PULANG KE KAMPUNG
Telah
tujuh tahun Tamin meninggalkan keluarga, rumah, desa, serta sawahnya. Rasanya
tidaklah seperti menginjakkan kaki atas tanah sendiri. Ia pernah merasai hujan
di mana-mana, sebagai serdadu pernah bergelut dengan lumpurnya jauh diseberang
laut, tetapi ini, di mana dia berdiri di pinggir desanya untuk pertama kali,
ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tersendiri, yang selama ini mampu
menghidupkan mimpi dan kenangan yang begitu indah.Tamin teringat masa kecilnya
di desa ini saat membantu ayahnya menggembala kerbau
Pulang
dapat lebih menggelorakan hati daripada mengalami pertemuan dengan keluarga
kembali. Sayang wajah ibunya yang bersih dan pandangnya yang menentramkan,
rambutnya yang telah separo putih, matanya hitam sejuk itu, apa yang bisa
terjadi selama tujuh tahun ini? Betapa pula wajah ayahnya yang telah tua itu,
wajah yang berkerut-kerut dengan alis kelabu tebal,memayungi matanya yang
kecil, dan telah bersembunyi jauh ke dalam.
Langkah demi
langkah ia bergerak, Matahari telah menyembuyikan diri seluruhnya di balik
Gunung Wilis. Turunnya senja disambut oleh kesepian burung-burung yang pulang
sarang malas berkicau. Sepanjang jalan ia tidak bertemu dengan orang dari
desanya. Sesampainya di depan rumahnya, ia masih berdiri di samping pagar. Lalu
tiba-tiba dia mendengar suara batuk ayahnya yang telah tujuh tahun lamanya ia
tak mendengarnya lagi. Dengan muka yang berubah warna dan bibir gemeteran, lalu
di balik pintu dia melihat perempuan tua itu. Ia mengaku pada Ibunya bahwa ia
Tamin.
Akhirnya
perempuan tua itu menjulurkan tangannya dan berpelukan.Ia menangis. Lalu
perempuan tua itu memanggil suaminya dan Sumi yang sibuk di dapur belakang.
Ayahnya keluar dari ambang pintu dan berkali-kali mengucapkan nama anaknya. Dan
Sumi keluar matanya memandangi orang asing yang tak dikenalnya. Ayahnya
memperkenalkan Sumi bahwa Sumi adiknya.
Tamin bercerita tentang bocah berusia sembilan
tahun. Betapa takut ayahnya pada Yamaguchi, Dia telah meninggalkn istri dan
telah mati di perbatasan Burma, dua tahun setelah dari desanya. Dan ia
menanyakan satu demi satu temannya pada ibunya.
Ibunya
menceritakan satu demi satu. Pardan telah tak ada, Ia pergi ke Surabaya pada zaman
perang melawan Nica. Seminggu sesudah itu, jenazahnya dibawa pulang. Dan Gamik,
Tuhan itu Maha Adil, ketika musim hujan seperti ini, serdadu Belanda mencari pemuda
dan tentara di kampung mereka. Ia bersama keenam temannya memberi perlawanan,
dan temannya berhasil lolos, tapi tinggal dirinya. Dia diketemukan di pinggir
pematang dengan tubuh yang terobek peluru. Mawardi yang hilang di kaki Gunung
Wilis sebelah tenggara, yang tak pernah ditemukan mayatnya sampai kini.
Dulmanan dan Imam yang telah menikah dan pindah ke luar kota.
Setelah hari
bertambah gelap, udara dingin menyelimuti kampung.
Dan ayahnya
ingin tahu pengalaman yang ia dapatkan selama 7 tahun di negeri orang
Tamin
menjelaskan bahwa ia pergi cuma sebagai heiho.
Kewajibannya berkelahi dan menembak. Negara yang ia datangi adalah Negara
Burma.
Dan Ibunya ingin
ia tak pergi lagi.
Sesaat sebelum
tintir kehabisan cahaya, Tamin masih dapat melihat adiknya tidur di atas tikar
bawah. Ia tidak pernah mengira adiknya akan semanis itu.
PERANG, TANAH HILANG
Pagi-pagi
Tamin telah terbangun. Tapi kalah bangun dengan adiknya yang sudah berada di
dapur. Ia hendak ke kebun. Dan ia menanyakan kemana ibunya.
Setelah
dia berjalan keluar dia melihat kandang sapi di samping rumah, masih tetap
seperti ia pergi. Tanah bawahnya telah rapat ditumbuhi rumput tak terpelihara.
Ia tahu kalau ayahnya sudah tidak kuat lagi mengerjakan sawahnya. Diambilnya
pacul dan dia mulai membersihkan kandang sapi. Kayu-kayuan yang tersebar ia
gabung jadi satu. Karena ia berkeringat ia lepas bajunya itu. Terlihat tubuhnya
yang penuh.
Sumi
menanyakan apa yang sedang dilakukan kakaknya itu. Karena di kandang sapi tidak
ada seekor sapi pun. Dan Tamin berencana akan membeli sapi besok di pasar, dan
ia juga besok akan membawa adiknya ke Toko. Pilih cita yang indah, warna yang
Adiknya senangi dan ambil kain yang cocok. Dan Sumi senang lalu ia mengambil
nangka yang esok hendak dibawanya ke kota.
Tamin
hendak mengikuti Sumi, tapi ketika berdiri matanya tertumbuk pada ibunya yang
berdiri di pojok rumah.
Lalu
Tamin menceritakan kalau ia dengan Sumi besok hendak ke kota untuk membeli
sapi. Tapi Ibunya bercerita kalau sapi itu tidak berguna lagi untuk mereka.
Inilah yang hendak ibunya katakan padanya. Ternyata ketika Tamin tak ada,
rumahnya mengalami kesulitan yang tak dapat dipikul dan jawaban untuk itu Cuma
satu: Tanah. Mereka sudah tak punya uang lagi.
Ia
ingat betapa dahulu ayah Mereka berada di tengah sawah kala itu berpesan bahwa
ia harus menjaga tanah itu, tanah itu adalah tanah yang terbaik di seluruh
desa, lantaran dibatasi oleh kali yang tidak pernah kering sepanjang musim.
Cintailah seperti juga neneknya mengajarkan kepada ayahnya. Gantungkan
pengharapan hidup di sini dan bila datang masanya Tamin memegang sendiri,
jangan dilepaskan meski sejengkal. Karena tanah itu telah menghidupi nenek moyangnya.
Kini
ia sudah pulang dari pengembaraannya, sebagai heiho selama tujuh tahun. Pulang dengan segala pengharapan dan
cita-cita untuk melanjutkan pesan ayahnya, tapi tanah itu sudah ditangan orang
lain. Dan Tamin akhirnya mengerti.
Ibunya
seorang diri bersama Sumi melawan maut. Tapi Ibunya sudah tua, sedang Sumi
belum dewasa. Akhirnya Ibunya Cuma melihat satu jalan untuk menolong ayah,
yaitu:Tanah. Dan dia hendak mengembalikan tanahnya kembali.
Tamin
pergi keluar rumah, dan menyusuri desa.
Matahari
telah bertambah rendah, Puncak Gunung Wilis tinggal sepenggalah saja tampaknya.
Tamin pergi ke sawah yang sekarang tak lagi menjadi miliknya. Ia menunduk,
mengambil segenggam tanah. Mesra tangan memegangnya dan hatinya menjerit.
Matahari
telah tak tampak dipuncak Gunung Wilis telah hilang menembus mendung. Ia
melangkah ke pematangan, berjalan menuju rumahnya. Pada setiap langkah seperti
ada yang memanggilnya. “Tanah itu harus kembali”
Sumi
melihat kakangnya di ambang pintu. Dan ia bertanya, apakah esok mereka jadi ke
kota karena tak ada ada gunanya lagi pergi ke kota lantaran mereka tak butuh
sapi lagi. Tetapi Tamin tetap mengajak adiknya ke kota ia sudah berjanji pada
adiknya akan membelikan cita sutra, dan memilih kain batik di pasar.
TANAH KEMBALI
Ia
berjongkok membuka ranselnya dengan tangan gemetar. Diantara tumpukan bajunya
yang belum dibuka sejak ia datang, terdapat sekotak kaleng. Dibukanya kotak
kaleng itu, meski dalam gelap ia tahu itu adalah uang simpanan yang diharapkan
untuk cukup membeli seekor sapi dewasa. Ia seperti tak menjamah uang itu. Di
dasar di bawah uang itu terdapat lipatan kain putih sebesar ibu jari. Dan ketika
digenggamnya terasa hangat, seperti belum lama orang lain menggenggamnya. Benda
yang ada dalam genggamannya kini bukankah itu pernah dibawanya melampaui darat,
maut dan perkelahian, dan ia pernah berjnji kepada diri sendiri tak hendak
melepaskannya sampai mati. Ia kembali pada hari dalam pengembaranya, ketika
pertama kali di dalam hidupnya ia bertemu dengan seorang gadis yang punya mata
sejernih bintang.
Ketika
mereka sedang duduk-duduk.
Tamin
bilang kepada ayahnya bahwa benda ini punya sejarah dan separo hatinya telah
terpaut padanya. Ia dibawa melampaui maut, darah dan perkelahian. Dengan
tambahan ini, sawah hendak di tebusnya, sebab bukankah ke sana mereka dapat
menemui jiwa mereka?
Pagi-pagi
sekali Tamin dan Sumi pergi ke kota.
Mereka
naik kereta, mereka harus pulang sehabis lohor karena masih banyak yang harus
dikerjakan.
Mereka
turun di depan sebuah toko yang besar dengan etalase yang terisi beraneka ragam
barang jualan. Toko itu ramai dikunjungi orang.
Dan
Sumi di beri waktu untuk memilih pakaian mana yang ia suka. Tetapi Sumi takut.
Isah. Ia biasa berkata pada setiap cita yang ia beli. Tetapi Tamin tidak tahu
Isah itu siapa, akhirnya adiknya menceritakan kalau Isah itu anak Pak Makin,
adiknya Gamik, sahabat Tamin dulu. Dan semua gadis-gadis biasa meminta
pertolongan kepadanya jika hendak membeli cita. Isah itu memiliki mata paling
bening di seluruh desa dan panas matahari tidak mampu menghitamkan kulitnya.
Lalu Tamin memilihkan warna yang cocok.
Menjelang
lohor mereka telah sampai rumah. Sumi menjepit bungkusan cita dan kain batik,
Tamin membawa tiga ekor ayam biang yang dibelinya di pasar. Dan kalung itu
sudah ia jual.
Pelaksanaan
penebusan sawah berjalan lancar. Pak Jais menghadapi Tamin tanpa tuntutan
harga. Pak Lurah Kabul memudahkan masuknya pengertian dalam kepalanya. Sawah
itu kembali dengan sah.
Sejak
hari itu, Tamin menghabiskan siangnya di tengah sawah.
Dan
pertama kali ia menembang menjelang malam, seluruh kampung seperti tersentak
karenanya. Kisah itu dalam bahasa Kawi, disusun dalam bentuk tembang lagu
Asmaradana, susunan itu begitu indah dan jadi hidup dalam bayangan setiap
pendengarnya yang mengenal bahasa itu.
Esok
harinya Tamin pergi ke sawah. Dan siang itu yang begitu terik, Sumi membawa
makanan untuk Tamin, ada seseorng yang mengikutinya dari belakang membawa
rantang pula, ikut berlompat-lompat dengan mengangkat kainnya setinggi betis,
seperti takut akan basah karena Lumpur pematang yang belum kering. Ia seorang
gadis pula, sama besar dengan adiknya, memakai kebaya merah darah berbunga
bintik-bintik putih. Siapa dia? Tamin mencoba mengingat-ingat, tetapi ia tidak
dapat menemukan. Kini bergerak bertambah dekat dan jelas menuju gubuknya. Lalu
pada jarak tiga pematang Sumi tersenyum, menoleh dan gadis berbaju merah
membelok ke arah sawah yang lain menyambut dengan senyum pula. Dan jarak itu
bagi Tamin cukup untuk mengetahui, betapa bersih tangan gadis itu yang keluar
dari lengan bajunya yang digulung setinggi siku, dan betapa bulat wajahnya,
matanya yang bening. Panas matahari tak kuasa menghitamkan kulitnya. Siapa
pernah berkata demikian? Dia mencoba mengingatnya.
Ia
ingat kini, adalah Sumi yang mengatakan di dalam toko cita bawah. Kulit yang
bersih itu tak hendak hitam oleh panas surya. Gadis itu harus bernama Isah.
Esok
harinya dan esoknya lagi, kedatangan Sumi tidak lagi seorang diri, Tamin selalu
mengawasi orang yang di belakang Sumi, tapi hari itu Tamin tidak melihat orang
yang mengikuti adiknya.
Ia
diam, menghabiskan hidangan yang dibawa adiknya tanpa kata, dan Sumi memandangi
sawah yang telah selesai digaru. Ternyata Isah tidak ke sawah lantaran Pak
Makin sedang sakit. Ia mengetahui itu semua dari adiknya karena adiknya melihat
wajahnya yang murung.
Hari-hari
berjalan jua. Musim menyebar bibit telah lewat, padi yang ditanam mulai
menghijau rapat. Kerja berat telah berlalu.
CERITA PENGALAMAN
Matahari
lurus di atas kepala. Tamin berdiri tegak dekat gubuk seperti seorang jenderal
yang sedang mengawasi balatentaranya. Langit di atas bersih sekali, mendung
telah lari ke barat dan jatuh di kaki Gunung Wilis.
Lalu
terdengar suara memanggil namanya. Tamin menoleh dan ia melihat seorang tua
yang masih tegap tubuhnya. Rambutnya yang telah separo putih. Ia adalah Pak
Banji. Pak Banji kagum kepada tubuh Tamin yang padat itu.
Pak
Banji meminta Tamin untuk ke pendapa nanti malam karena akan ada acara
perbaikan makam Gamik dan Pardan. Gamik dan Pardan adalah sahabatnya sewaktu
kecil.
Hari
masih panas, dan Tamin meninggalkan sawahnya. Di belokan jalan ia melihat
seorang gadis yang berhenti pula seperti dia, dia adalah Isah pada jarak empat
langkah, jarak yang sedekat itu ia dapat melihat. Memakai pakaian yang seperti
pertama kali ia melihatnya. Benar kata Sumi, bahwa mata yang sesaat masih
berani menatap matanya itu bening sekali, dan terlalu lembut senyum yang
melintasi bibirnya. Dan Tamin bertanya kepada Isah, apakah dia anak Pak Makin?
Dan Isah juga bertanya, apakah Tamin kakaknya Sumi?
Cuma itu percakapan mereka. Sesudah itu tak ada lagi. Sejenak saling termangu, lalu saling melanjutkan langkahnya yang jadi berat.
Cuma itu percakapan mereka. Sesudah itu tak ada lagi. Sejenak saling termangu, lalu saling melanjutkan langkahnya yang jadi berat.
Malam
harinya sesudah mandi Tamin duduk di atas balai-balai menghadap secangkir kopi.
Ayahnya ke rumah Pak Usup, adiknya ke rumah Lurah Kabul. Ibunya mendekatinya. Dan
Ibunya bertanya, apakah masih ada cerita yang berat Tamin hendak menyampaikan?
Dan Ibunya melihat mata Tamin yang terlalu jauh.
Dan
Tamin mengangguk. Ia lalu bercerita kepada Ibunya, kalau memang ada sesuatu
yang tersimpan dalam hati. Dan ibunya berhak mengetahuinya lantaran Tamin
anaknya. Dan apakah Ibunya masih ingat kematian Yamaguchi? Ini terjadi satu
musim dengan kematiannya. Lantaran rindunya pada rumah, mengenang Ibunya, ayahnya
dan Sumi adiknya. Itu sebabnya jika ada masanya Tamin mendapat istirahat, ia
pergi ke desa-desa menelusuri kali-kali dan sawah.
Di
tengah ladang seperti itu, Tamin mendapat seorang sahabat. Ia seorang petani,
sama tuanya dengan bapaknya. Ia membawanya pulang ke rumahnya, dan dia melihat
istri petani, Istri petani sedikit lebih muda dari pada Ibunya. Tuhan bicara
kepadaku akhirnya. Tidak dengan kata-kata, itu seperti semangat yang menembus
hati dengan tiba-tiba. Lalu seperti orang gila yang tidak begitu menyadari apa
yang dia kerjakan, Tamin menikahi anaknya, seorang gadis semuda Sumi. Itu
terjadi tidak sebulan sesudah perkenalannya.
Dua
bulan sesudah itu, Tamin pergi jauh ke perbatasan. Sembilan bulan kemudian,
isterinya melahirkan anak. Anak laki-laki, anaknya. Betapa gembira hatinya
untuk menjadi seorang ayah, namun tidaklah seperti kehendak tuhan. Ia tak
pernah memandangi wajah anak sendiri dan tak dapat memberi pelukan terakhir
kepada istrinya. Mereka meninggal di rumah bersalin. Ketika ia pulang, ayahnya
menyerahkan kalung yang pernah Tamin belikan untuk isterinya. Ayahnya berkata,
itu haknya untuk menerima kembali dan berpesan supaya Tamin dapat menyimpannya
sebagai kenangan
Dan Tamin juga
bilang kalau kalung yang ia gunakan sebagai tambahan sawah adalah kalung yang
pernah ia berikan untuk isterinya. Tamin memang kuat untuk melupakan itu semua.
Dan Ibunya ternyata melihat ia bertemu dengan Isah di kelok jalan itu. Ibunya
ternyata berdiri di pojok kebun dan hatinya berteriak kegirangan. Lantaran dengan
jelas ia melihat bagaimana Isah berdiri dan menundukkan mukanya malu. Bagaimana
mukanya yang jadi merah. Jika datang waktunya Tamin harus memilih, semoga Tuhan
memberikan petunjuk-Nya.
KEBOHONGAN
Pendapa
kelurahan telah ramai. Malam itu adalah malam pertama kali Tamin menampakkan
diri di antara orang ramai sejak kembali ke desanya. Kini ia dianggap sudah
dewasa. Inti dari keputusan itu adalah Desa hendak memperbaiki makam Pardan dan
Gamik sebagai penghargaan atas jasa-jasa mereka. Pak Lurah yang hendak
menyediakan semen dan kapur. Pak jais, penduduk yang paling kaya diwajibkan
menyediakan makanan kelak untuk pekerjanya.
Cerita
kematian Gamik menjadi acara yang paling menarik, sekalipun itu telah berulang
kali didengar. Lalu yang lain menceritakan pengalamannya ketika ditawan, betapa
siksaan yang diderita selama itu.
Dan
ada salah seorang yang ingin tahu tentang pengalaman Tamin, dan ia bertanya
pada Tamin. Dan akhirnya karena terus ditanya oleh salah seorang yang ada di
pendapa. Tamin akhirnya bercerita bahwa ia meninggalkan Burma bersama dengan
rombongan heiho yang paling akhir.
Kapal yang ia tumpangi hanya berlabuh di Tanjung Priuk. Itu sebenarnya ia hanya
dapat menggabungkan diri dengan beberapa bekas heiho ke dalam Laskar Rakyat dan bersumpah bersama tak hendak
pulang ke kampung kembali sebelum perjuangn berakhir. Itu terlalu pendek untuk
sebuah cerita.
Lalu
dengan suara terputus-putus, kata demi kata mencari-cari, ia menceritakan
tentang pertempuran di Gunung Putrid an Gunung Cupu, di pinggir Tasik. Dan jika
cerita itu berakhir dadanya terasa kosong. Semua itu tipuan tentunya, buah
khayalan yang di paksakan.
Ketika
beberapa orang berdiri untuk pulang, Tamin terasa gembira seperti seorang
tahanan yang keluar dari pemeriksaan pertama. Ia ikut berdiri dan meninggalkan
pendapa dengan nafas lega.
Di
jalan ia mencoba menghafalkan apa yang ia ceritakan tadi, karena mungkin ada
orang yang tidak berangkat ingin tahu pengalaman Tamin.
Sampai
di rumah, ia hanya menghabiskan setengah hidangan yang disajikan Sumi. Dan Sumi
melihat wajah kakaknya yang murung itu. Sumi terus bertanya tentang keadaannya
dan maminta Tamin untuk menembang lagi. Karena Tamin marah ia mencari alasan
kalau ia belum menutup jalan air dan ia hendak ke sawah.
Itu satu dusta
lagi tentunya.
Ia
pergi ke sawah dan memejamkan matanya di gubuk. Paginya Tamin turun dari gubuk,
dan melangkah menuju rumahnya.
Dan
sesampainya di rumah ayahnya menanyakan kalau semalam Tamin tak ada di rumah.
Dan Tamin mengangguk dan menjelaskan kalau semalam ia tidur di gubuk, karena ia
merasa kalau ada seseorang yang mengganggu jalan airnya. Itu merupakan satu
dusta lagi.
Ia
melangkah ke dalam. Ia membuka bajunya yang basah dan menggantinya dengan yang
kering. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas balai-balai. Dan ketika ia membuka
matanya Ibunya datang dari dapur dengan membawa secangkir kopi. Ibunya cemas
karena wajah Tamin pucat dan ia menanyakan kepada Tamin apakah Tamin sakit.
Adalah benar yang ditanyakan ibunya, Tamin sakit, demam disekujur tubuhnya.
Sudah
tiga hari Tamin tidak ke sawah. Dan perbaikan makam Gamik dan Pardan sedang
dilakukan. Alhamdulillah Tuhan telah menolongnya dari semua partanyaan yang ia
takutkan dari orang-orang yang tidak datang di acara perencanaan perbaikan
makam Gamik dan Pardan.
Setelah
Tamin sembuh, tetapi wajahnya masih pucat. Dia menghadiri upacara penutupan.
Dan setelah upacara selesai dia pulang.
Datang
di rumah, ibunya menanyakan tentang upacara itu dan ia mencari-cari alasan.
Lalu
datanglah Sumi lewat kebun belakang. Ia menceritakan Isah yang cantik sekali
pagi itu, betapa air matanya meleleh selama mengikuti upacara, dan rasa iri
yang disembunyikan ia berkata, betapa semua mata jejaka kampung mengerling
Isah. Dan mereka juga menanyakan kebaya ini. Aku bilang ini pemberian kakakku,
dia yang memilih warna dan citanya. Seluruh mata perawan-perawan menatapnya tak
percaya,’Tamin’?
Tetapi
Tamin tidak mendengarkan itu semua. Ia pergi ke sawah.
Malam
harinya setelah Tamin dari sawah, ada seseorang yang memanggilnya, ia adalah
Pak Banji. Pak Banji lupa bilang kalau jadwal jaga nanti malam adalah Tamin.
Malamnya
menjelang jaga, Tamin pergi ke pos kamling lalu berkeliling memutari desa dan
teman-temannya sambil bercerita. Tetapi setelah ceritanya habis, mereka meminta
Tamin untuk bercerita. Dan Tamin bingung mau cerita apa. Ternyata ada salah
satu dari mereka yang tidak datang di acara perbaikan makam Gamik dan Pardan. Lalu
Tamin menceritakan sedikit demi sedikit sambil berkhayal. Dan tong-tong subuh
di masjid menyebabkan mereka berdiri serentak, dan Tamin akhirnya bebas dari
kebohongannya.
Dan
sesampainya di rumah.
Sumi
bercerita kalau semalam Pak Makin datang dan bercerita tentang pengalaman
Tamin, ketika Tamin berjuang di Lereng Gunung Cupu, di Pasundan. Tetapi Tamin
tak ingin mendengar cerita itu. Dan Sumi tetap ingin tahu ada peristiwa apa
dibalik cerita itu.
Dan
tiba-tiba tangan Tamin melayang di pipi Sumi.
PERGI
Matahari
sudah tinggi. Tamin berjalan dan terus berjalan, dia tidak tahu mau kemana.
Akhirnya sudah lama ia berjalan ia sudah keluar dari desanya. Akhirnya kakinya
terasa berat digerakkan dan kepalanya mulai pusing. Matahari telah rendah. Dia
berdiri di pinggir bengawan, matanya masih tetap mengawasi putaran air dan
kepalanya bertambah pening, tanah yang diinjaknya lalu seperti mulai bergoyang.
Tamin terkejut merasai tapak tangan memegang pundaknya dari belakang. Dan
ternyata orang laki-laki. Tamin menceritakan kalau dia pergi dari desanya
karena ia tidak menemukan kedamaian yang ia harapkan berada di keluarganya.
Akhirnya
Tamin ikut bersama laki-laki itu menuju Laut. Dan ia melihat seorang anak yang
digendong ibunya. Ternyata ibu itu isteri laki-laki itu.
Malam
telah berlalu.
Akhirnya
perahu yang ditumpangi sudah sampai di pinggir kota Surabaya.
Dan
Tamin menelusuri aspal menuju kota.
KEMATIAN AYAHNYA
Empat
bulan matanya bertambah dalam, wajahnya bertambah kering. Ia tak dapat
melupakan hari-harinya yang telah lalu, separo jiwanya tinggal di desa.
Pagi-pagi benar ketika ia duduk di pojok gudang melihat seorang yang telah tua,
ia kenal orang itu, itu adalah Pak Banji.
Dan
Pak Banji berharap kalau Tamin mau pulang dan ia menceritakan kejadian di
rumahnya, kalau ayahnya telah meninggal. Ibunya cukup kuat, tetapi Sumi setiap
malam menangis karena rindunya pada Tamin.
Tetapi
Tamin masih takut kalau orang di desanya marah kepadanya. Dan Pak Banji
menceritakan kalau semenjak Tamin pergi, sewaktu musim panen seluruh desa
memotong padi dengan bergotong royong tanpa mengambil segentang padinya sebagai
upah. Mereka kagum kalau Tamin dapat mengerjakan sawah ini.
Dan
Tamin berjanji akan pulang
Tamin
berjalan menelusuri sungai, ia hendak ‘menemui’ ayahnya dulu sebelum menemui
ibu dan adiknya.
KEMBALI KE RUMAH
Lama
ia berdiri menghadap makam ayahnya. Ia tak hendak menangis, ia ingin dapat
menahan air matanya. Ia mencium nisan ayahnya dan air mata yang ditahan ternyata
jatuh jua. Di hadapannya berdiri Sumi dengan mata terbelalak. Dan Tamin minta
maaf karena sudah meninggalkan rumah tnpa pamit.
Nanti
malam di rumah Tamin akan diadakan acara selamatan, dan seluruh kampung akan
diundang. Mereka telah menolongnya sejak Tamin pergi.
Mereka
berdua meninggalkan pusara ayahnya.
Sumi
bercerita tentang Isah yang selalu menangis karena Tamin pergi karena rindu
suara Tamin setiap malam. Dan malam ini Tamin ingin menembang untuk Sumi dan
Isah.
TAMAT
KOMENTAR
Novel
karya Toha Muhtar yang berjudul ‘PULANG’ bahasanya sulit dipahami, karena
menerangkan orang itu sangat detail sampai kebagian yang paling kecil. Ada
kalanya menceritakan muka, postur tubuh, pakaian sangat detail. Serta
menerangkan suasana atau kondisi desa juga seperti kenyataan. Seharusnya jangan
terlalu mendetail supaya dapat dipahami oleh pembaca. Itu membuat saya sulit
memahaminya. Banyak kata-kata yang digunakan di zaman perang melawan Belanda
yang saya tidak tahu artinya. Seperti heiho, roda cikar, gerilya, dan
lain-lain. Dan juga banyak bercerita tentang perang yang sulit dipahami. Dan
dicerita itu juga ada kebohongan yang diceritakan.
Seharusnya
cerita kebohongan jangan diceritakan karena dapat menjadi contoh kurang baik.
Banyak sekali cerita kebohongan yang diceritakan oleh novel tersebut. Alurnya
juga menggunakan alur campuran.
Covernya juga
kurang menarik, seharusnya bergambar seoarang laki-laki dan sebuah rumah, atau
seorang laki-laki yang bertemu keluarganya di depan rumahnya, karena berjudul
‘Pulang’ tetapi malah bergambar entah hantu atau orang yang dimaksudkan karena
tidak berwujud orang hanya bergambar ada kepala tapi kakinya tidak kelihatan
dan seharusnya itu bukan matahari yang dihadapannya, tetapi seharusnya sebuah
desa, dan seseorang yang di tepi lautan yang sedang menghadap matahari yang
akan tenggelam karena waktu senja itu kurang pas untuk menjadi cover novel yang
berjudul ‘Pulang’. Dan warna cover juga kurang menarik, seharusnya laut
warnanya bukan hijau, tetapi karena waktu sedang senja warna yang bagus adalah
warna orange atau kuning karena pantulan dari cahaya matahari yang akan
tenggelam di tepi laut.
Dan
di novel tersebut jika menyebut ibu itu engkau, bukan ibu atau mama dan
lain-lain sehingga kurang sopan padahal menyebut seorang ibu. Kalau ke teman
atau saudara memang pantas tapi kalau menyebut ‘engkau’ untuk seorang ibu tidak
sopan. Dan engkau itu juga tidak pantas untuk orang yang lebih tua dari kita
apalagi untuk seorang ibu yang melahirkan kita membesarkan kita dan memberi
kasih sayang yang tulus untuk kita tidak pantas menyebutnya dengan sebutan
‘engkau’. Dan kita juga harus sopan kepada kedua orang tua.
Novel
karya Toha Muhtar tempat-tempatnya kurang bisa dipahami, karena setelah
menceritakan sawah nanti tiba-tiba di rumah lalu tidak disebutkan juga letak
sawah itu di depan rumah atau di tepi jalan atau juga di tepi kebun. Desa
tersebut juga tidak disebutkan berada di desa mana. Hanya saja disebutkan di
tepi Gunung Wilis.
Jalan
cerita novel tersebut itu dimulai dari zaman perang, karena sewaktu Tamin
menjadi heiho, ia menikahi anak
petani dan seharusnya itu harus diceritakan. Tidak harus diceritakan dari ia
pulang ke rumah. Tetapi dari ia sebagai heiho.
Novel tersebut jika mau menceritakan
tokoh, seharusnya di depan terlebih dahulu sedikit diperkenalkan. Seperti Isah
yang menjadi tokoh itu seharusnya diceritakan sewaktu Ibu Tamin menceritakan satu
demi satu teman Tamin. Karena waktu Ibu Tamin menceritakan satu demi satu
temannya, Gamik juga diceritakan padahal Gamik itu kakak Isah. Jadi, Ibu Tamin
itu juga ikut menceritakan Isah. Supaya nanti dalam ceritanya mudah dipahami.
UNSUR
INTRINSIK
Ø Tema
ü Kedamaian yang dicari di
rumah. Tema ini diambil berdasarkan isi novel tersebut, yaitu seorang anak
pulang dari pengembaraannya sebagai heiho,
dan ingin mencari kedamaian yang ia harapkan ada di rumahnya.
Ø Alur
ü Alur yang digunakan adalah
alur campuran karena bercerita sewaktu menjadi heiho, contoh: Sewaktu sedang ronda teman-teman Tamin menanyakan
pengalaman yang dialaminya. Pengalamannya sebagai heiho. Orang tua Tamin juga sewaktu Tamin pulang mereka ingin tahu
pengalaman Tamin selama tujuh tahun sebagai heiho.
Ø Sudut Pandang
ü Sudut Pandang yang
digunakan adalah sudut pandang orang ketiga, karena penulis tidak terjun langsung
dalam cerita atau tidak termasuk dalam cerita tidak ikut dalam dialog langsung.
Ø Setting
ü Waktu : Pagi hari, siang hari, sore hari
ü Tempat : Rumah, sawah, pendapa,
pasar, pos kamling, tepi bengawan, Kota Surabaya, makam ayahnya.
ü Suasana : Sepi, berada di makam Ayahnya.
Ramai, berada di pasar.
Ø Tokoh
ü Tamin, Ayah Tamin, Ibu
Tamin, Sumi, Pak Banji, Isah.
Ø Penokohan
ü Tamin : Berbakti pada orang
tua. Contoh kutipan yang menyatakan Tamin berbakti pada kedua orang tua adalah:
“Kalung itu sudah kujual, Mak.
Dengan tambahan persediaan membeli sapi, sawah kita harus kembali. Semoga Pak
Jais tidak sulit mengerti. Itu sudah cukup, berapa musim ia mengerjakan sawah
kita.”
Pembohong atau pendusta, karena
bercerita tidak berdasarkan kenyataan kepada tetangganya tentang pengalamannya
selama tujuh tahun. Contoh kutipannya:
“Saya tidur di gubuk. Ada rasa
seperti orang hendak mengganggu jalannya air. Itu suatu dusta lagi dan kini
kepada Ayahnya.”
ü Ibu Tamin : Dapat merasakan
kegundahan yang dirasakan anak. Contoh kutipannya:
“Tujuh tahun adalah lama, Tamin.
Engkau menceritakan hanya tentang perjalananmu. Dan masih adakah cerita yang
engkau berat hendak menyampaikan? Kadang-kadang aku cemas melihatmu.”
Penyayang, karena terus berdo’a
untuk keselamatan anaknya sewaktu perang. Contoh kutipannya:
“Mereka mengira engkau tidak akan
pulang, tetapi aku terus berdoa untukmu.”
ü Ayah Tamin : Tidak dapat
menjaga sawahnya dengan baik, karenanya Isterinya menjual pada orang lain.
Contoh kutipannya:
“Makmu sudah berbicara kepadaku. Itu
telah terjadi dan aku tak bisa berbuat lain, kukira engkau akan dapat mengerti
seluruhnya. Akulah Tamin, yang berdosa!”
ü Sumi : Penyayang, karena
selalu membawakan makanan untuk kakaknya yang sedang bekerja di sawah. Dan
membantunya menyebarkan bibit. Contoh kutipannya:
Kala itu Sumi mengirim makanan ke
sawah untuk Tamin yang sedang bekerja di sawah.
ü Pak Banji : Ramah, karena
selalu tersenyum ketika bertemu dengan orang lain. Suka menolong, karena dapat
membujuk Tamin untuk pulang. Contoh kutipannya:
“Pulanglah Tamin! Kukira Cuma itu
yang paling baik untukmu dan seisi rumah.”
Ø Amanat :
ü Berbaktilah kepada kedua
orang tua.
ü Jaga pemberian orang tua
dengan baik.
ü Bantu kedua orang tua
ketika sedang mengalami masalah.
ü Janji harus ditepati.
ü Jangan berbohong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar