka terjerumus pada kemungkaran lain yaitu memperingati Tahun Baru Islam. Lebih disesalkan lagi, ada yang terjatuh kepada dua kemungkaran sekaligus, yaitu peringatan Tahun Baru Masehi sekaligus peringatan Tahun Baru Islam.
Wallâhu a’lam bish shawâb
3. Hukum Memberi Ucapan “Selamat Tahun Baru Hijriyah”
Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah
Berikut fatwa berkaitan akan masuknya bulan Muharram:
سئل الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله ما حكم التهنئة بالسنة الهجرية وماذا يرد على المهنئ ؟
فأجاب رحمه الله :
إن هنّأك احد فَرُدَّ عليه ولا تبتديء أحداً بذلك هذا هو الصواب في هذه المسألة لو قال لك إنسان مثلاً نهنئك بهذا العام الجديد قل : هنئك الله بخير وجعله عام خير وبركه ،
لكن لا تبتدئ الناس أنت لأنني لا أعلم أنه جاء عن السلف أنهم كانوا يهنئون بالعام الجديد بل اعلموا أن السلف لم يتخذوا المحرم أول العام الجديد
إلا في خلافة عمر بن الخطاب رضي الله عنه. انتهى المصدر إجابة السؤال رقم 835 من اسطوانة موسوعة اللقاء الشهري والباب المفتوح
الإصدار الأول اللقاء الشهري لفضيلته من إصدارات مكتب الدعوة و الإرشاد بعنيزة
Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ditanya: Apa hukum mengucapkan selamat tahun baru islam. Bagaimana menjawab ucapan selamat tersebut.
Syaikh menjawab:
Jika seseorang mengucapkan selamat,maka jawablah, akan tetapi jangan kita yang memulai. Inilah pandangan yang benar tentang hal ini. Jadi jika seseorang berkata pada anda misalnya: ”Selamat tahun baru!, anda bisa menjawab “Semoga Allah jadikan kebaikan dan keberkahan ditahun ini kepada anda”
Tapi jangan anda yang mulai, karena saya tidak tahu adanya atsar salaf yang saling mengucapkan selamat hari raya. Bahkan Salafus Shalih tidaklah menganggap 1 muharram sebagai awal tahun baru sampai zaman Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu.
Ini sama juga untuk ucapan-ucapan yang biasa beredar semisal “Kullu ‘aamin wa antum bi khoirin”.
Juga mengenai Hari Raya Lebaran, boleh mengucapkan “Mohon maaf lahir batin” dan yang semisal selama tidak mengandung dosa.

Blueberry Bisa Cegah Kanker dan Diabetes?



blueberry PterostilbeneBlueberry telah lama diketahui mengandung antioksidan yang hebat bernama resveratol. Antioksidan ini tidak hanya menyehatkan, namun juga mampu membantu mencegah kanker. Selain resveratol, blueberry juga menangudung zat lain yang dapat membantu menurunkan jumlah lemak serta mengurangi risiko diabetes. Zat yang dimaksud bernama pterostilbene. Zat ini merupakan salah satu jenis zat kimia seperti resveratol yang juga dijumpai di buah lain seperti cranberry dan anggur. Namun demikian, pterostilbene tampaknya masih belum banyak diteliti.

Peran Pterostilbene Yang Terkandung Dalam Blueberry

Penelitian mengenai buah blueberry ini dilakukan oleh Carlos III Institute of Health dan menemukan bahwa pterostilbene mempunyai ukuran yang sangat kecil dan dapat menembus membran sel pada sel kanker. Selain itu zat ini juga dapat menyebabkan kematian sel kanker. Pterostilbene diketahui juga dapat membuat sel kanker menjadi semakin lemah dengan cara mencegahnya untuk menghasilkan energi.
Manfaat dari pterostilbene tidak hanya itu saja. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa zat ini juga dapat mencegah diabetes dan obesitas, serta melindungi jantung. Para peneliti menemukan bahwa zat pterostilbene dapat meningkatkan oksidasi lemak pada lever dan juga mengurangi sintesis lemak pada jaringan. Proses ini nantinya akan memicu pengurangan lemak dalam tubuh.
Sedangkan penelitian lainnya yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Biochemistry and Nutrition menemukan hal yang sama di mana pterostilbene dapat membantu melindungi sel beta yang ada dalam pankreas. Sel beta ini berfungsi mengontrol insulin dan menjaganya agar tetap stabil. Hal tersebut pada akhirnya akan mencegah resistensi insulin yang menjadi pemicu diabetes tipe 2.
Pterostilbene diketahui juga dapat mencegah pengerasan arteri yang dapat memicu serangan jantung. Selain itu, zat ini juga bisa membantu meningkatkan efektivitas obat HIV. Walaupun demikian, sampai saat ini pterostilbene tampaknya masih jarang diteliti dan memerlukan lebih banyak lagi percobaan untuk mengetahui potensi kesehatan lainnya.

Manfaat Tomat


Manfaat tomat (Solanum lycopersicum) untuk tubuh dapat diketahui dari berbagai publikasi ilmiah. Misalnya, Edward Giovannucci di dalam publikasi berjudul “Tomato Products, Lycopene, and Prostate Cancer: A Review of the Epidemiological Literature di American Society for Nutritional Sciences”, 2005 berpendapat bahwa masih ada kontroversial seputar manfaat tomat dalam mencegah berbagai penyakit salah satunya kanker prostat.
Manfaat tomat sebagai anti kanker prostat ini disebabkan oleh adanya kandungan lycopene dalam tomat. Lycopene juga terdapat di berbagai produk olahan tomat dan variasinya, seperti: pizza, sup tomat, kecap, jus, salad, saus spaghetti, salsa, pasta tomat. Berbagai produk olahan tomat ini merupakan sumber lycopene yang bioavailability-nya lebih baik daripada buah tomat segar.
Uniknya buah lain seperti anggur merah dan semangka juga mengandung lycopene. Selain kanker prostat, manfaat lycopene juga diduga dapat dirasakan bagi penderita kanker payudara, kanker lambung, degenerasi sel-sel mata karena usia (age-related macular degeneration), mengurangi kadar kolesterol jahat, melindungi kulit dari ganasnya sinar ultraviolet, menghaluskan dan mempercantik kulit, mengurangi kulit keriput, dsb. Selain lycopene, sebenarnya tomat juga mengandung beta carotene, lutein, vitamin E, vitamin C, dan flavonoid (salah satunya: quercetin).
Namun hasil studi di atas dibantah oleh hasil riset yang dilakukan oleh Etminan, M., Takkouche, B. & Caamano-Isorna, F. (2004) dan Schuurman, A. G., Goldbohm, R. A., Dorant, E. & van den Brandt, P. A. (1998) yang menyimpulkan bahwa tidak ada korelasi positif antara tomat dan kanker prostat.
Manfaat tomat pada kanker paru-paru juga masih kontroversial. Beberapa studi menyatakan bermanfaat namun studi lainnya menyimpulkan belum ada korelasi positif antara keduanya (tomat dan kanker paru-paru).
Hasil studi epidemiologi tentang manfaat tomat ini memang masih perlu dikaji ulang, mengingat untuk dikatakan efektif dan maksimal, maka ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan: melakukan assessment yang komprehensif terhadap berbagai sumber utama lycopene, menghitung bioavailability lycopene, memeriksa populasi dengan asupan (intake) produk tomat yang tinggi, menghitung pola temporal karena diet tunggal atau pengukuran darah dalam jangka waktu tertentu belumlah cukup, cukup besar populasinya untuk mengevaluasi risiko relatifnya, meneliti apakah manfaat tomat atau lycopene itu dipengaruhi oleh faktor genetika yang dinamakan genetic polymorphisms, terutama berkenaan dengan DNA repair genes.

Rabu, 29 Oktober 2014

Artikel tentang menulis


Menggoyangkan Jari Itu Penting!


            Stress melihat mata kuliah dengan semua tugasnya? Itu yang sering dialami hampir seluruh mahasiswa, terutama pada awal-awal perkuliahan. Perpustakaan yang menjadi sumber ilmu, ada yang sama sekali belum pernah menginjaknya apalagi meminjam buku-buku. Kurangnya minat dan waktu untuk membaca dan menulis menjadi salah satu faktor sulitnya membuat suatu laporan, karya ilmiah, karya tulis, makalah, jurnal bahkan skripsi. Padahal sebagai seorang peserta didik dijenjang universitas, skripsi adalah salah satu syarat untuk bias mendapat gelar sarjana. Penting untuk seorang mahasiswa memiliki keterampilan menulis, baik aturannya, penggunaan EYD maupun inspirasi. Supaya dalam pembuatan makalah tidak meminta bantuan pada sesepuh atau yang biasa dikenal “Mbah Google”. Dan gelar yang diperoleh bukannya S.Pd.I (Sarjana Pendidikan Islam) tetapi malah “Sarjana Pendownload Internet”.
            Tidak akan bias seseorang menulis secara lancar kalau tidak pernah membaca. Karena intensitas membaca, mempengaruhi ide. Menulis dan membaca saling terkait satu sama lain. Mahasiswa yang nantinya setelah lulus akan melamar pekerjaan, harus memiliki bekal keterampilan menulis. Agar dapat menyusun kata-kata menjadi sebuah kalimat yang indah, menarik, sopan, berbobot dan mudah untuk dipahami. Sehingga suatu perusahaan atau instansi tidak mempunyai alasan menolak surat lamaran yang diajukan. Seseorang bisa menilai kepribadian kita dari tulisan. Namun sayangnya, mahasiswa sekarang semakin dimanjakan oleh setan yang bernama teknologi. Menulis secara manual tersingkir secara biadab. Banyak yang tinggal copy-paste, tanpa menuangkan idenya ataupun menyentuhkan jarinya ke keyboard dengan irama.
            Oleh karena itu, sebuah universitas perlu didirikannya lembaga yang tidak hanya menaungi siswa yang berbakat dalam menulis, tetapi juga mengajarkan atau menyumbangkan sedikit ilmu untuk mahasiswa yang “kemampuan menulisnya kurang”. Selain itu, seminar-seminar atau diskusi tentang menulis perlu diadakan sedikitnya 2 kali dalam sebulan, untuk melatih luwesnya jari  mahasiswa agar terus bergoyang.

Artikel Bahas Inggris


Necessary or not to bring mobile phone
to school
            Is it necessary to bring mobile phone to school? There are some opinion between pros and contras. Actually, this opinion is seen from several aspects. According to my opinion, it is necessary to bring mobile phone to school.
            Because the mobile phone have several functions, that are for communication with people who live in a distance. The mobile phone can be useful for searching information, for example : internet, short massage service, telephone, etc.
            The mobile phone is very important, it is a replecement of communication tool with letter. To simplify the connection of long distance with nearest people . it can also for communication with other school and other class. If we are in school, with mobile phone we can be connected with people in our house, can also for listening music and calculator or other application.
            But, we have to receive lesson and when we are in the examination we should to turn off the mobile phone. Because it will distrub our concentration. Then in the learning process we have give our attention to the mobile phone, but many students that still the mobile phone. And there are many students who do not care about the effects.
            If we bring mobile phone to school. It’s better we have to use for necessarything. And then we can use for positive matter. Just like we have to use for searching information in internet that connected with education.
            For several argument, we can conclude that bringing mobile phone to school. Is necessary, because for communication, but when we are in the learning process, the mobile phone should be turned off, because it can distrub concentration.
                                                                                    SABRINA KARTIKA. W
                                                                                                XI IPA 4
                                                                                                     25

B : But before I go, I hope you come to her birthday.
A : when?
B : tonight
A : mmm,,, but what am I invited?
B : he invited him to come to his birthday
A : you want to come with me?
B : mmm,,, of course, but I wear a dress what? The red dress does not fit?
A : I do not like the dress
B : or a black dress?
A : I also do not like the dress
B : white dress?
A : yes, I like it. It is suitable to you
B : thank you



Tapi sebelum saya pergi, saya harap kamu datang ke ultah dia.
kapan?
malam ini
mmm,,, tapi apa saya diundang?
ia dia mengundangmu untuk datang ke ultahnya
kau mau datang bersamaku?
mmm,,,tentu, tapi saya pakai gaun apa ya? gaun merah itu cocok tidak?
Saya tidak suka gaun itu
atau gaun hitam?
saya juga tidak menyukai gaun itu
gaun putih?
iya, saya suka itu. Itu sangat cocok denganmu
terimakasih

Sinopsis Novel Pulang Ke Kampung



PULANG KE KAMPUNG



            Telah tujuh tahun Tamin meninggalkan keluarga, rumah, desa, serta sawahnya. Rasanya tidaklah seperti menginjakkan kaki atas tanah sendiri. Ia pernah merasai hujan di mana-mana, sebagai serdadu pernah bergelut dengan lumpurnya jauh diseberang laut, tetapi ini, di mana dia berdiri di pinggir desanya untuk pertama kali, ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tersendiri, yang selama ini mampu menghidupkan mimpi dan kenangan yang begitu indah.Tamin teringat masa kecilnya di desa ini saat membantu ayahnya menggembala kerbau
            Pulang dapat lebih menggelorakan hati daripada mengalami pertemuan dengan keluarga kembali. Sayang wajah ibunya yang bersih dan pandangnya yang menentramkan, rambutnya yang telah separo putih, matanya hitam sejuk itu, apa yang bisa terjadi selama tujuh tahun ini? Betapa pula wajah ayahnya yang telah tua itu, wajah yang berkerut-kerut dengan alis kelabu tebal,memayungi matanya yang kecil, dan telah bersembunyi jauh ke dalam.
Langkah demi langkah ia bergerak, Matahari telah menyembuyikan diri seluruhnya di balik Gunung Wilis. Turunnya senja disambut oleh kesepian burung-burung yang pulang sarang malas berkicau. Sepanjang jalan ia tidak bertemu dengan orang dari desanya. Sesampainya di depan rumahnya, ia masih berdiri di samping pagar. Lalu tiba-tiba dia mendengar suara batuk ayahnya yang telah tujuh tahun lamanya ia tak mendengarnya lagi. Dengan muka yang berubah warna dan bibir gemeteran, lalu di balik pintu dia melihat perempuan tua itu. Ia mengaku pada Ibunya bahwa ia Tamin.
Akhirnya perempuan tua itu menjulurkan tangannya dan berpelukan.Ia menangis. Lalu perempuan tua itu memanggil suaminya dan Sumi yang sibuk di dapur belakang. Ayahnya keluar dari ambang pintu dan berkali-kali mengucapkan nama anaknya. Dan Sumi keluar matanya memandangi orang asing yang tak dikenalnya. Ayahnya memperkenalkan Sumi bahwa Sumi adiknya.
 Tamin bercerita tentang bocah berusia sembilan tahun. Betapa takut ayahnya pada Yamaguchi, Dia telah meninggalkn istri dan telah mati di perbatasan Burma, dua tahun setelah dari desanya. Dan ia menanyakan satu demi satu temannya pada ibunya.
Ibunya menceritakan satu demi satu. Pardan  telah tak ada, Ia pergi ke Surabaya pada zaman perang melawan Nica. Seminggu sesudah itu, jenazahnya dibawa pulang. Dan Gamik, Tuhan itu Maha Adil, ketika musim hujan seperti ini, serdadu Belanda mencari pemuda dan tentara di kampung mereka. Ia bersama keenam temannya memberi perlawanan, dan temannya berhasil lolos, tapi tinggal dirinya. Dia diketemukan di pinggir pematang dengan tubuh yang terobek peluru. Mawardi yang hilang di kaki Gunung Wilis sebelah tenggara, yang tak pernah ditemukan mayatnya sampai kini. Dulmanan dan Imam yang telah menikah dan pindah ke luar kota.
Setelah hari bertambah gelap, udara dingin menyelimuti kampung.
Dan ayahnya ingin tahu pengalaman yang ia dapatkan selama 7 tahun di negeri orang
Tamin menjelaskan bahwa ia pergi cuma sebagai heiho. Kewajibannya berkelahi dan menembak. Negara yang ia datangi adalah Negara Burma.
Dan Ibunya ingin ia tak pergi lagi.
Sesaat sebelum tintir kehabisan cahaya, Tamin masih dapat melihat adiknya tidur di atas tikar bawah. Ia tidak pernah mengira adiknya akan semanis itu.





PERANG, TANAH HILANG




            Pagi-pagi Tamin telah terbangun. Tapi kalah bangun dengan adiknya yang sudah berada di dapur. Ia hendak ke kebun. Dan ia menanyakan kemana ibunya.
            Setelah dia berjalan keluar dia melihat kandang sapi di samping rumah, masih tetap seperti ia pergi. Tanah bawahnya telah rapat ditumbuhi rumput tak terpelihara. Ia tahu kalau ayahnya sudah tidak kuat lagi mengerjakan sawahnya. Diambilnya pacul dan dia mulai membersihkan kandang sapi. Kayu-kayuan yang tersebar ia gabung jadi satu. Karena ia berkeringat ia lepas bajunya itu. Terlihat tubuhnya yang penuh.
            Sumi menanyakan apa yang sedang dilakukan kakaknya itu. Karena di kandang sapi tidak ada seekor sapi pun. Dan Tamin berencana akan membeli sapi besok di pasar, dan ia juga besok akan membawa adiknya ke Toko. Pilih cita yang indah, warna yang Adiknya senangi dan ambil kain yang cocok. Dan Sumi senang lalu ia mengambil nangka yang esok hendak dibawanya ke kota.
            Tamin hendak mengikuti Sumi, tapi ketika berdiri matanya tertumbuk pada ibunya yang berdiri di pojok rumah.
            Lalu Tamin menceritakan kalau ia dengan Sumi besok hendak ke kota untuk membeli sapi. Tapi Ibunya bercerita kalau sapi itu tidak berguna lagi untuk mereka. Inilah yang hendak ibunya katakan padanya. Ternyata ketika Tamin tak ada, rumahnya mengalami kesulitan yang tak dapat dipikul dan jawaban untuk itu Cuma satu: Tanah. Mereka sudah tak punya uang lagi.
            Ia ingat betapa dahulu ayah Mereka berada di tengah sawah kala itu berpesan bahwa ia harus menjaga tanah itu, tanah itu adalah tanah yang terbaik di seluruh desa, lantaran dibatasi oleh kali yang tidak pernah kering sepanjang musim. Cintailah seperti juga neneknya mengajarkan kepada ayahnya. Gantungkan pengharapan hidup di sini dan bila datang masanya Tamin memegang sendiri, jangan dilepaskan meski sejengkal. Karena tanah itu telah menghidupi nenek moyangnya.
            Kini ia sudah pulang dari pengembaraannya, sebagai heiho selama tujuh tahun. Pulang dengan segala pengharapan dan cita-cita untuk melanjutkan pesan ayahnya, tapi tanah itu sudah ditangan orang lain. Dan Tamin akhirnya mengerti.
            Ibunya seorang diri bersama Sumi melawan maut. Tapi Ibunya sudah tua, sedang Sumi belum dewasa. Akhirnya Ibunya Cuma melihat satu jalan untuk menolong ayah, yaitu:Tanah. Dan dia hendak mengembalikan tanahnya kembali.
            Tamin pergi keluar rumah, dan menyusuri desa.
            Matahari telah bertambah rendah, Puncak Gunung Wilis tinggal sepenggalah saja tampaknya. Tamin pergi ke sawah yang sekarang tak lagi menjadi miliknya. Ia menunduk, mengambil segenggam tanah. Mesra tangan memegangnya dan hatinya menjerit.
            Matahari telah tak tampak dipuncak Gunung Wilis telah hilang menembus mendung. Ia melangkah ke pematangan, berjalan menuju rumahnya. Pada setiap langkah seperti ada yang memanggilnya. “Tanah itu harus kembali”
            Sumi melihat kakangnya di ambang pintu. Dan ia bertanya, apakah esok mereka jadi ke kota karena tak ada ada gunanya lagi pergi ke kota lantaran mereka tak butuh sapi lagi. Tetapi Tamin tetap mengajak adiknya ke kota ia sudah berjanji pada adiknya akan membelikan cita sutra, dan memilih kain batik di pasar.





TANAH KEMBALI



            Ia berjongkok membuka ranselnya dengan tangan gemetar. Diantara tumpukan bajunya yang belum dibuka sejak ia datang, terdapat sekotak kaleng. Dibukanya kotak kaleng itu, meski dalam gelap ia tahu itu adalah uang simpanan yang diharapkan untuk cukup membeli seekor sapi dewasa. Ia seperti tak menjamah uang itu. Di dasar di bawah uang itu terdapat lipatan kain putih sebesar ibu jari. Dan ketika digenggamnya terasa hangat, seperti belum lama orang lain menggenggamnya. Benda yang ada dalam genggamannya kini bukankah itu pernah dibawanya melampaui darat, maut dan perkelahian, dan ia pernah berjnji kepada diri sendiri tak hendak melepaskannya sampai mati. Ia kembali pada hari dalam pengembaranya, ketika pertama kali di dalam hidupnya ia bertemu dengan seorang gadis yang punya mata sejernih bintang.
            Ketika mereka sedang duduk-duduk.
            Tamin bilang kepada ayahnya bahwa benda ini punya sejarah dan separo hatinya telah terpaut padanya. Ia dibawa melampaui maut, darah dan perkelahian. Dengan tambahan ini, sawah hendak di tebusnya, sebab bukankah ke sana mereka dapat menemui jiwa mereka?
            Pagi-pagi sekali Tamin dan Sumi pergi ke kota.
            Mereka naik kereta, mereka harus pulang sehabis lohor karena masih banyak yang harus dikerjakan.
            Mereka turun di depan sebuah toko yang besar dengan etalase yang terisi beraneka ragam barang jualan. Toko itu ramai dikunjungi orang.
            Dan Sumi di beri waktu untuk memilih pakaian mana yang ia suka. Tetapi Sumi takut. Isah. Ia biasa berkata pada setiap cita yang ia beli. Tetapi Tamin tidak tahu Isah itu siapa, akhirnya adiknya menceritakan kalau Isah itu anak Pak Makin, adiknya Gamik, sahabat Tamin dulu. Dan semua gadis-gadis biasa meminta pertolongan kepadanya jika hendak membeli cita. Isah itu memiliki mata paling bening di seluruh desa dan panas matahari tidak mampu menghitamkan kulitnya. Lalu Tamin memilihkan warna yang cocok.
            Menjelang lohor mereka telah sampai rumah. Sumi menjepit bungkusan cita dan kain batik, Tamin membawa tiga ekor ayam biang yang dibelinya di pasar. Dan kalung itu sudah ia jual.
            Pelaksanaan penebusan sawah berjalan lancar. Pak Jais menghadapi Tamin tanpa tuntutan harga. Pak Lurah Kabul memudahkan masuknya pengertian dalam kepalanya. Sawah itu kembali dengan sah.
            Sejak hari itu, Tamin menghabiskan siangnya di tengah sawah.
            Dan pertama kali ia menembang menjelang malam, seluruh kampung seperti tersentak karenanya. Kisah itu dalam bahasa Kawi, disusun dalam bentuk tembang lagu Asmaradana, susunan itu begitu indah dan jadi hidup dalam bayangan setiap pendengarnya yang mengenal bahasa itu.
            Esok harinya Tamin pergi ke sawah. Dan siang itu yang begitu terik, Sumi membawa makanan untuk Tamin, ada seseorng yang mengikutinya dari belakang membawa rantang pula, ikut berlompat-lompat dengan mengangkat kainnya setinggi betis, seperti takut akan basah karena Lumpur pematang yang belum kering. Ia seorang gadis pula, sama besar dengan adiknya, memakai kebaya merah darah berbunga bintik-bintik putih. Siapa dia? Tamin mencoba mengingat-ingat, tetapi ia tidak dapat menemukan. Kini bergerak bertambah dekat dan jelas menuju gubuknya. Lalu pada jarak tiga pematang Sumi tersenyum, menoleh dan gadis berbaju merah membelok ke arah sawah yang lain menyambut dengan senyum pula. Dan jarak itu bagi Tamin cukup untuk mengetahui, betapa bersih tangan gadis itu yang keluar dari lengan bajunya yang digulung setinggi siku, dan betapa bulat wajahnya, matanya yang bening. Panas matahari tak kuasa menghitamkan kulitnya. Siapa pernah berkata demikian? Dia mencoba mengingatnya.
            Ia ingat kini, adalah Sumi yang mengatakan di dalam toko cita bawah. Kulit yang bersih itu tak hendak hitam oleh panas surya. Gadis itu harus bernama Isah.
            Esok harinya dan esoknya lagi, kedatangan Sumi tidak lagi seorang diri, Tamin selalu mengawasi orang yang di belakang Sumi, tapi hari itu Tamin tidak melihat orang yang mengikuti adiknya.
            Ia diam, menghabiskan hidangan yang dibawa adiknya tanpa kata, dan Sumi memandangi sawah yang telah selesai digaru. Ternyata Isah tidak ke sawah lantaran Pak Makin sedang sakit. Ia mengetahui itu semua dari adiknya karena adiknya melihat wajahnya yang murung.
            Hari-hari berjalan jua. Musim menyebar bibit telah lewat, padi yang ditanam mulai menghijau rapat. Kerja berat telah berlalu.




CERITA PENGALAMAN




            Matahari lurus di atas kepala. Tamin berdiri tegak dekat gubuk seperti seorang jenderal yang sedang mengawasi balatentaranya. Langit di atas bersih sekali, mendung telah lari ke barat dan jatuh di kaki Gunung Wilis.
            Lalu terdengar suara memanggil namanya. Tamin menoleh dan ia melihat seorang tua yang masih tegap tubuhnya. Rambutnya yang telah separo putih. Ia adalah Pak Banji. Pak Banji kagum kepada tubuh Tamin yang padat itu.
            Pak Banji meminta Tamin untuk ke pendapa nanti malam karena akan ada acara perbaikan makam Gamik dan Pardan. Gamik dan Pardan adalah sahabatnya sewaktu kecil.
            Hari masih panas, dan Tamin meninggalkan sawahnya. Di belokan jalan ia melihat seorang gadis yang berhenti pula seperti dia, dia adalah Isah pada jarak empat langkah, jarak yang sedekat itu ia dapat melihat. Memakai pakaian yang seperti pertama kali ia melihatnya. Benar kata Sumi, bahwa mata yang sesaat masih berani menatap matanya itu bening sekali, dan terlalu lembut senyum yang melintasi bibirnya. Dan Tamin bertanya kepada Isah, apakah dia anak Pak Makin? Dan Isah juga bertanya, apakah Tamin kakaknya Sumi?
            Cuma itu percakapan mereka. Sesudah itu tak ada lagi. Sejenak saling termangu, lalu saling melanjutkan langkahnya yang jadi berat.
            Malam harinya sesudah mandi Tamin duduk di atas balai-balai menghadap secangkir kopi. Ayahnya ke rumah Pak Usup, adiknya ke rumah Lurah Kabul. Ibunya mendekatinya. Dan Ibunya bertanya, apakah masih ada cerita yang berat Tamin hendak menyampaikan? Dan Ibunya melihat mata Tamin yang terlalu jauh.
            Dan Tamin mengangguk. Ia lalu bercerita kepada Ibunya, kalau memang ada sesuatu yang tersimpan dalam hati. Dan ibunya berhak mengetahuinya lantaran Tamin anaknya. Dan apakah Ibunya masih ingat kematian Yamaguchi? Ini terjadi satu musim dengan kematiannya. Lantaran rindunya pada rumah, mengenang Ibunya, ayahnya dan Sumi adiknya. Itu sebabnya jika ada masanya Tamin mendapat istirahat, ia pergi ke desa-desa menelusuri kali-kali dan sawah.
            Di tengah ladang seperti itu, Tamin mendapat seorang sahabat. Ia seorang petani, sama tuanya dengan bapaknya. Ia membawanya pulang ke rumahnya, dan dia melihat istri petani, Istri petani sedikit lebih muda dari pada Ibunya. Tuhan bicara kepadaku akhirnya. Tidak dengan kata-kata, itu seperti semangat yang menembus hati dengan tiba-tiba. Lalu seperti orang gila yang tidak begitu menyadari apa yang dia kerjakan, Tamin menikahi anaknya, seorang gadis semuda Sumi. Itu terjadi tidak sebulan sesudah perkenalannya.
            Dua bulan sesudah itu, Tamin pergi jauh ke perbatasan. Sembilan bulan kemudian, isterinya melahirkan anak. Anak laki-laki, anaknya. Betapa gembira hatinya untuk menjadi seorang ayah, namun tidaklah seperti kehendak tuhan. Ia tak pernah memandangi wajah anak sendiri dan tak dapat memberi pelukan terakhir kepada istrinya. Mereka meninggal di rumah bersalin. Ketika ia pulang, ayahnya menyerahkan kalung yang pernah Tamin belikan untuk isterinya. Ayahnya berkata, itu haknya untuk menerima kembali dan berpesan supaya Tamin dapat menyimpannya sebagai kenangan
Dan Tamin juga bilang kalau kalung yang ia gunakan sebagai tambahan sawah adalah kalung yang pernah ia berikan untuk isterinya. Tamin memang kuat untuk melupakan itu semua. Dan Ibunya ternyata melihat ia bertemu dengan Isah di kelok jalan itu. Ibunya ternyata berdiri di pojok kebun dan hatinya berteriak kegirangan. Lantaran dengan jelas ia melihat bagaimana Isah berdiri dan menundukkan mukanya malu. Bagaimana mukanya yang jadi merah. Jika datang waktunya Tamin harus memilih, semoga Tuhan memberikan petunjuk-Nya.


KEBOHONGAN



            Pendapa kelurahan telah ramai. Malam itu adalah malam pertama kali Tamin menampakkan diri di antara orang ramai sejak kembali ke desanya. Kini ia dianggap sudah dewasa. Inti dari keputusan itu adalah Desa hendak memperbaiki makam Pardan dan Gamik sebagai penghargaan atas jasa-jasa mereka. Pak Lurah yang hendak menyediakan semen dan kapur. Pak jais, penduduk yang paling kaya diwajibkan menyediakan makanan kelak untuk pekerjanya.
            Cerita kematian Gamik menjadi acara yang paling menarik, sekalipun itu telah berulang kali didengar. Lalu yang lain menceritakan pengalamannya ketika ditawan, betapa siksaan yang diderita selama itu.
            Dan ada salah seorang yang ingin tahu tentang pengalaman Tamin, dan ia bertanya pada Tamin. Dan akhirnya karena terus ditanya oleh salah seorang yang ada di pendapa. Tamin akhirnya bercerita bahwa ia meninggalkan Burma bersama dengan rombongan heiho yang paling akhir. Kapal yang ia tumpangi hanya berlabuh di Tanjung Priuk. Itu sebenarnya ia hanya dapat menggabungkan diri dengan beberapa bekas heiho ke dalam Laskar Rakyat dan bersumpah bersama tak hendak pulang ke kampung kembali sebelum perjuangn berakhir. Itu terlalu pendek untuk sebuah cerita.
            Lalu dengan suara terputus-putus, kata demi kata mencari-cari, ia menceritakan tentang pertempuran di Gunung Putrid an Gunung Cupu, di pinggir Tasik. Dan jika cerita itu berakhir dadanya terasa kosong. Semua itu tipuan tentunya, buah khayalan yang di paksakan.
            Ketika beberapa orang berdiri untuk pulang, Tamin terasa gembira seperti seorang tahanan yang keluar dari pemeriksaan pertama. Ia ikut berdiri dan meninggalkan pendapa dengan nafas lega.
            Di jalan ia mencoba menghafalkan apa yang ia ceritakan tadi, karena mungkin ada orang yang tidak berangkat ingin tahu pengalaman Tamin.
            Sampai di rumah, ia hanya menghabiskan setengah hidangan yang disajikan Sumi. Dan Sumi melihat wajah kakaknya yang murung itu. Sumi terus bertanya tentang keadaannya dan maminta Tamin untuk menembang lagi. Karena Tamin marah ia mencari alasan kalau ia belum menutup jalan air dan ia hendak ke sawah.
Itu satu dusta lagi tentunya.
            Ia pergi ke sawah dan memejamkan matanya di gubuk. Paginya Tamin turun dari gubuk, dan melangkah menuju rumahnya.
            Dan sesampainya di rumah ayahnya menanyakan kalau semalam Tamin tak ada di rumah. Dan Tamin mengangguk dan menjelaskan kalau semalam ia tidur di gubuk, karena ia merasa kalau ada seseorang yang mengganggu jalan airnya. Itu merupakan satu dusta lagi.
            Ia melangkah ke dalam. Ia membuka bajunya yang basah dan menggantinya dengan yang kering. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas balai-balai. Dan ketika ia membuka matanya Ibunya datang dari dapur dengan membawa secangkir kopi. Ibunya cemas karena wajah Tamin pucat dan ia menanyakan kepada Tamin apakah Tamin sakit. Adalah benar yang ditanyakan ibunya, Tamin sakit, demam disekujur tubuhnya.
            Sudah tiga hari Tamin tidak ke sawah. Dan perbaikan makam Gamik dan Pardan sedang dilakukan. Alhamdulillah Tuhan telah menolongnya dari semua partanyaan yang ia takutkan dari orang-orang yang tidak datang di acara perencanaan perbaikan makam Gamik dan Pardan.
            Setelah Tamin sembuh, tetapi wajahnya masih pucat. Dia menghadiri upacara penutupan. Dan setelah upacara selesai dia pulang.
            Datang di rumah, ibunya menanyakan tentang upacara itu dan ia mencari-cari alasan.
            Lalu datanglah Sumi lewat kebun belakang. Ia menceritakan Isah yang cantik sekali pagi itu, betapa air matanya meleleh selama mengikuti upacara, dan rasa iri yang disembunyikan ia berkata, betapa semua mata jejaka kampung mengerling Isah. Dan mereka juga menanyakan kebaya ini. Aku bilang ini pemberian kakakku, dia yang memilih warna dan citanya. Seluruh mata perawan-perawan menatapnya tak percaya,’Tamin’?
            Tetapi Tamin tidak mendengarkan itu semua. Ia pergi ke sawah.
            Malam harinya setelah Tamin dari sawah, ada seseorang yang memanggilnya, ia adalah Pak Banji. Pak Banji lupa bilang kalau jadwal jaga nanti malam adalah Tamin.
            Malamnya menjelang jaga, Tamin pergi ke pos kamling lalu berkeliling memutari desa dan teman-temannya sambil bercerita. Tetapi setelah ceritanya habis, mereka meminta Tamin untuk bercerita. Dan Tamin bingung mau cerita apa. Ternyata ada salah satu dari mereka yang tidak datang di acara perbaikan makam Gamik dan Pardan. Lalu Tamin menceritakan sedikit demi sedikit sambil berkhayal. Dan tong-tong subuh di masjid menyebabkan mereka berdiri serentak, dan Tamin akhirnya bebas dari kebohongannya.
            Dan sesampainya di rumah.
            Sumi bercerita kalau semalam Pak Makin datang dan bercerita tentang pengalaman Tamin, ketika Tamin berjuang di Lereng Gunung Cupu, di Pasundan. Tetapi Tamin tak ingin mendengar cerita itu. Dan Sumi tetap ingin tahu ada peristiwa apa dibalik cerita itu.
            Dan tiba-tiba tangan Tamin melayang di pipi Sumi.




PERGI



            Matahari sudah tinggi. Tamin berjalan dan terus berjalan, dia tidak tahu mau kemana. Akhirnya sudah lama ia berjalan ia sudah keluar dari desanya. Akhirnya kakinya terasa berat digerakkan dan kepalanya mulai pusing. Matahari telah rendah. Dia berdiri di pinggir bengawan, matanya masih tetap mengawasi putaran air dan kepalanya bertambah pening, tanah yang diinjaknya lalu seperti mulai bergoyang. Tamin terkejut merasai tapak tangan memegang pundaknya dari belakang. Dan ternyata orang laki-laki. Tamin menceritakan kalau dia pergi dari desanya karena ia tidak menemukan kedamaian yang ia harapkan berada di keluarganya.
            Akhirnya Tamin ikut bersama laki-laki itu menuju Laut. Dan ia melihat seorang anak yang digendong ibunya. Ternyata ibu itu isteri laki-laki itu.
            Malam telah berlalu.
            Akhirnya perahu yang ditumpangi sudah sampai di pinggir kota Surabaya.
            Dan Tamin menelusuri aspal menuju kota.




KEMATIAN AYAHNYA




            Empat bulan matanya bertambah dalam, wajahnya bertambah kering. Ia tak dapat melupakan hari-harinya yang telah lalu, separo jiwanya tinggal di desa. Pagi-pagi benar ketika ia duduk di pojok gudang melihat seorang yang telah tua, ia kenal orang itu, itu adalah Pak Banji.
            Dan Pak Banji berharap kalau Tamin mau pulang dan ia menceritakan kejadian di rumahnya, kalau ayahnya telah meninggal. Ibunya cukup kuat, tetapi Sumi setiap malam menangis karena rindunya pada Tamin.
            Tetapi Tamin masih takut kalau orang di desanya marah kepadanya. Dan Pak Banji menceritakan kalau semenjak Tamin pergi, sewaktu musim panen seluruh desa memotong padi dengan bergotong royong tanpa mengambil segentang padinya sebagai upah. Mereka kagum kalau Tamin dapat mengerjakan sawah ini.
            Dan Tamin berjanji akan pulang
            Tamin berjalan menelusuri sungai, ia hendak ‘menemui’ ayahnya dulu sebelum menemui ibu dan adiknya.




KEMBALI KE RUMAH




            Lama ia berdiri menghadap makam ayahnya. Ia tak hendak menangis, ia ingin dapat menahan air matanya. Ia mencium nisan ayahnya dan air mata yang ditahan ternyata jatuh jua. Di hadapannya berdiri Sumi dengan mata terbelalak. Dan Tamin minta maaf karena sudah meninggalkan rumah tnpa pamit.
            Nanti malam di rumah Tamin akan diadakan acara selamatan, dan seluruh kampung akan diundang. Mereka telah menolongnya sejak Tamin pergi.
            Mereka berdua meninggalkan pusara ayahnya.
            Sumi bercerita tentang Isah yang selalu menangis karena Tamin pergi karena rindu suara Tamin setiap malam. Dan malam ini Tamin ingin menembang untuk Sumi dan Isah.


TAMAT








KOMENTAR





            Novel karya Toha Muhtar yang berjudul ‘PULANG’ bahasanya sulit dipahami, karena menerangkan orang itu sangat detail sampai kebagian yang paling kecil. Ada kalanya menceritakan muka, postur tubuh, pakaian sangat detail. Serta menerangkan suasana atau kondisi desa juga seperti kenyataan. Seharusnya jangan terlalu mendetail supaya dapat dipahami oleh pembaca. Itu membuat saya sulit memahaminya. Banyak kata-kata yang digunakan di zaman perang melawan Belanda yang saya tidak tahu artinya. Seperti heiho, roda cikar, gerilya, dan lain-lain. Dan juga banyak bercerita tentang perang yang sulit dipahami. Dan dicerita itu juga ada kebohongan yang diceritakan.
            Seharusnya cerita kebohongan jangan diceritakan karena dapat menjadi contoh kurang baik. Banyak sekali cerita kebohongan yang diceritakan oleh novel tersebut. Alurnya juga menggunakan alur campuran.
Covernya juga kurang menarik, seharusnya bergambar seoarang laki-laki dan sebuah rumah, atau seorang laki-laki yang bertemu keluarganya di depan rumahnya, karena berjudul ‘Pulang’ tetapi malah bergambar entah hantu atau orang yang dimaksudkan karena tidak berwujud orang hanya bergambar ada kepala tapi kakinya tidak kelihatan dan seharusnya itu bukan matahari yang dihadapannya, tetapi seharusnya sebuah desa, dan seseorang yang di tepi lautan yang sedang menghadap matahari yang akan tenggelam karena waktu senja itu kurang pas untuk menjadi cover novel yang berjudul ‘Pulang’. Dan warna cover juga kurang menarik, seharusnya laut warnanya bukan hijau, tetapi karena waktu sedang senja warna yang bagus adalah warna orange atau kuning karena pantulan dari cahaya matahari yang akan tenggelam di tepi laut.
            Dan di novel tersebut jika menyebut ibu itu engkau, bukan ibu atau mama dan lain-lain sehingga kurang sopan padahal menyebut seorang ibu. Kalau ke teman atau saudara memang pantas tapi kalau menyebut ‘engkau’ untuk seorang ibu tidak sopan. Dan engkau itu juga tidak pantas untuk orang yang lebih tua dari kita apalagi untuk seorang ibu yang melahirkan kita membesarkan kita dan memberi kasih sayang yang tulus untuk kita tidak pantas menyebutnya dengan sebutan ‘engkau’. Dan kita juga harus sopan kepada kedua orang tua.
            Novel karya Toha Muhtar tempat-tempatnya kurang bisa dipahami, karena setelah menceritakan sawah nanti tiba-tiba di rumah lalu tidak disebutkan juga letak sawah itu di depan rumah atau di tepi jalan atau juga di tepi kebun. Desa tersebut juga tidak disebutkan berada di desa mana. Hanya saja disebutkan di tepi Gunung Wilis.
            Jalan cerita novel tersebut itu dimulai dari zaman perang, karena sewaktu Tamin menjadi heiho, ia menikahi anak petani dan seharusnya itu harus diceritakan. Tidak harus diceritakan dari ia pulang ke rumah. Tetapi dari ia sebagai heiho.
            Novel tersebut jika mau menceritakan tokoh, seharusnya di depan terlebih dahulu sedikit diperkenalkan. Seperti Isah yang menjadi tokoh itu seharusnya diceritakan sewaktu Ibu Tamin menceritakan satu demi satu teman Tamin. Karena waktu Ibu Tamin menceritakan satu demi satu temannya, Gamik juga diceritakan padahal Gamik itu kakak Isah. Jadi, Ibu Tamin itu juga ikut menceritakan Isah. Supaya nanti dalam ceritanya mudah dipahami.



UNSUR INTRINSIK





Ø  Tema
ü  Kedamaian yang dicari di rumah. Tema ini diambil berdasarkan isi novel tersebut, yaitu seorang anak pulang dari pengembaraannya sebagai heiho, dan ingin mencari kedamaian yang ia harapkan ada di rumahnya.
Ø  Alur
ü  Alur yang digunakan adalah alur campuran karena bercerita sewaktu menjadi heiho, contoh: Sewaktu sedang ronda teman-teman Tamin menanyakan pengalaman yang dialaminya. Pengalamannya sebagai heiho. Orang tua Tamin juga sewaktu Tamin pulang mereka ingin tahu pengalaman Tamin selama tujuh tahun sebagai heiho.
Ø  Sudut Pandang
ü  Sudut Pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga, karena penulis tidak terjun langsung dalam cerita atau tidak termasuk dalam cerita tidak ikut dalam dialog langsung.
Ø  Setting
ü  Waktu              : Pagi hari, siang hari, sore hari
ü  Tempat                        : Rumah, sawah, pendapa, pasar, pos kamling, tepi bengawan, Kota Surabaya, makam ayahnya.
ü  Suasana           : Sepi, berada di makam Ayahnya. Ramai, berada di pasar.
Ø  Tokoh
ü  Tamin, Ayah Tamin, Ibu Tamin, Sumi, Pak Banji, Isah.
Ø  Penokohan
ü  Tamin : Berbakti pada orang tua. Contoh kutipan yang menyatakan Tamin berbakti pada kedua orang tua adalah:
“Kalung itu sudah kujual, Mak. Dengan tambahan persediaan membeli sapi, sawah kita harus kembali. Semoga Pak Jais tidak sulit mengerti. Itu sudah cukup, berapa musim ia mengerjakan sawah kita.”
Pembohong atau pendusta, karena bercerita tidak berdasarkan kenyataan kepada tetangganya tentang pengalamannya selama tujuh tahun. Contoh kutipannya:
“Saya tidur di gubuk. Ada rasa seperti orang hendak mengganggu jalannya air. Itu suatu dusta lagi dan kini kepada Ayahnya.”
ü  Ibu Tamin : Dapat merasakan kegundahan yang dirasakan anak. Contoh kutipannya:
“Tujuh tahun adalah lama, Tamin. Engkau menceritakan hanya tentang perjalananmu. Dan masih adakah cerita yang engkau berat hendak menyampaikan? Kadang-kadang aku cemas melihatmu.”
Penyayang, karena terus berdo’a untuk keselamatan anaknya sewaktu perang. Contoh kutipannya:
“Mereka mengira engkau tidak akan pulang, tetapi aku terus berdoa untukmu.”
ü  Ayah Tamin : Tidak dapat menjaga sawahnya dengan baik, karenanya Isterinya menjual pada orang lain. Contoh kutipannya:
“Makmu sudah berbicara kepadaku. Itu telah terjadi dan aku tak bisa berbuat lain, kukira engkau akan dapat mengerti seluruhnya. Akulah Tamin, yang berdosa!”
ü  Sumi : Penyayang, karena selalu membawakan makanan untuk kakaknya yang sedang bekerja di sawah. Dan membantunya menyebarkan bibit. Contoh kutipannya:
Kala itu Sumi mengirim makanan ke sawah untuk Tamin yang sedang bekerja di sawah.
ü  Pak Banji : Ramah, karena selalu tersenyum ketika bertemu dengan orang lain. Suka menolong, karena dapat membujuk Tamin untuk pulang. Contoh kutipannya:
“Pulanglah Tamin! Kukira Cuma itu yang paling baik untukmu dan seisi rumah.”
Ø  Amanat           :
ü  Berbaktilah kepada kedua orang tua.
ü  Jaga pemberian orang tua dengan baik.
ü  Bantu kedua orang tua ketika sedang mengalami masalah.
ü  Janji harus ditepati.
ü  Jangan berbohong.