Páginas

Rabu, 29 Oktober 2014

Artikel tentang UAN






            UAN yang dilakasanakan pada setiap akhir tahun pelajaran di kelas VI, IX, ataupun kelas XII. Sampai saat ini masih menjadi setan orang yang bodoh. Bukan karena orang bodoh tak rajin beribadah, jadi teman setan. Tapi karena orang bodoh malas ataupun tak menyukai apa yang dinamakan UAN, dan UAN dianggap sebagai setan. Memang, UAN jangan pernah kita remehkan, tapi tak perlu juga kita takutkan. Anggaplah UAN sebagai teman kita, yang memudahkan kita dalam mengukir prestasi. UAN adalah tangga menuju masa depan. Apabila kita berhasil menempuh UAN, maka kita sudah berada pada tingkatan tangga selanjutnya. Tapi apabila kita tak sanggup menempuh UAN, maka tangga itu akan patah menampung tubuh kita.
            UAN yang merupakan program pemerintah ini, sebenarnya untuk mendorong siswa supaya tidak masa bodo dengan apa yang dinamakan sekolah. Tapi untuk membuat siswa merasa bertanggung jawab sebagai seorang pelajar, yang mempunyai tugas belajar. Jika UAN tidak dilaksanakan ataupun tidak ada, mungkin banyak siswa yang sering absen dalam pelajaran. Karena mereka tak mempunyai beban, dan akan tenang-tenang saja. Bahkan setiap hari mereka hanya melakukan hal yang itu saja, tak pernah mereka merasakan pusing dan susahnya sebagai anak sekolah. Seperti halnya pekerjaan rumah (PR), mungkin siswa tak akan mengerjakannya.
            Dalam perjalanan manuju UAN, kita tidak membutuhkan waktu sekejap. Bukan seperti tetesan air hujan yang begitu cepat membasahi tanah. Tapi UAN itu butuh perjalanan yang lama untuk mencapainya, bukan hanya SMA tapi juga SD dan SMP. Banyak program – program yang dipersiapkan untuk menyambut kedatangannya. Bahkan ada yang rela menghabiskan uang, waktu, tenaga, pikiran dan kesenangannya hanya untuk waktu relatif singkat, yaitu 3 hari. Di sekolah pengayaan ataupun les - les setiap tahunnya digalakkan. Program bimbingan pun banyak dipilih siswa untuk mengatasi UAN. Tak jarang dari mereka, berangkat pagi pulang sore. Pengorbanan yang begitu berat dan melelahkan. Seharian penuh siswa dituntut untuk belajar, baik materi UAN ataupun UAS. Persiapan yng matang pun harus disiapkan dari sekarang. Jangan sampai kita menyiapkan payung, tapi hujan sudah turun. Persiapan tak hanya materi pelajaran yang akan diajarkan, tetapi juga persiapan kesehatan. Kita sudah belajar mati-matian, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Tapi bagaimana jika pada saat hari “H” ataupun hari UAN berlangsung, kesehatan drop ? Apakah kita akan bisa mengerjakannya ? Jadi, persiapan apa pun haruskita siapkan sebelum hari itu tiba.
            Bukan Cuma kita berusaha, tapi usaha juga disertai do’a. Maka dari itu, jika kita belum dekat dengan Allah, dekatkanlah diri kita pada-Nya. Hadirkan selalu diri-Nya di hati dan pikiran kita, setiap detik ataupun setiap menit. Bukan untuk saat ini saja, tapi juga untuk selama-lamanya. Disaat susah kita butuh Allah, selalu mengingatnya dan meminta pertolongannya, tapi apakah disaat senang kita juga mengingatnya ? Tak jarang kita malah tak menghadirkannya dalam hati kita. Janganlah kita anggap Allah seperti baju atau sepatu. Yang saat masih baru kita selalu memakainya, tapi disaat sudah lama kita membiarkannya.
            UAN bukanlah ujian terberat kita, namun ujian terberat kita adalah hidup di dunia. UAN dibuat oleh orang dalam bentuk teks, tapi ujian kehidupan dibuat oleh Sang Pencipta dan bukan dalam bentuk teks. Jadi janganlah takut dengan UAN dan mencatat namanya sebagai sosok yang menyerupai setan.
            Kelulusan diperoleh dari nilai UAN dan juga dari nilai raport. Optimislah dan selalu positive thinking terhadap apa yang kita lakukan. Bahwa kita bisa menapaki UAN dan menghilangkan rasa takut kita.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar