Páginas

Rabu, 29 Oktober 2014

Sinopsis Novel Pulang Ke Kampung



PULANG KE KAMPUNG



            Telah tujuh tahun Tamin meninggalkan keluarga, rumah, desa, serta sawahnya. Rasanya tidaklah seperti menginjakkan kaki atas tanah sendiri. Ia pernah merasai hujan di mana-mana, sebagai serdadu pernah bergelut dengan lumpurnya jauh diseberang laut, tetapi ini, di mana dia berdiri di pinggir desanya untuk pertama kali, ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tersendiri, yang selama ini mampu menghidupkan mimpi dan kenangan yang begitu indah.Tamin teringat masa kecilnya di desa ini saat membantu ayahnya menggembala kerbau
            Pulang dapat lebih menggelorakan hati daripada mengalami pertemuan dengan keluarga kembali. Sayang wajah ibunya yang bersih dan pandangnya yang menentramkan, rambutnya yang telah separo putih, matanya hitam sejuk itu, apa yang bisa terjadi selama tujuh tahun ini? Betapa pula wajah ayahnya yang telah tua itu, wajah yang berkerut-kerut dengan alis kelabu tebal,memayungi matanya yang kecil, dan telah bersembunyi jauh ke dalam.
Langkah demi langkah ia bergerak, Matahari telah menyembuyikan diri seluruhnya di balik Gunung Wilis. Turunnya senja disambut oleh kesepian burung-burung yang pulang sarang malas berkicau. Sepanjang jalan ia tidak bertemu dengan orang dari desanya. Sesampainya di depan rumahnya, ia masih berdiri di samping pagar. Lalu tiba-tiba dia mendengar suara batuk ayahnya yang telah tujuh tahun lamanya ia tak mendengarnya lagi. Dengan muka yang berubah warna dan bibir gemeteran, lalu di balik pintu dia melihat perempuan tua itu. Ia mengaku pada Ibunya bahwa ia Tamin.
Akhirnya perempuan tua itu menjulurkan tangannya dan berpelukan.Ia menangis. Lalu perempuan tua itu memanggil suaminya dan Sumi yang sibuk di dapur belakang. Ayahnya keluar dari ambang pintu dan berkali-kali mengucapkan nama anaknya. Dan Sumi keluar matanya memandangi orang asing yang tak dikenalnya. Ayahnya memperkenalkan Sumi bahwa Sumi adiknya.
 Tamin bercerita tentang bocah berusia sembilan tahun. Betapa takut ayahnya pada Yamaguchi, Dia telah meninggalkn istri dan telah mati di perbatasan Burma, dua tahun setelah dari desanya. Dan ia menanyakan satu demi satu temannya pada ibunya.
Ibunya menceritakan satu demi satu. Pardan  telah tak ada, Ia pergi ke Surabaya pada zaman perang melawan Nica. Seminggu sesudah itu, jenazahnya dibawa pulang. Dan Gamik, Tuhan itu Maha Adil, ketika musim hujan seperti ini, serdadu Belanda mencari pemuda dan tentara di kampung mereka. Ia bersama keenam temannya memberi perlawanan, dan temannya berhasil lolos, tapi tinggal dirinya. Dia diketemukan di pinggir pematang dengan tubuh yang terobek peluru. Mawardi yang hilang di kaki Gunung Wilis sebelah tenggara, yang tak pernah ditemukan mayatnya sampai kini. Dulmanan dan Imam yang telah menikah dan pindah ke luar kota.
Setelah hari bertambah gelap, udara dingin menyelimuti kampung.
Dan ayahnya ingin tahu pengalaman yang ia dapatkan selama 7 tahun di negeri orang
Tamin menjelaskan bahwa ia pergi cuma sebagai heiho. Kewajibannya berkelahi dan menembak. Negara yang ia datangi adalah Negara Burma.
Dan Ibunya ingin ia tak pergi lagi.
Sesaat sebelum tintir kehabisan cahaya, Tamin masih dapat melihat adiknya tidur di atas tikar bawah. Ia tidak pernah mengira adiknya akan semanis itu.





PERANG, TANAH HILANG




            Pagi-pagi Tamin telah terbangun. Tapi kalah bangun dengan adiknya yang sudah berada di dapur. Ia hendak ke kebun. Dan ia menanyakan kemana ibunya.
            Setelah dia berjalan keluar dia melihat kandang sapi di samping rumah, masih tetap seperti ia pergi. Tanah bawahnya telah rapat ditumbuhi rumput tak terpelihara. Ia tahu kalau ayahnya sudah tidak kuat lagi mengerjakan sawahnya. Diambilnya pacul dan dia mulai membersihkan kandang sapi. Kayu-kayuan yang tersebar ia gabung jadi satu. Karena ia berkeringat ia lepas bajunya itu. Terlihat tubuhnya yang penuh.
            Sumi menanyakan apa yang sedang dilakukan kakaknya itu. Karena di kandang sapi tidak ada seekor sapi pun. Dan Tamin berencana akan membeli sapi besok di pasar, dan ia juga besok akan membawa adiknya ke Toko. Pilih cita yang indah, warna yang Adiknya senangi dan ambil kain yang cocok. Dan Sumi senang lalu ia mengambil nangka yang esok hendak dibawanya ke kota.
            Tamin hendak mengikuti Sumi, tapi ketika berdiri matanya tertumbuk pada ibunya yang berdiri di pojok rumah.
            Lalu Tamin menceritakan kalau ia dengan Sumi besok hendak ke kota untuk membeli sapi. Tapi Ibunya bercerita kalau sapi itu tidak berguna lagi untuk mereka. Inilah yang hendak ibunya katakan padanya. Ternyata ketika Tamin tak ada, rumahnya mengalami kesulitan yang tak dapat dipikul dan jawaban untuk itu Cuma satu: Tanah. Mereka sudah tak punya uang lagi.
            Ia ingat betapa dahulu ayah Mereka berada di tengah sawah kala itu berpesan bahwa ia harus menjaga tanah itu, tanah itu adalah tanah yang terbaik di seluruh desa, lantaran dibatasi oleh kali yang tidak pernah kering sepanjang musim. Cintailah seperti juga neneknya mengajarkan kepada ayahnya. Gantungkan pengharapan hidup di sini dan bila datang masanya Tamin memegang sendiri, jangan dilepaskan meski sejengkal. Karena tanah itu telah menghidupi nenek moyangnya.
            Kini ia sudah pulang dari pengembaraannya, sebagai heiho selama tujuh tahun. Pulang dengan segala pengharapan dan cita-cita untuk melanjutkan pesan ayahnya, tapi tanah itu sudah ditangan orang lain. Dan Tamin akhirnya mengerti.
            Ibunya seorang diri bersama Sumi melawan maut. Tapi Ibunya sudah tua, sedang Sumi belum dewasa. Akhirnya Ibunya Cuma melihat satu jalan untuk menolong ayah, yaitu:Tanah. Dan dia hendak mengembalikan tanahnya kembali.
            Tamin pergi keluar rumah, dan menyusuri desa.
            Matahari telah bertambah rendah, Puncak Gunung Wilis tinggal sepenggalah saja tampaknya. Tamin pergi ke sawah yang sekarang tak lagi menjadi miliknya. Ia menunduk, mengambil segenggam tanah. Mesra tangan memegangnya dan hatinya menjerit.
            Matahari telah tak tampak dipuncak Gunung Wilis telah hilang menembus mendung. Ia melangkah ke pematangan, berjalan menuju rumahnya. Pada setiap langkah seperti ada yang memanggilnya. “Tanah itu harus kembali”
            Sumi melihat kakangnya di ambang pintu. Dan ia bertanya, apakah esok mereka jadi ke kota karena tak ada ada gunanya lagi pergi ke kota lantaran mereka tak butuh sapi lagi. Tetapi Tamin tetap mengajak adiknya ke kota ia sudah berjanji pada adiknya akan membelikan cita sutra, dan memilih kain batik di pasar.





TANAH KEMBALI



            Ia berjongkok membuka ranselnya dengan tangan gemetar. Diantara tumpukan bajunya yang belum dibuka sejak ia datang, terdapat sekotak kaleng. Dibukanya kotak kaleng itu, meski dalam gelap ia tahu itu adalah uang simpanan yang diharapkan untuk cukup membeli seekor sapi dewasa. Ia seperti tak menjamah uang itu. Di dasar di bawah uang itu terdapat lipatan kain putih sebesar ibu jari. Dan ketika digenggamnya terasa hangat, seperti belum lama orang lain menggenggamnya. Benda yang ada dalam genggamannya kini bukankah itu pernah dibawanya melampaui darat, maut dan perkelahian, dan ia pernah berjnji kepada diri sendiri tak hendak melepaskannya sampai mati. Ia kembali pada hari dalam pengembaranya, ketika pertama kali di dalam hidupnya ia bertemu dengan seorang gadis yang punya mata sejernih bintang.
            Ketika mereka sedang duduk-duduk.
            Tamin bilang kepada ayahnya bahwa benda ini punya sejarah dan separo hatinya telah terpaut padanya. Ia dibawa melampaui maut, darah dan perkelahian. Dengan tambahan ini, sawah hendak di tebusnya, sebab bukankah ke sana mereka dapat menemui jiwa mereka?
            Pagi-pagi sekali Tamin dan Sumi pergi ke kota.
            Mereka naik kereta, mereka harus pulang sehabis lohor karena masih banyak yang harus dikerjakan.
            Mereka turun di depan sebuah toko yang besar dengan etalase yang terisi beraneka ragam barang jualan. Toko itu ramai dikunjungi orang.
            Dan Sumi di beri waktu untuk memilih pakaian mana yang ia suka. Tetapi Sumi takut. Isah. Ia biasa berkata pada setiap cita yang ia beli. Tetapi Tamin tidak tahu Isah itu siapa, akhirnya adiknya menceritakan kalau Isah itu anak Pak Makin, adiknya Gamik, sahabat Tamin dulu. Dan semua gadis-gadis biasa meminta pertolongan kepadanya jika hendak membeli cita. Isah itu memiliki mata paling bening di seluruh desa dan panas matahari tidak mampu menghitamkan kulitnya. Lalu Tamin memilihkan warna yang cocok.
            Menjelang lohor mereka telah sampai rumah. Sumi menjepit bungkusan cita dan kain batik, Tamin membawa tiga ekor ayam biang yang dibelinya di pasar. Dan kalung itu sudah ia jual.
            Pelaksanaan penebusan sawah berjalan lancar. Pak Jais menghadapi Tamin tanpa tuntutan harga. Pak Lurah Kabul memudahkan masuknya pengertian dalam kepalanya. Sawah itu kembali dengan sah.
            Sejak hari itu, Tamin menghabiskan siangnya di tengah sawah.
            Dan pertama kali ia menembang menjelang malam, seluruh kampung seperti tersentak karenanya. Kisah itu dalam bahasa Kawi, disusun dalam bentuk tembang lagu Asmaradana, susunan itu begitu indah dan jadi hidup dalam bayangan setiap pendengarnya yang mengenal bahasa itu.
            Esok harinya Tamin pergi ke sawah. Dan siang itu yang begitu terik, Sumi membawa makanan untuk Tamin, ada seseorng yang mengikutinya dari belakang membawa rantang pula, ikut berlompat-lompat dengan mengangkat kainnya setinggi betis, seperti takut akan basah karena Lumpur pematang yang belum kering. Ia seorang gadis pula, sama besar dengan adiknya, memakai kebaya merah darah berbunga bintik-bintik putih. Siapa dia? Tamin mencoba mengingat-ingat, tetapi ia tidak dapat menemukan. Kini bergerak bertambah dekat dan jelas menuju gubuknya. Lalu pada jarak tiga pematang Sumi tersenyum, menoleh dan gadis berbaju merah membelok ke arah sawah yang lain menyambut dengan senyum pula. Dan jarak itu bagi Tamin cukup untuk mengetahui, betapa bersih tangan gadis itu yang keluar dari lengan bajunya yang digulung setinggi siku, dan betapa bulat wajahnya, matanya yang bening. Panas matahari tak kuasa menghitamkan kulitnya. Siapa pernah berkata demikian? Dia mencoba mengingatnya.
            Ia ingat kini, adalah Sumi yang mengatakan di dalam toko cita bawah. Kulit yang bersih itu tak hendak hitam oleh panas surya. Gadis itu harus bernama Isah.
            Esok harinya dan esoknya lagi, kedatangan Sumi tidak lagi seorang diri, Tamin selalu mengawasi orang yang di belakang Sumi, tapi hari itu Tamin tidak melihat orang yang mengikuti adiknya.
            Ia diam, menghabiskan hidangan yang dibawa adiknya tanpa kata, dan Sumi memandangi sawah yang telah selesai digaru. Ternyata Isah tidak ke sawah lantaran Pak Makin sedang sakit. Ia mengetahui itu semua dari adiknya karena adiknya melihat wajahnya yang murung.
            Hari-hari berjalan jua. Musim menyebar bibit telah lewat, padi yang ditanam mulai menghijau rapat. Kerja berat telah berlalu.




CERITA PENGALAMAN




            Matahari lurus di atas kepala. Tamin berdiri tegak dekat gubuk seperti seorang jenderal yang sedang mengawasi balatentaranya. Langit di atas bersih sekali, mendung telah lari ke barat dan jatuh di kaki Gunung Wilis.
            Lalu terdengar suara memanggil namanya. Tamin menoleh dan ia melihat seorang tua yang masih tegap tubuhnya. Rambutnya yang telah separo putih. Ia adalah Pak Banji. Pak Banji kagum kepada tubuh Tamin yang padat itu.
            Pak Banji meminta Tamin untuk ke pendapa nanti malam karena akan ada acara perbaikan makam Gamik dan Pardan. Gamik dan Pardan adalah sahabatnya sewaktu kecil.
            Hari masih panas, dan Tamin meninggalkan sawahnya. Di belokan jalan ia melihat seorang gadis yang berhenti pula seperti dia, dia adalah Isah pada jarak empat langkah, jarak yang sedekat itu ia dapat melihat. Memakai pakaian yang seperti pertama kali ia melihatnya. Benar kata Sumi, bahwa mata yang sesaat masih berani menatap matanya itu bening sekali, dan terlalu lembut senyum yang melintasi bibirnya. Dan Tamin bertanya kepada Isah, apakah dia anak Pak Makin? Dan Isah juga bertanya, apakah Tamin kakaknya Sumi?
            Cuma itu percakapan mereka. Sesudah itu tak ada lagi. Sejenak saling termangu, lalu saling melanjutkan langkahnya yang jadi berat.
            Malam harinya sesudah mandi Tamin duduk di atas balai-balai menghadap secangkir kopi. Ayahnya ke rumah Pak Usup, adiknya ke rumah Lurah Kabul. Ibunya mendekatinya. Dan Ibunya bertanya, apakah masih ada cerita yang berat Tamin hendak menyampaikan? Dan Ibunya melihat mata Tamin yang terlalu jauh.
            Dan Tamin mengangguk. Ia lalu bercerita kepada Ibunya, kalau memang ada sesuatu yang tersimpan dalam hati. Dan ibunya berhak mengetahuinya lantaran Tamin anaknya. Dan apakah Ibunya masih ingat kematian Yamaguchi? Ini terjadi satu musim dengan kematiannya. Lantaran rindunya pada rumah, mengenang Ibunya, ayahnya dan Sumi adiknya. Itu sebabnya jika ada masanya Tamin mendapat istirahat, ia pergi ke desa-desa menelusuri kali-kali dan sawah.
            Di tengah ladang seperti itu, Tamin mendapat seorang sahabat. Ia seorang petani, sama tuanya dengan bapaknya. Ia membawanya pulang ke rumahnya, dan dia melihat istri petani, Istri petani sedikit lebih muda dari pada Ibunya. Tuhan bicara kepadaku akhirnya. Tidak dengan kata-kata, itu seperti semangat yang menembus hati dengan tiba-tiba. Lalu seperti orang gila yang tidak begitu menyadari apa yang dia kerjakan, Tamin menikahi anaknya, seorang gadis semuda Sumi. Itu terjadi tidak sebulan sesudah perkenalannya.
            Dua bulan sesudah itu, Tamin pergi jauh ke perbatasan. Sembilan bulan kemudian, isterinya melahirkan anak. Anak laki-laki, anaknya. Betapa gembira hatinya untuk menjadi seorang ayah, namun tidaklah seperti kehendak tuhan. Ia tak pernah memandangi wajah anak sendiri dan tak dapat memberi pelukan terakhir kepada istrinya. Mereka meninggal di rumah bersalin. Ketika ia pulang, ayahnya menyerahkan kalung yang pernah Tamin belikan untuk isterinya. Ayahnya berkata, itu haknya untuk menerima kembali dan berpesan supaya Tamin dapat menyimpannya sebagai kenangan
Dan Tamin juga bilang kalau kalung yang ia gunakan sebagai tambahan sawah adalah kalung yang pernah ia berikan untuk isterinya. Tamin memang kuat untuk melupakan itu semua. Dan Ibunya ternyata melihat ia bertemu dengan Isah di kelok jalan itu. Ibunya ternyata berdiri di pojok kebun dan hatinya berteriak kegirangan. Lantaran dengan jelas ia melihat bagaimana Isah berdiri dan menundukkan mukanya malu. Bagaimana mukanya yang jadi merah. Jika datang waktunya Tamin harus memilih, semoga Tuhan memberikan petunjuk-Nya.


KEBOHONGAN



            Pendapa kelurahan telah ramai. Malam itu adalah malam pertama kali Tamin menampakkan diri di antara orang ramai sejak kembali ke desanya. Kini ia dianggap sudah dewasa. Inti dari keputusan itu adalah Desa hendak memperbaiki makam Pardan dan Gamik sebagai penghargaan atas jasa-jasa mereka. Pak Lurah yang hendak menyediakan semen dan kapur. Pak jais, penduduk yang paling kaya diwajibkan menyediakan makanan kelak untuk pekerjanya.
            Cerita kematian Gamik menjadi acara yang paling menarik, sekalipun itu telah berulang kali didengar. Lalu yang lain menceritakan pengalamannya ketika ditawan, betapa siksaan yang diderita selama itu.
            Dan ada salah seorang yang ingin tahu tentang pengalaman Tamin, dan ia bertanya pada Tamin. Dan akhirnya karena terus ditanya oleh salah seorang yang ada di pendapa. Tamin akhirnya bercerita bahwa ia meninggalkan Burma bersama dengan rombongan heiho yang paling akhir. Kapal yang ia tumpangi hanya berlabuh di Tanjung Priuk. Itu sebenarnya ia hanya dapat menggabungkan diri dengan beberapa bekas heiho ke dalam Laskar Rakyat dan bersumpah bersama tak hendak pulang ke kampung kembali sebelum perjuangn berakhir. Itu terlalu pendek untuk sebuah cerita.
            Lalu dengan suara terputus-putus, kata demi kata mencari-cari, ia menceritakan tentang pertempuran di Gunung Putrid an Gunung Cupu, di pinggir Tasik. Dan jika cerita itu berakhir dadanya terasa kosong. Semua itu tipuan tentunya, buah khayalan yang di paksakan.
            Ketika beberapa orang berdiri untuk pulang, Tamin terasa gembira seperti seorang tahanan yang keluar dari pemeriksaan pertama. Ia ikut berdiri dan meninggalkan pendapa dengan nafas lega.
            Di jalan ia mencoba menghafalkan apa yang ia ceritakan tadi, karena mungkin ada orang yang tidak berangkat ingin tahu pengalaman Tamin.
            Sampai di rumah, ia hanya menghabiskan setengah hidangan yang disajikan Sumi. Dan Sumi melihat wajah kakaknya yang murung itu. Sumi terus bertanya tentang keadaannya dan maminta Tamin untuk menembang lagi. Karena Tamin marah ia mencari alasan kalau ia belum menutup jalan air dan ia hendak ke sawah.
Itu satu dusta lagi tentunya.
            Ia pergi ke sawah dan memejamkan matanya di gubuk. Paginya Tamin turun dari gubuk, dan melangkah menuju rumahnya.
            Dan sesampainya di rumah ayahnya menanyakan kalau semalam Tamin tak ada di rumah. Dan Tamin mengangguk dan menjelaskan kalau semalam ia tidur di gubuk, karena ia merasa kalau ada seseorang yang mengganggu jalan airnya. Itu merupakan satu dusta lagi.
            Ia melangkah ke dalam. Ia membuka bajunya yang basah dan menggantinya dengan yang kering. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas balai-balai. Dan ketika ia membuka matanya Ibunya datang dari dapur dengan membawa secangkir kopi. Ibunya cemas karena wajah Tamin pucat dan ia menanyakan kepada Tamin apakah Tamin sakit. Adalah benar yang ditanyakan ibunya, Tamin sakit, demam disekujur tubuhnya.
            Sudah tiga hari Tamin tidak ke sawah. Dan perbaikan makam Gamik dan Pardan sedang dilakukan. Alhamdulillah Tuhan telah menolongnya dari semua partanyaan yang ia takutkan dari orang-orang yang tidak datang di acara perencanaan perbaikan makam Gamik dan Pardan.
            Setelah Tamin sembuh, tetapi wajahnya masih pucat. Dia menghadiri upacara penutupan. Dan setelah upacara selesai dia pulang.
            Datang di rumah, ibunya menanyakan tentang upacara itu dan ia mencari-cari alasan.
            Lalu datanglah Sumi lewat kebun belakang. Ia menceritakan Isah yang cantik sekali pagi itu, betapa air matanya meleleh selama mengikuti upacara, dan rasa iri yang disembunyikan ia berkata, betapa semua mata jejaka kampung mengerling Isah. Dan mereka juga menanyakan kebaya ini. Aku bilang ini pemberian kakakku, dia yang memilih warna dan citanya. Seluruh mata perawan-perawan menatapnya tak percaya,’Tamin’?
            Tetapi Tamin tidak mendengarkan itu semua. Ia pergi ke sawah.
            Malam harinya setelah Tamin dari sawah, ada seseorang yang memanggilnya, ia adalah Pak Banji. Pak Banji lupa bilang kalau jadwal jaga nanti malam adalah Tamin.
            Malamnya menjelang jaga, Tamin pergi ke pos kamling lalu berkeliling memutari desa dan teman-temannya sambil bercerita. Tetapi setelah ceritanya habis, mereka meminta Tamin untuk bercerita. Dan Tamin bingung mau cerita apa. Ternyata ada salah satu dari mereka yang tidak datang di acara perbaikan makam Gamik dan Pardan. Lalu Tamin menceritakan sedikit demi sedikit sambil berkhayal. Dan tong-tong subuh di masjid menyebabkan mereka berdiri serentak, dan Tamin akhirnya bebas dari kebohongannya.
            Dan sesampainya di rumah.
            Sumi bercerita kalau semalam Pak Makin datang dan bercerita tentang pengalaman Tamin, ketika Tamin berjuang di Lereng Gunung Cupu, di Pasundan. Tetapi Tamin tak ingin mendengar cerita itu. Dan Sumi tetap ingin tahu ada peristiwa apa dibalik cerita itu.
            Dan tiba-tiba tangan Tamin melayang di pipi Sumi.




PERGI



            Matahari sudah tinggi. Tamin berjalan dan terus berjalan, dia tidak tahu mau kemana. Akhirnya sudah lama ia berjalan ia sudah keluar dari desanya. Akhirnya kakinya terasa berat digerakkan dan kepalanya mulai pusing. Matahari telah rendah. Dia berdiri di pinggir bengawan, matanya masih tetap mengawasi putaran air dan kepalanya bertambah pening, tanah yang diinjaknya lalu seperti mulai bergoyang. Tamin terkejut merasai tapak tangan memegang pundaknya dari belakang. Dan ternyata orang laki-laki. Tamin menceritakan kalau dia pergi dari desanya karena ia tidak menemukan kedamaian yang ia harapkan berada di keluarganya.
            Akhirnya Tamin ikut bersama laki-laki itu menuju Laut. Dan ia melihat seorang anak yang digendong ibunya. Ternyata ibu itu isteri laki-laki itu.
            Malam telah berlalu.
            Akhirnya perahu yang ditumpangi sudah sampai di pinggir kota Surabaya.
            Dan Tamin menelusuri aspal menuju kota.




KEMATIAN AYAHNYA




            Empat bulan matanya bertambah dalam, wajahnya bertambah kering. Ia tak dapat melupakan hari-harinya yang telah lalu, separo jiwanya tinggal di desa. Pagi-pagi benar ketika ia duduk di pojok gudang melihat seorang yang telah tua, ia kenal orang itu, itu adalah Pak Banji.
            Dan Pak Banji berharap kalau Tamin mau pulang dan ia menceritakan kejadian di rumahnya, kalau ayahnya telah meninggal. Ibunya cukup kuat, tetapi Sumi setiap malam menangis karena rindunya pada Tamin.
            Tetapi Tamin masih takut kalau orang di desanya marah kepadanya. Dan Pak Banji menceritakan kalau semenjak Tamin pergi, sewaktu musim panen seluruh desa memotong padi dengan bergotong royong tanpa mengambil segentang padinya sebagai upah. Mereka kagum kalau Tamin dapat mengerjakan sawah ini.
            Dan Tamin berjanji akan pulang
            Tamin berjalan menelusuri sungai, ia hendak ‘menemui’ ayahnya dulu sebelum menemui ibu dan adiknya.




KEMBALI KE RUMAH




            Lama ia berdiri menghadap makam ayahnya. Ia tak hendak menangis, ia ingin dapat menahan air matanya. Ia mencium nisan ayahnya dan air mata yang ditahan ternyata jatuh jua. Di hadapannya berdiri Sumi dengan mata terbelalak. Dan Tamin minta maaf karena sudah meninggalkan rumah tnpa pamit.
            Nanti malam di rumah Tamin akan diadakan acara selamatan, dan seluruh kampung akan diundang. Mereka telah menolongnya sejak Tamin pergi.
            Mereka berdua meninggalkan pusara ayahnya.
            Sumi bercerita tentang Isah yang selalu menangis karena Tamin pergi karena rindu suara Tamin setiap malam. Dan malam ini Tamin ingin menembang untuk Sumi dan Isah.


TAMAT








KOMENTAR





            Novel karya Toha Muhtar yang berjudul ‘PULANG’ bahasanya sulit dipahami, karena menerangkan orang itu sangat detail sampai kebagian yang paling kecil. Ada kalanya menceritakan muka, postur tubuh, pakaian sangat detail. Serta menerangkan suasana atau kondisi desa juga seperti kenyataan. Seharusnya jangan terlalu mendetail supaya dapat dipahami oleh pembaca. Itu membuat saya sulit memahaminya. Banyak kata-kata yang digunakan di zaman perang melawan Belanda yang saya tidak tahu artinya. Seperti heiho, roda cikar, gerilya, dan lain-lain. Dan juga banyak bercerita tentang perang yang sulit dipahami. Dan dicerita itu juga ada kebohongan yang diceritakan.
            Seharusnya cerita kebohongan jangan diceritakan karena dapat menjadi contoh kurang baik. Banyak sekali cerita kebohongan yang diceritakan oleh novel tersebut. Alurnya juga menggunakan alur campuran.
Covernya juga kurang menarik, seharusnya bergambar seoarang laki-laki dan sebuah rumah, atau seorang laki-laki yang bertemu keluarganya di depan rumahnya, karena berjudul ‘Pulang’ tetapi malah bergambar entah hantu atau orang yang dimaksudkan karena tidak berwujud orang hanya bergambar ada kepala tapi kakinya tidak kelihatan dan seharusnya itu bukan matahari yang dihadapannya, tetapi seharusnya sebuah desa, dan seseorang yang di tepi lautan yang sedang menghadap matahari yang akan tenggelam karena waktu senja itu kurang pas untuk menjadi cover novel yang berjudul ‘Pulang’. Dan warna cover juga kurang menarik, seharusnya laut warnanya bukan hijau, tetapi karena waktu sedang senja warna yang bagus adalah warna orange atau kuning karena pantulan dari cahaya matahari yang akan tenggelam di tepi laut.
            Dan di novel tersebut jika menyebut ibu itu engkau, bukan ibu atau mama dan lain-lain sehingga kurang sopan padahal menyebut seorang ibu. Kalau ke teman atau saudara memang pantas tapi kalau menyebut ‘engkau’ untuk seorang ibu tidak sopan. Dan engkau itu juga tidak pantas untuk orang yang lebih tua dari kita apalagi untuk seorang ibu yang melahirkan kita membesarkan kita dan memberi kasih sayang yang tulus untuk kita tidak pantas menyebutnya dengan sebutan ‘engkau’. Dan kita juga harus sopan kepada kedua orang tua.
            Novel karya Toha Muhtar tempat-tempatnya kurang bisa dipahami, karena setelah menceritakan sawah nanti tiba-tiba di rumah lalu tidak disebutkan juga letak sawah itu di depan rumah atau di tepi jalan atau juga di tepi kebun. Desa tersebut juga tidak disebutkan berada di desa mana. Hanya saja disebutkan di tepi Gunung Wilis.
            Jalan cerita novel tersebut itu dimulai dari zaman perang, karena sewaktu Tamin menjadi heiho, ia menikahi anak petani dan seharusnya itu harus diceritakan. Tidak harus diceritakan dari ia pulang ke rumah. Tetapi dari ia sebagai heiho.
            Novel tersebut jika mau menceritakan tokoh, seharusnya di depan terlebih dahulu sedikit diperkenalkan. Seperti Isah yang menjadi tokoh itu seharusnya diceritakan sewaktu Ibu Tamin menceritakan satu demi satu teman Tamin. Karena waktu Ibu Tamin menceritakan satu demi satu temannya, Gamik juga diceritakan padahal Gamik itu kakak Isah. Jadi, Ibu Tamin itu juga ikut menceritakan Isah. Supaya nanti dalam ceritanya mudah dipahami.



UNSUR INTRINSIK





Ø  Tema
ü  Kedamaian yang dicari di rumah. Tema ini diambil berdasarkan isi novel tersebut, yaitu seorang anak pulang dari pengembaraannya sebagai heiho, dan ingin mencari kedamaian yang ia harapkan ada di rumahnya.
Ø  Alur
ü  Alur yang digunakan adalah alur campuran karena bercerita sewaktu menjadi heiho, contoh: Sewaktu sedang ronda teman-teman Tamin menanyakan pengalaman yang dialaminya. Pengalamannya sebagai heiho. Orang tua Tamin juga sewaktu Tamin pulang mereka ingin tahu pengalaman Tamin selama tujuh tahun sebagai heiho.
Ø  Sudut Pandang
ü  Sudut Pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga, karena penulis tidak terjun langsung dalam cerita atau tidak termasuk dalam cerita tidak ikut dalam dialog langsung.
Ø  Setting
ü  Waktu              : Pagi hari, siang hari, sore hari
ü  Tempat                        : Rumah, sawah, pendapa, pasar, pos kamling, tepi bengawan, Kota Surabaya, makam ayahnya.
ü  Suasana           : Sepi, berada di makam Ayahnya. Ramai, berada di pasar.
Ø  Tokoh
ü  Tamin, Ayah Tamin, Ibu Tamin, Sumi, Pak Banji, Isah.
Ø  Penokohan
ü  Tamin : Berbakti pada orang tua. Contoh kutipan yang menyatakan Tamin berbakti pada kedua orang tua adalah:
“Kalung itu sudah kujual, Mak. Dengan tambahan persediaan membeli sapi, sawah kita harus kembali. Semoga Pak Jais tidak sulit mengerti. Itu sudah cukup, berapa musim ia mengerjakan sawah kita.”
Pembohong atau pendusta, karena bercerita tidak berdasarkan kenyataan kepada tetangganya tentang pengalamannya selama tujuh tahun. Contoh kutipannya:
“Saya tidur di gubuk. Ada rasa seperti orang hendak mengganggu jalannya air. Itu suatu dusta lagi dan kini kepada Ayahnya.”
ü  Ibu Tamin : Dapat merasakan kegundahan yang dirasakan anak. Contoh kutipannya:
“Tujuh tahun adalah lama, Tamin. Engkau menceritakan hanya tentang perjalananmu. Dan masih adakah cerita yang engkau berat hendak menyampaikan? Kadang-kadang aku cemas melihatmu.”
Penyayang, karena terus berdo’a untuk keselamatan anaknya sewaktu perang. Contoh kutipannya:
“Mereka mengira engkau tidak akan pulang, tetapi aku terus berdoa untukmu.”
ü  Ayah Tamin : Tidak dapat menjaga sawahnya dengan baik, karenanya Isterinya menjual pada orang lain. Contoh kutipannya:
“Makmu sudah berbicara kepadaku. Itu telah terjadi dan aku tak bisa berbuat lain, kukira engkau akan dapat mengerti seluruhnya. Akulah Tamin, yang berdosa!”
ü  Sumi : Penyayang, karena selalu membawakan makanan untuk kakaknya yang sedang bekerja di sawah. Dan membantunya menyebarkan bibit. Contoh kutipannya:
Kala itu Sumi mengirim makanan ke sawah untuk Tamin yang sedang bekerja di sawah.
ü  Pak Banji : Ramah, karena selalu tersenyum ketika bertemu dengan orang lain. Suka menolong, karena dapat membujuk Tamin untuk pulang. Contoh kutipannya:
“Pulanglah Tamin! Kukira Cuma itu yang paling baik untukmu dan seisi rumah.”
Ø  Amanat           :
ü  Berbaktilah kepada kedua orang tua.
ü  Jaga pemberian orang tua dengan baik.
ü  Bantu kedua orang tua ketika sedang mengalami masalah.
ü  Janji harus ditepati.
ü  Jangan berbohong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar