PERADABAN
ISLAM RASULULLAH 610-622 M
MAKALAH
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah: Sejarah Peradaban Islam
Dosen
Pengampu: M. Rikza Chamami, M.Si
Disusun
Oleh:
Nailul Manan (133111085)
Nur Khanifatun Ni’mah (123911083)
Sabrina Kartikawaty (123911099)
Tutik Noviana (123911106)
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2014
I.
PENDAHULUAN
Pada saat
seluruh dunia tenggelam dalam arus kebohongan, kehilangan human dignity, jauh
dari sinaran tauhid, dan keadaan sosial,politik, ekonomi, budaya, dan agama
masyarakat dunia khususnya arab sangat rapuh dan memprihatinkan, muncul seorang
tokoh besar dalam sejarah sepanjang masa.
Ia membawa obor
transformasi dari kehidupan kegelapan menuju cahaya terang. Ia mengantarkan
masyarakat yang kacau menjadi masyarakat yang terbimbing dan terdidik,
lebih-lebih melepaskan bangsa arab dari kemusyrikan menuju tauhid. Ia adalah
Nabi Muhammad SAW yang terkenal sebagai pembawa risalah yang rahmatallil’alamin.
Periode
Rasulullah SAW merupakan cikal bakal pembentukan peradaban islam. Peradaban
islam dibangun dengan menjadikan agama islam sebagai dasar pembentukannya.
Dalam masa ini, diuraikan dinamika yang terjadi pada masyarakat muslim dalam
upaya merintis penegakan risalah islam di sekitar jazirah arab sebagai
pandangan hidup baru masyarakat.
Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang
peradaban sebelum islam, dakwah makkah
Nabi Muhammad SAW dan sistem sosial di Makkah.
II.
RUMUSAN
MASALAH
A.
Bagaimana
peradaban arab sebelum islam?
B.
Bagaimana
dakwah makkah Nabi Muhammad SAW?
C.
Bagaimana
pembentukan sistem sosial di Makkah?
III.
PEMBAHASAN
A.
Peradaban
Arab Sebelum Islam
Sejarawan muslim membagi penduduk Arab menjadi tiga kategori, yaitu
sebagai berikut:
1.
al-‘Arab al-Ba’idah:
Arab Kuno,
2.
‘Arab al-‘Arabiyah:
Arab pribumi, dan
3.
‘Arab al-Mustaribah:
Arab pendatang.
Orang
gurun pasir kebanyakan tinggal di Arab Utara yang buta huruf dan tidak maju
(nomads).Ahli sejarah Arab tidak dapat menemukan sejarah mereka pada zaman
kuno. Mereka mencatat periode itu al-Ayyam
al-Jahiliyah (the daya of the
darkness: masa-masa kegelapan). Sebenarnya hal ini dikarenakan mereka tidak
mengetahui agama, tata cara kemasyarakatan, politik, dan pengetahuan tentang
ke-Esaan Allah, maka mereka dikatakan penduduk jahil (Rahman, 1977: 1).
Meskipun
orang Arab berperan dalam gelanggang politik, misalnya Kerajaan Saba dan
Kerajaan Yaman di Arab Selatan, Kerajaan Petra di Jeruzalem, Kerajaan Palmerah
dan Gassan di Syam, serta Kindah di Arab Tengah, namun mereka hidup dalam klan
atau kabilah-kabilah. Setiap kabilah terdiri dari beberapa sub-kabilah atau
lebih popular dengan istilah Arab, Qoum.Kadang-kadang
beberapa kaum atau suku mengadakan peerjanjian persahabatan untuk hidup damai
yang disebut al-Ahlaf.Hidup
bersama-sama kabilah dan juga mematuhi peraturan kabilah atau kepala suku (Shekh) adalah wajib.Bukan hanya itu,
meskipun mereka sangat mencintai keluarga, namun dalam hal kehormatan kabilah
adalah di atas segalanya.Semangat (spirit)
kekabilahan tersebut oleh Ibnu Khaldun disebut dengan istilah al-Ashabiyah (Rahman, 1977: 2-3).
Sebelum
islam, kondisi dan kedudukan wanita sumbernya bervariasi. Ada yang menyatakan,
bahwa di kalangan bangsa Arab terdapat beberapa kepala suku wanita, seperti
Ummu Aufah, Kindah, dan sebagainya yang berdiam di Mekah, Madinah, Yaman dan
sebagainya.Merekalah yang menentukan segala kebijakan.Namun jumlah mereka tidak
banyak.Kebanyakan wanita tidak ada harganya di mata masyarakat.Mereka dianggap
tidak lebih dari barang yang dijual-belikan di pasar.Mereka tidak dapat sebagai
pewaris suami atau orang tua. Laki-laki dengan semaunya bias nikah dengan
wanita yang banyak, sedangkan wanita hampir tidak. Terdapat juga dalam beberapa
suku, ibu tiri menikah dengan anak tirinya, saudara kandung menikah dengan
sesame saudaranya.
Mengenai
kasus penguburan anak hidup-hidup, itu tidak berlaku pada semua suku di
Arab.Tradisi itu berlaku pada beberapa suku di antaranya pada Bani Tamim dan
Bani Asad.Mereka membunuh anak-anak karena punya keyakinan, bahwa anak
(kebanyakan perempuan) adalah penyebab kemiskinan dan keluarga menjadi
malu.Terdapat dua alasan mereka yang mengakibatkan pembunuhan terhadap anak
yaitu karena faktor kependudukan.Di mana akibat hancurnya Bendungan Ma’arib,
Yaman, rakyat berbondong-bondong pindah ke Utara termasuk di kota-kota seperti
Mekah, Madinah, Damaskus dan sebagainya.Urbanisasi besar-besaran ini
mempengaruhi ekonomi dengan serius.Oleh karena itu, semakin banyak anggota
keluarga sulit untuk mendapatkan makanan sehingga karena faktor kemiskinanlah
akhirnya mereka membunuh anak. (Q. S. 17 (al-Isra): 31). Alasan berikutnya,
yaitu perempuan dianggap membawa aib, apabila di kalangan mereka kalah dalam peperangan,
maka istri dan anak perempuannya akan diperkosa beramai-ramai oleh suku yang
menang dalam peperangan sehingga lebih baik bagi perempuan untuk dibunuh
terlebih dahulu (Rahman, 1977: 4-6).
Faktor
geografis, sangat mempengaruhi sifat dan perilaku rata-rata orang Arab yang
mungkin terkesan keras, walaupun itu tidak semuanya.Kepala suku adalah orang
yang memiliki muru’ah (kejantanan,
kesempurnaan perilaku).Ia bertanggung jawab penuh atas segala yang terjadi pada
anggota sukunya, bermurah hati, menjamu tamu, baik yang resmi menjadi utusan
dari suku lain atau tamu biasa, yang datang dari kampungnya, dan menolong orang
lain yang membutuhkan bantuannya, bahkan musuh bebuyutan tetap dijamu dan
dihormati.
Strategi
perang mereka terdiri dari lima pasukan inti, yaitu al-Khamis, terdiri dari lima sayap. Pertama, al-Muqoddam pasukan pembawa bendera.Kedua, al-Maemanah, sayap kanan
dan ketiga, al-Maesarah, sayap kiri.Keempat, al-Saqoya, pasukan pembawa
obat-obatan dan makanan, serta suka relawan untuk menyiapkan makanan,
memperbaiki senjata, dan merawat pasukan yang cedera dan sakit.Kelima, al-Qolb
yaitu pasukan inti yang berada di tengah-tengah pasukan, dipimpin langsung oleh
panglima perang atau kepala suku.Strategi ini diadopsi total oleh Nabi Muhammad
dalam peperangan melawan orang-orang kafir qurays (Husaini, 1949: 15-16).[1]
Perlu
dijelaskan, bahwa kota Mekah merupakan kota suci yang setiap tahunnya
dikunjungi banyak orang baik dari dalam negeri maupun dari manca negara,
terutama karena disitulah terdapat bangunan suci ka’bah. Selain itu, di Ukas
terdapat pasar sebagai tempat pertukaran barang dari berbagai duni dan tempat
berlangsungnya perlombaan kebudayaan (Puisi Arab). Oleh Karen itu, kota
tersebut menjadi pusat peradaban baik politik, ekonomi, dan budaya penting.
Para pedagang tersebut menjual komoditas itu kepada para konglomerat, pejabat,
tentara, dan keluarga penguasa, karena komoditas tersebut mahal, terutama
barang-barang impor yang harus dikenai pajak yang sangat tinggi. Alat
pembayaran yang mereka gunakan adalah koin yang terbuat dari perak, emas atau
logam mulia lain yang ditiru dari mata uang Persia dan romawi. Sampai sekarang
beberapa koin tersebut tersimpan disejumlah museum di timur tengah (Hitti,
2005: 108-136 dan Abdullah [ed], 2002: 14-18).
Sejak
islam datang, nilai-nilai keadilan dan persamaan mulai dimasukkan dalam
perekonomian masyarakat Arab. Misalnya, dalam hal pertanian dan perdagangan,
islam mengayakannya dengan semangat keadilan, kejujuran, dan kesamaan. Kalangan
kaya tidak diperbolehkan memonopoli perekonomian dan memperbudak yang
miskin.Nabi SAW mencontohkan bagaimana orang kaya membantu dan membina yang miskin
sehingga mereka bisa mandiri secara ekonomi.
Pada
masa kegelapan di Arab tidak ada pendidikan dan budaya dengan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang tinggi, namun mereka tidak pernah berpisah dengan aktifitas
budaya.Sastra Arab itu sangat maju dan memiliki arti penting dalam kehidupan
bangsa Arab.Sastra mereka sangat tinggi nilainya maka sejarawan dan ahli budaya
Barat menyamakan dengan kemajuan sastra-sastra modern Eropa. Sebelum
kedatangan Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW, di dunia Arab terdapat bermacam
agama terdapat bermacam agama, yaitu paganism, Kristen, Yahudi, dan Majusi.
Masyarakat arab telah mengenal agama tauhid semenjak kehadiran Ibrahim.
Bekas-bekas agama Nabi Ibrahimmasih tersisa ketika Islam diperkenalkan pada
masyarakat Arab.Bekas yang masih sangat terasa adalah penyebutan Allah sebagai
Tuhan mereka. Secara fisik peninggalan Ibrahim dan Ismail yang masih
terpelihara adalah Bait al-Allah atau
Ka’bah yang berada di kota Mekah. Kegiatan ritual keagamaan masih dilakukan
dengan menyebut-nyebut nama Allah di sekitar rumah-Nya.
Sejarah mencatat, bahwa menjelang
kelahiran Muhammad, bangsa Arab masih menempatkan Allah sebagai Tuhannya
walaupun dalam perkembangan berikutnya mengalami proses pembiasan yang
mengakibatkan terjadinya pengingkaran prinsip tauhid. Pada umunya, mereka menjadikan berhala sebagai sesuatu yang
sangat dekat dengan mereka.Karena itu, mereka biasa disebut sebagai penyembah
berhala atau paganisme. Penyembahan
berhala ini, pada mulanya terjadi ketika orang-orang Arab pergi ke luar kota
Mekah. Mereka selalu membawa batu yang diambil dari sekitar Ka’bah.Mereka
menyucikan batu dan menyembahnya di mana pun mereka berada.Lama-kelamaan
dibuatlah patung yang terbuat dari batu untuk disembah dan orang
mengelilinginya (tawaf).Kemudian mereka
memindahkan patung-patung itu dan jumlahnya mencapai 360 buah dan diletakkannya
di sekitar Ka’bah.
Di samping itu, ada patung-patung
yang tetap berada di luar Mekah. Beberapa patung yang terkenal, antara lain,
adalah Manah atau Manata di dekat Yasrib atau Madinah; Al-Latta di Taif
(menurut catatan sejarah ini adalah patung yang tertua); al-Uzza di Hijaz; dan
Hubal atau patung terbesar, terbuat dari batu akik, berbentuk manusia dan
diletakkan di dalam Ka’bah mereka percaya; menyembah berhala-berhala itu bukan
berarti menyembah wujudnya, tetapi hal itu dimaksudkan sebagai perantara untuk
menyembah Tuhan. Pernyataan ini sebagaimana diterangkan dalam al-Qur’an, bahwa
kami tidak menyembah kepada mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan kami
kepada Allah dengan sedekat-dekatnya (Q. S. 39 [al-Zumar]:3). Masa itu disebut
sebagai masa jahiliyah, masa kegelapan, masa kebodohan dalam moral (agama),
bukan dalam hal seperti ekonomi perdagangan, dan sastra.Mereka beragama dengan
mengagungkan anggapan-anggapan mereka sendiri.Beberapa perilaku Arab pra-Islam,
banyak dicatat dalam sejarah adalah membunuh anak perempuan, melembagakan
perbudakan, dan sebagainya (Rahman, 1977:7-9 dan Munthoha dkk, 2002: 21-23).
Menjelang lahirnya Muhammad ibn
Abdullah di masyarakat Arab terdapat sekelompok orang yang dikenal sebagai kaum
Hanif, penganut agama nabi Ibrahim.Mereka sangat sedih atas perlakuan bangsa
Arab yang rusak moral mereka akibat merosotnya kondisi sosial, ekonomi, politik
dan agama. Telah disebut, sebagai misal: begitu bayi lahir langsung dibunuh,
dikarenakan pembawa aib bagi keluarga. Melihat keadaan bangsa Arab sedemikian
rapuh moralnya, maka mereka kaum Hanif menanti dan mengharapkan kehadiran
seorang maha pemimpin yang dapat menyelamatkan dan membebaskan dari kondisi
keterpurukan itu. Oleh karena itu, kehadiran Muhammad saat itu sangat tepat
sekali dan sangat dinanti-nantikan seperti ungkapan Hitti –the stage was set, the moment was psychological, for the rise of great
religious and national leader (Karim, 1972: 26)—tepat sekali.
Dapat dikatakan, bahwa dari
kebudayaan Arab, islam memelihara, memperbaiki, dan mengembangkan, serta
menyempurnakan beberapa hal seperti system moral, tata pergaulan, strategi perang
– 100% ditiru islam--, dan hukum keluarga. Al-Quran dan sunah memberikan
perubahan yang nyata bagi bangsa Arab dan bangsa-bangsa yang memeluk islam
tentang pandangan dunia, tujuan hidup, peribadatan, dan sebagainya. Hal ini
kemudian menjadi bagian utama dari pemikiran dan peradaban islam. Itu semua
didukung oleh kreativitas umat islam sendiri yang memang diberi ruang yang luas
untuk bergerak.
B. Dakwah Makkah Nabi Muhammad SAW
a. Periode Makkah
Sejarah islam membagi sejarah hidup rasul ke dalam dua babak, yaitu sejarah
ketika rasul di Makkah dan sejarah hidup rasul di Madinah. Sebelum islam datang
di tanah Arab, sebenarnya masyarakat Arab bukan tidak berkeyakinan, mereka
sudah memiliki keyakinan tertentu yang dikenal dengan paganisme, mereka tidak
mengingkari adanya Tuhan, tetapi mereka umumnya menggunakan perantara yaitu patung-patung atau
berhala untuk menyembah Tuhan mereka.
Orang- orang Arab juga hidupnya suka berpindah-pindah tempat atau yang
disebut nomaden, mereka suka mengebara kemana-mana. Itu bisa dipahami karena
kondisi alam bangsa Arab memang kebanyakan
tandus dan kurang subur.karena kondisi alam seperti inilah terkadang
menjadikan mereka memiliki watak yang keras. Mereka suka berperang, kaum
laki-laki menjadi dominan dalam posisi
ini, sehingga ketika mereka emiliki anak-anak laki-laki mereka bangga , tetapi
sebaliknya ketika mereka mendapatkan anak perempuan mereka mersas aib dan malu,
karena tidak bisa diajak berperang, maka banyak yang mereka bunuh.[2]
1)
Sebelum
masa kerasulan
Nabi
Muhammad SAW adalah anggota Bani Hasyim, suatu kabilah yang kurang berkuasa
dalam suku Quraisy.Kabilah ini memegang jabatan Siqayah.Nabi Muhammad lahir
dari keluarga terhormat yang relative miskin.Ayahnya bernama Abdullah anak
Abdul Mutholib, seorang kepala suku Quraisy yang besar pengaruhnya.Ibunya adalah
Aminah binti Wahab dari Bani Zuhrah. Tahun kelahiran nabi dikenal dengan nama
Tahun Gajah (570 M). Di namakan
demikian, karena pada tahun itu pasukan Abrahah, gubernur Kerajaan Habsyi
(Ethiopia), dengan menunggang gajah menyerbu makkah untuk menghancurkan Ka’bah.
Dalam
usia muda, Muhammad hidup sebagai penggembala kambing keluarganya dan kambing
penduduk Makkah. Melalui kegiatan
penggembalaan ini dia menemukan tempat untuk berfikir dan merenung.
Dalam suasana demikian, dia ingin melihat sesuatu di balik semuanya. Pemikiran
dan perenungan ini membuatnya jauh dari segala pemikiran nafsu duniawi,
sehingga ia terhindar dari berbagai macam noda yang dapat merusak namanya,
karena itu sejak muda ia sudah dijuluki al-amin, orang yang terpercaya.
Pada
usia kedua puluh lima, Muhammad berangkat ke Syiria membawa barang dagangan
saudagar wanita kaya raya yang telah lama menjanda, Khadijah. Dalam perdagangan
ini, Muhammad memperoleh laba yang besar.Khadijah kemudian melamarnya.Lamaran
itu diterima dan perkawinan segera dilaksanakan.Ketika itu Muhammad berusia 25
tahun dan Khadijah 40 tahun.Dalam perkembangan selanjutnya, Khadijah adalah
wanita pertama yang masuk Islam dan banyak membantu nabi dalam perjuangan
menyebarkan Islam. Perkawinan nabi dengan Khadijah dikaruniani enam orang anak
dua putra dan empat puteri: Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqoyah, Ummu Kulsum, dan
Fatimah. Kedua putranya meninggal waktu kecil.Nabi Muhammad tidak kawin lagi
sampai Khadijah meninggal ketika Muhammad berusia 50 tahun.
2)
Masa
kerasulan
Penunjukannya sebagai nabi ditandai
dengan turunnya wahyu Ilahi ketika ia berada di Gua Hira, tepatnya saat ia
berusia 40 tahun. Wahyu pertama yang diterimanya adalah Surat al-Alaq, ayat
1-5.Dengan wahyu pertama ini, Muhammad SAW telah diangkat sebagai Nabi Allah.[3]
. Pada
tiga tahun pertama, dakwah islam dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Nabi
Muhammad mulai melaksanakan dakwah islam di lingkungan keluarga, mula-mula
istri beliau sendiri, yaitu Khadijah, yang menerima dakwah beliau, kemudian Ali
bin Abi Thalib, Abu Bakar sahabat beliau, lalu Zaid, bekas budak beliau. Di
samping itu, juga banyak orang yang masuk islam dengan perantaraan Abu Bakar
yang dikenal dengan julukan Assabiqunal
Awwalun[4](orang-orang
yang lebih dulu masuk islam), mereka adalah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwan,
Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdur Rahman bin ‘Auf, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Abu
‘Ubidah bin Jarrah, dan Al-Arqam bin Abil Arqam, yang rumahnya dijadikan markas
untuk berdakwah (rumah Arqam).
Setelah dakwah
terang-terangan dilakukan oleh Nabi, banyak pemimpin Quraisy mulai berusaha
menghalangi dakwah rasul.Semakin bertambahnya jumlah pengikut nabi, semakin
keras tantangan dilancarkan kaum Quraisy. Menurut Ahmad Syalabi, ada lima
faktor yang mendorong orang Quraisy menentang seruan Islam itu antara lain:
(1) Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaaan.
Mereka mengira bahwa tunduk kepada seruan Muhammad berarti tunduk kepada
kepemimpinan Bany Abdul Muthalib.Yang terakhir ini sangat tidak mereka
inginkan.
(2) Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan
hamba sahaya.Hal ini tidak disetujui oleh kelas bangsawan Quraisy.
(3) Para pemimpin Quraisy
tidak dapat menerima ajran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di
akhirat.
(4) Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat
berakar pada bangsa Arab.
(5) Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang
rezeki.[5]
Banyak cara
dan upaya yang ditempuh para pemimpin Quraisy untuk mencegah dakwah Nabi
Muhammad SAW, namun selalu gagal, baik secara diplomatik dan bujuk rayu maupun
tindakan-tindakan kekerasan secara fisik. Tekanan dari orang-orang kafir
semakin keras terhadap gerakan dakwah Nabi Muhammad SAW, terlebih setelah
meninggalnya dua orang yang selalu melindungi dan menyokong Nabi Muhammad dari
orang-orang kafir, yaitu paman beliau, Abu Thalib, dan istri tercinta beliau,
Khadijah. Peristiwa itu terjadi pada tahun kesepuluh
kenabian.Tahun ini merupakan tahun kesedihan bagi Nabi Muhammad SAW.[6]
Karena di Mekah dakwah Nabi Muhammad SAW
mendapat rintangan dan tekanan, pada akhirnya nabi memutuskan untuk berdakwah
di luar Mekah.Namun, di Thaif beliau dicaci dan dilempari batu sampai beliau
terluka.Hal ini semua hampir menyebabkan Nabi Muhammad putus asa, sehingga
untuk menguatkan hati beliau, Allah SWT mengutus dan mengisra’ dan memi’rajkan
beliau pada tahun kesepuluh kenabian itu.Berita tentang Isra’ dan Mi’raj ini
menggemparkan masyarakat Mekah.Bagi orang kafir, peristiwa ini dijadikan bahan
propaganda untuk mendustakan Nabi Muhammad SAW.Sedangkan bagi orang yang
beriman ini merupakan ujian keimanan.
Setelah peristiwa Isra’ dan Mi’raj,
suatu perkembangan besar bagi kemajuan dakwah islam terjadi, yaitu dengan
datangnya sejumlah penduduk Yatsrib (Madinah) untuk berhaji ke Mekah. Mereka
terdiri dari dua suku yang saling bermusuhan, yaitu suku Aus dan Khazraj[7]
yang masuk islam dalam tiga gelombang. Pada gelombang pertama pada tahun
kesepuluh kenabian, mereka dating untuk memeluk agama Islam dan menerapkan
ajarannya sebagai upaya untuk mendamaikan permusuhan antara kedua suku.Mereka
kemudian mendakwahkan Islam di Yatsrib. Gelombang kedua, pada tahun ke-12
kenabian mereka dating kembali menemui nabi dan mengadakan perjanjian yang
dikenal dengan perjanjian “Aqabah pertama”, yang berisi ikrar kesetiaan.
Rombongan ini kemudian ke Yatsrib sebagai juru dakwah disertai oleh Mus’ab bin
Umair yang diutus oleh nabi untuk berdakwah bersama mereka. Gelombang ketiga,
pada tahun ke-13 kenabian, mereka dating kembali pada nabi untuk hijrah ke
Yatsrib. Mereka akan membai’at nabi sebagai pemimpin. Nabi pun akhirnya
menyetujui usul mereka untuk berhijrah. Perjanjian ini disebut perjanjian
“Aqabah kedua” karena terjadi pada tempat yang sama.
Akhirnya Nabi Muhammad bersama kurang
lebih 150 kaum muslimin hijrah ke Yatsrib. Dan ketika sampai di sana, sebagai
penghormatan terhadap nabi, nama Yatsrib diubah menjadi Madinah.[8]
C. Pembentukan Sistem Sosial di Makkah
Bila dilihat
dari segi sosiologis dan antropologis bangsa Arab mempunyai tingkat solidaritas
dan budaya yang tinggi.Bila salah seorang dari warganya, atau
pengikut-pengikutnya dianiaya atau dilanggar haknya, maka menjadi kewajiban
atas kabilah atau suku itu menuntut bela.Bangsa Arab mempunyai budaya yang
tinggi itu dapat diketahui dari kerajaraan-kerajaan yang berdiri di Yaman.Dari
Bani Qathan ini telah berdiri kerajaan-kerajaan yang berkuasa di daerah Yaman,
di antaranya yang terpenting adalah kerajaan Ma’in, Quthban, Saba’ dan Himyar.
1.
Kerajaan
Ma’in (Ma’niyah)
Kerajaan Ma’in
ini berdiri kira-kira 1200 th SM, di Yaman.kerajaan Ma’in ini didirikan oleh
suku Ma’in yaitu suatu suku yang terbilang besar di antara suku-suku dari Bani
Qathan. Bentuk pemerintahan mereka adalah monarki yang demokratis.Rajanya
memerintah secara turun-menurun kepada anak, dan kadang-kadang terdapat pula
raja memegang kekuasaan bersama anaknya.Di samping raja ada majelis umum,
sedang di kota-kota dibentuk pemerintahan setempat.
2.
Kerajaan
Quthban
Kerajaan
Quthban berdiri di Yaman selatan kurang lebih 1000 SM. Ibu kotanya
Quthban.Kerajaan Quthban ini mempunyai kedudukan terpenting dalam sejarah
karena penguasaan dan pengawasan mereka terhadap selat Bab el- Mandep.Selat Beb
el-Mandep termasuk salah satu pusat perniagaan di masa itu.
3.
Kerajaan
Saba’
Kerajaan Saba’
berdiri kira-kira tahun 950 SM. Kerajaan Saba’ dibangun oleh rajanya yang
pertama yang bernama Saba’ Abdu Syam ibn Yasyjub ibn Ya’rub dan Qathan. Oleh
karena daerah Yaman adalah daerah kering, karena tidak ada sebuah sungai pun
mengalir di Yaman ini, dan hujannya adalah hujan musiman yang hanya turun pada
musim panas saja, maka oleh raja Saba’ membangun sebuah bendungan air di dekat
kota Ma’aribini, yang dikenal dalam sejarah dengan sebutan “Saddu Ma’arib”
(Bendungan Ma’arib).
4.
Kerajaan
Himyar (Himyariyah)
Kerajaan Himyar
berdiri kira-kira tahun 115 SM. Didirikan oleh suku Himyar, sedang asal-usul
suku Himyar itu adalah seorang di antara saudara-saudara raja Saba’ pendiri
kerajaan Saba’iyah.[9]
IV.
KESIMPULAN
Sebelum islam, kondisi dan kedudukan
wanita sumbernya bervariasi. Ada yang menyatakan, bahwa di kalangan bangsa Arab
terdapat beberapa kepala suku wanita, seperti Ummu Aufah, Kindah, dan
sebagainya yang berdiam di Mekah, Madinah, Yaman dan sebagainya.
Sejak islam datang, nilai-nilai keadilan
dan persamaan mulai dimasukkan dalam perekonomian masyarakat Arab. Misalnya,
dalam hal pertanian dan perdagangan, islam mengayakannya dengan semangat
keadilan, kejujuran, dan kesamaan. Kalangan kaya tidak diperbolehkan memonopoli
perekonomian dan memperbudak yang miskin.
Sebelum kedatangan Islam yang dibawa
oleh Muhammad SAW, di dunia Arab terdapat bermacam agama terdapat bermacam
agama, yaitu paganism, Kristen, Yahudi, dan Majusi. Masyarakat arab telah
mengenal agama tauhid semenjak kehadiran Ibrahim. Bekas-bekas agama Nabi
Ibrahimmasih tersisa ketika Islam diperkenalkan pada masyarakat Arab.Bekas yang
masih sangat terasa adalah penyebutan Allah sebagai Tuhan mereka.
Dapat dikatakan, bahwa dari kebudayaan
Arab, islam memelihara, memperbaiki, dan mengembangkan, serta menyempurnakan
beberapa hal seperti system moral, tata pergaulan, strategi perang – 100%
ditiru islam--, dan hukum keluarga.
Dalam usia
muda, Muhammad hidup sebagai penggembala kambing keluarganya dan kambing
penduduk Makkah.Pada usia kedua puluh lima, Muhammad berangkat ke Syiria
membawa barang dagangan saudagar wanita kaya raya yang telah lama menjanda,
Khadijah. Dalam perdagangan ini, Muhammad memperoleh laba yang besar.Khadijah
kemudian melamarnya.Lamaran itu diterima dan perkawinan segera
dilaksanakan.Ketika itu Muhammad berusia 25 tahun dan Khadijah 40 tahun.Dalam
perkembangan selanjutnya, Khadijah adalah wanita pertama yang masuk Islam dan
banyak membantu nabi dalam perjuangan menyebarkan Islam.
Penunjukannya sebagai nabi ditandai
dengan turunnya wahyu Ilahi ketika ia berada di Gua Hira, tepatnya saat ia
berusia 40 tahun. Wahyu pertama yang diterimanya adalah Surat al-Alaq, ayat
1-5.Dengan wahyu pertama ini, Muhammad SAW telah diangkat sebagai Nabi Allah.
Pada tiga tahun pertama, dakwah islam
dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Nabi Muhammad mulai melaksanakan dakwah
islam di lingkungan keluarga, mula-mula istri beliau sendiri, yaitu Khadijah,
yang menerima dakwah beliau, kemudian Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar sahabat
beliau, lalu Zaid, bekas budak beliau.Setelah
dakwah terang-terangan dilakukan oleh Nabi, banyak pemimpin Quraisy mulai
berusaha menghalangi dakwah rasul.Ditengah keputus asaan Nabi Muhammad, Allah
SWT mengutus dan mengisra’ dan memi’rajkan beliau pada tahun kesepuluh kenabian
itu.Berita tentang Isra’ dan Mi’raj ini menggemparkan masyarakat Mekah.
Dilihat dari
segi sosiologis dan antropologis bangsa Arab mempunyai tingkat solidaritas dan
budaya yang tinggi.Bila salah seorang dari warganya, atau pengikut-pengikutnya
dianiaya atau dilanggar haknya, maka menjadi kewajiban atas kabilah atau suku
itu menuntut bela.Bangsa Arab mempunyai budaya yang tinggi itu dapat diketahui
dari kerajaraan-kerajaan yang berdiri di Yaman.Dari Bani Qathan ini telah
berdiri kerajaan-kerajaan yang berkuasa di daerah Yaman, di antaranya yang
terpenting adalah kerajaan Ma’in, Quthban, Saba’ dan Himyar.
V.
PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami buat.Kami menyadari dalam penulisan makalah
ini banyak kekurangan, kami mengharap kritik dan saran yang sifatnya membangun
guna kesempurnaan makalah kami.Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi pemakalah dan pembaca.Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Amin,
Munir, Samsul, M.A, Dr.Sejarah Peradaban
Islam. Jakarta: AMZAH
Fuadi, Imam. 2011. Sejarah
Peradaban Islam.Yogyakarta: Teras
Karim, Abdul, M.Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam.Yogyakarta:
Pustaka Book Publisher
Mufrodi,
Ali, Dr.1997. Islam di Kawasan Kebudayaan
Arab. Jakarta: Logos
Syalabi, Ahmad, Prof. Dr. 1998.Sejarah dan Kebudayaan Islam: Imperium Turki
Usmani. Jakarta: Kalam Mulia
Syukur, Fatah. 2002.Sejarah Peradaban
Islam. Semarang: PUSTAKA RIZKI PUTRA
Yatim,
Badri. 2010.Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: RAJA GRAFINDO PERSADA
[1] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta:
Pustaka Book Publisher, 2007), hlm 50-53.
[2]Imam
fuadi. Sejarah Peradaban Islam.(Yogyakarta: Teras, 2011), hlm 1-2
[3] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam,
(Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), hlm 63.
[4] Dr. Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab,
(Jakarta: Logos, 1997), hlm 20.
[5] Badri Yatim, Sejarah Peradaban
Islam, (Jakarta: RAJA GRAFINDO PERSADA, 2010), hal.16-20
[6] Dr. Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab,
(Jakarta: Logos, 1997), hlm 20.
[7] Prof. Dr. Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam: Imperium Turki
Usmani, (Jakarta: Kalam Mulia, 1988), hlm 104
[8] Drs, Samsul Munir Amin, M.A, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:
AMZAH, 2009), hlm 68.
[9] Fatah Syukur, Sejarah
Peradaban Islam, (Semarang: PUSTAKA RIZKI PUTRA, 2002), hal.22-24
Tidak ada komentar:
Posting Komentar