UAN yang
dilakasanakan pada setiap akhir tahun pelajaran di kelas VI, IX, ataupun kelas
XII. Sampai saat ini masih menjadi setan orang yang bodoh. Bukan karena orang
bodoh tak rajin beribadah, jadi teman setan. Tapi karena orang bodoh malas
ataupun tak menyukai apa yang dinamakan UAN, dan UAN dianggap sebagai setan.
Memang, UAN jangan pernah kita remehkan, tapi tak perlu juga kita takutkan.
Anggaplah UAN sebagai teman kita, yang memudahkan kita dalam mengukir prestasi.
UAN adalah tangga menuju masa depan. Apabila kita berhasil menempuh UAN, maka
kita sudah berada pada tingkatan tangga selanjutnya. Tapi apabila kita tak
sanggup menempuh UAN, maka tangga itu akan patah menampung tubuh kita.
UAN yang
merupakan program pemerintah ini, sebenarnya untuk mendorong siswa supaya tidak
masa bodo dengan apa yang dinamakan sekolah. Tapi untuk membuat siswa merasa
bertanggung jawab sebagai seorang pelajar, yang mempunyai tugas belajar. Jika
UAN tidak dilaksanakan ataupun tidak ada, mungkin banyak siswa yang sering absen
dalam pelajaran. Karena mereka tak mempunyai beban, dan akan tenang-tenang
saja. Bahkan setiap hari mereka hanya melakukan hal yang itu saja, tak pernah
mereka merasakan pusing dan susahnya sebagai anak sekolah. Seperti halnya
pekerjaan rumah (PR), mungkin siswa tak akan mengerjakannya.
Dalam
perjalanan manuju UAN, kita tidak membutuhkan waktu sekejap. Bukan seperti
tetesan air hujan yang begitu cepat membasahi tanah. Tapi UAN itu butuh
perjalanan yang lama untuk mencapainya, bukan hanya SMA tapi juga SD dan SMP.
Banyak program – program yang dipersiapkan untuk menyambut kedatangannya.
Bahkan ada yang rela menghabiskan uang, waktu, tenaga, pikiran dan
kesenangannya hanya untuk waktu relatif singkat, yaitu 3 hari. Di sekolah
pengayaan ataupun les - les setiap tahunnya digalakkan. Program bimbingan pun
banyak dipilih siswa untuk mengatasi UAN. Tak jarang dari mereka, berangkat
pagi pulang sore. Pengorbanan yang begitu berat dan melelahkan. Seharian penuh
siswa dituntut untuk belajar, baik materi UAN ataupun UAS. Persiapan yng matang
pun harus disiapkan dari sekarang. Jangan sampai kita menyiapkan payung, tapi
hujan sudah turun. Persiapan tak hanya materi pelajaran yang akan diajarkan,
tetapi juga persiapan kesehatan. Kita sudah belajar mati-matian, dari bangun tidur
sampai tidur lagi. Tapi bagaimana jika pada saat hari “H” ataupun hari UAN
berlangsung, kesehatan drop ? Apakah kita akan bisa mengerjakannya ? Jadi,
persiapan apa pun haruskita siapkan sebelum hari itu tiba.
Bukan Cuma
kita berusaha, tapi usaha juga disertai do’a. Maka dari itu, jika kita belum
dekat dengan Allah, dekatkanlah diri kita pada-Nya. Hadirkan selalu diri-Nya di
hati dan pikiran kita, setiap detik ataupun setiap menit. Bukan untuk saat ini
saja, tapi juga untuk selama-lamanya. Disaat susah kita butuh Allah, selalu
mengingatnya dan meminta pertolongannya, tapi apakah disaat senang kita juga
mengingatnya ? Tak jarang kita malah tak menghadirkannya dalam hati kita.
Janganlah kita anggap Allah seperti baju atau sepatu. Yang saat masih baru kita
selalu memakainya, tapi disaat sudah lama kita membiarkannya.
UAN bukanlah
ujian terberat kita, namun ujian terberat kita adalah hidup di dunia. UAN
dibuat oleh orang dalam bentuk teks, tapi ujian kehidupan dibuat oleh Sang
Pencipta dan bukan dalam bentuk teks. Jadi janganlah takut dengan UAN dan
mencatat namanya sebagai sosok yang menyerupai setan.
Kelulusan diperoleh
dari nilai UAN dan juga dari nilai raport. Optimislah dan selalu positive thinking terhadap apa yang kita
lakukan. Bahwa kita bisa menapaki UAN dan menghilangkan rasa takut kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar