UJUNG CITA DAN CINTA
Dag dig dug...Dag dig dug...Dag dig dug
Bunyi alunan gendang ,,, eh bukan
lah....
Bunyi gendang itu bertalun-talun...
Suara dari hati
seorang siswa yang sedang menunggu keputusan mengenai mimpinya yang masih
panjang. Perasaan yang campur aduk mirip kopi coklat dan kopi putih. Bukan
donk... Nggak ada kali kopi putih. Ia sedang menunggu pengumuman kelulusannya
ditingkat SLTA. Siapa pun yang mengalaminya pasti tak akan pernah tenang. Ia
adalah Trio. Murid SMA N 1 MERPATI yang jauh dari rumahnya. Sebuah sekolah yang
berada di dataran tinggi, dan daerah
terpencil yang berada di kota Bandung. Ia juga tinggal disebuah pondok
pesantren khusus laki-laki.
“Woi....!!! Don’t melamun....” Kata
seorang sahabatnya yang bernama Aji.
“Ye... Siapa yang melamun. Aku itu takut kalau nanti nilai UN nya jelek, dan
tahu nggak dari tadi detakan dari jantung aku keras dan cepet banget.”
“Nggak usah takut. Positive thinking
lah.”
“Memang dari tadi jantung kamu diem
apa?”
“Kalau diem, berarti aku hantu bro.”
Jawab Aji dengan nada manja.
Suara tertawa datang dengan tiba-tiba
dari belakang mereka. Mereka adalah teman-teman keduanya yang bernama Yogi,
Ryan dan Yudi.
Mereka berkawan sejak kelas X dan
mereka sama-sama berada pada program jurusan IPA. Aji dan Trio berada di kelas
XII IPA 1, sedangkan Ryan, Yogi dan Yudi di XII IPA 2. Rumah mereka juga satu provinsi yaitu Jateng dan
sama-samaanak pesantren yang pasti juga satu kamar. Setiap pagi mereka selalu
berangkat bersama dengan sepedanya masing-masing. Tidak seperti anak SMA
kebanyakan yang berangkat sekolah naik
motor.
Akhirnya pengumuman itu pun mulai dibacakan, dan nama siswa satu
per satu pun dipanggil. Seperti Aji yang berada satu kelas dengan Trio lebih
dulu dipanggil, begitu pula Ryan, Yogi, dan Yudi yang berada di kelas lain
sudah mendapatkan hasil UN nya masing-masing. Baru tepat pada Pukul 12.05 WIB, nama Trio pun
dipanggil.
Darah
ku mengalir deras
Jantungku berdetak cepat
Eksekusi hidupku akan ku lalui
Bersama langkah tanpa kepastian
Sebuah hasil dengan
tuangan tinta
Sebuah lembaran
dokumen abadi
Akan ku terima dengan
banyak pengorbanan
Waktu, uang, kesempatan,
pikiran, energi tlah ku pertaruhkan
Demi secercah harapan
dimasa penghabisanku
Lantunan puisi itu adalah suara hati
Trio. Ia lalu majuke depan untuk mengambil selembar dokumen yang dari tadi ia
tunggu-tunggu. Dengan indera penglihatannya ia mulai mengikuti arah mata angin.
Eh bukan maksudnya mengikuti inti dokumen itu, dan pada beberapa deretan angka
ia berhenti. Angka 78 keatas pun ia peroleh dari 6 pelajaran yang diujikan.Dan
ia bersujud pada saat itu juga. Tanpa sadar kalau ia mencium sepatu gurunya.
Ledakantawa pun terus bergemuruh.
“Woi... lagi sungkeman ya...?” Teman-temannya
tak kalah mengejeknya.
Acara itu pun selesai, mereka berlima
pulang bersama dengan sepeda masing-masing. Jalan menuju pondok pesantren
mereka berkelak-kelok, menaiki gunung, menuruni lembah. Itu yang mereka alami
setiap hari, jika tidak libur sekolah.
“Ayo sekarang kita balapan. Siapa yang
menang ia yang ngga kalah.” Kata Ryan.
Mereka berbalapan dalam mengayuh
sepeda. Untungnya jalan yang mereka lewati sepi, tak ada motor atau pun mobil
yang berlalu lalang.
Akhirnya sepeda Trio berada pada nomer
urut terdepan. Tetapi tepat di depan tempat pemberhentian angkot ia bertemu dengan temannya satu sekolah. Ia
adalah seorang wanita keturunan hawa. Ya iyalah, wanita ya keturunan hawa. Ia bernama
Ira. Mereka sudah kenal sejak kelas X.Ira adalah wanita asli Bandung, sedang
Trio asli Semarang. Dan akhirnya sepeda Trio terhenti. Ia mengajak gadis yang
di depannya untuk pulang bersamanya.
“Hai...!” Sapa Trio
“Hai juga...” Jawab Ira
“Gimana kalau sepeda aku ini menjadi
kereta kencana untuk sang putri...?” Kata Trio.
“Dasar sok puitis. Iya deh sang
kurcaci.” Balas Ira.
“Kok kurcaci si. Harusnya itu sang
pangeran.”
“Sang Kurcaci dan Sang Putri ayo buruan
bentar lagi sore.” Ledek teman-teman Trio yang dari tadi sudah menguping
perbicaraan mereka.
“Jangan ngebut ya...!” Kata Ira kepada
Trio.
“Teman-teman ayo kita contoh Valentino
Rossi.” Kata Trio Ngledek.
Akhirnya mereka pun balapan lagi. Tapi
Trio absen dari turnamen antar teman itu. Karena ia sadar ia sedang
memboncengkan seorang gadis yang sudah lama ia kagumi sejak kelas X, tetapi tak
pernah ia utarakan perasaannya. Tersadar dari lamunannya bahwa dari tadi tangan
Ira pegangan di pinggang Trio saking takutnya. Trio yang merupakan anak
Pesantren lalu melepaskan tangan Ira dengan tiba-tiba.
“Maaf
bukan muhrim.”Kata Trio.
“Oh iya aku lupa, maaf ya.”
“Kalau nanti kita udah muhrim lah
boleh...Hemm...ngomong-ngomonggimana hasil UN nya...?” Kata Trio mencairkan
suasana.
“Alhamdulillah yanilainya lumayan.”
Jawab Ira.
“Kok Syahrini banget si. Yang pasti lumayan
bagus kan...?”
“Ya iya lah...”
Akhirnya mereka berdua sampai di depan
gank rumah Ira, dan teman-teman Trio sudah sampai dari tadi.
“Bro, udah dua tahun kita nunggu Sang
Kurcaci, sekarang baru datang tuh coba liat. Bikin gue ngiri aja.” Ledek Ryan lagi
sambil menepuk punggung Aji.
“Makasih ya Kurcaci.” Kata Ira
“Sama-sama. Maaf aku tidak bisa mampir,
sudah sore.” Kata Trio.
“Siapa yang nawarin...?” Ledek Ira.
Mereka pun tertawa bersama.
Sebenernya Ira juga sudah menyukai Trio
sejak lama.Sejak mereka duduk dibangku sekolah menengah atas kelas X.
Malam Harinya, Trio keluar kamarnya dan
menuju sebuah bukit yang berada persis di belakang kamarnya. Ia sering
melakukan aktivitas seperti itu terutama pada malam yang cerah dan disaat ia
jenuh setelah selesai belajar. Ia terbaring menghadap langit luas, disampingnya
terdapat sebuah pohon yang memiliki banyak cabang dan sering ia naikki. Dan di
sisi lain pun terdapat sungai yang seperti tak pernah surut airnya.
“Apa kabar bintang...? Malam ini engkau
sangat indah. Tahu nggak kalau aku tadi sudah mendapatkan hasil penilaianku
selama 3 tahun menuntut ilmu di SMA, dan hasilnya tidak mengecewakan. Aku akan
pulang ke Jogja dan melanjutkan studyku disana. Mungkin kita akan bertemu di
tempat yang berbeda.Tadi aku juga ketemu sama seorang putri jelita yang sudah
aku kagumi sejak lama. Tapi aku takut, kalau aku pulang nanti aku tidak akan
bertemu dengannya.Rasanya hari ini aku seneng banget campur sedih. Tapi aku
juga lagi gundah, aku bingung mau melanjutkan ke universitas, tapi entah
universitas mana yang mau menerima aku.” Curhat Trio kepada bintang.
Ia lalu menutup matanya merasakan
dinginnya udara, sejuknya hembusan angin, serta sunyinya malam. Sampai beberapa
saat ia tertidur pulas. Dan ia baru tersadar setelah bunyi HP nya berdering,
telpon dari Ibunya.
Satu bulan kemudian...
Trio akhirnya diterima di universitas
yang dia inginkannya yaitu UGM, dan ia memilih jurusan tekhnik kimia. Ira juga
melanjutkan studinya di UNY, jurusan Akutansi. Dan Ryan, Aji, Yudi, dan Yogi
juga meneruskan di UNY. Ryan dan Aji di Tekhnik Komputer, sedangkan Yogi dan
Yudi di jurusan Pendidikan Fisika.
“Nak, piye pengumuman pendaftarane...?”
tanya ibu Trio lewat telefon.
“Alhamdulillah bu kulo ditampi, lan minggu ngenjang kulo kedah sampun daftar
ulang,”
“Pira biaya pendaftarane...?”
“Kinten-kinten
tigong doso juta.”
Di Semarang, Ibu Trio sedang bingung
mencari uang tiga puluh juta itu. Perhiasannya talah ia jual, tapi masih kurang
banyak walaupun sudah ditambah dengan uang tabungannya.
“Piye
iki pa...? Trio wis di tampa ning
UGM, tapi duwit daftar ulange kurang
akeh mayan.” Tanya ibu Trio.
“Sabar bu...Yo wis ngesuk jajal tek nyilihna duwit ning bank.”
Trio sedang berada di rumah kakaknya
yang lebih dekat dengan Universitasnya Ira. Ia mencoba mencari no Ira di HP
nya. Dan tepat pada huruf I, diawali dengan nama Ira.
“Assalamu’alaikum...” kata Trio.
“Wa’alaikum salam...” Jawab suara
diseberang.
“Gimana kabarnya Ir...? Aku harap kau
baik-baik saja.”
“Alhamdulillah aku baik-baik saja.”
“Kamu kapan mau ke Jogja...?”
“Kangen ya...? Kayaknya aku ke Jogja
Nanti, ini sudah siap-siap.”
“Iya ni aku kangen, Ya dah ya sampai
ketemu nanti.”
Di Semarang....
“Piye
Pa...wis olih duwite...?” Tanya Ibu
Trio.
“Durung
Bu, apa aku tek nyilih maring Ika. Mbok si tanggal nom Ika ana duwitlewih, lan kae megin duwe anak siji durung sekolahdadi tanggunganne urung akeh.”
Ika adalah kakak Trio, bekerja sebagai
Polwan di Jogjakarta. Dan Suaminya adalah Dani, bekerja di sebuah Bank.
“Assalamu’alaikum...Piye kabare Ndo.” Sapa Bapak Trio lewat
Telepon
“Wa’alaikum salam... Alhamdulillah sae,Onten nopo Pak...?”Jawab Ika.
“Ndo,
adimu wis ngomong biaya daftar ulang nang
UGM...?
“Dereng
Pak...Wonten nopo si...?”
“Kiye
ndo, Bapak lan Ibu lagi kebingungen ngolet silihan maring sapa
nggo biaya kuliah adimu. Muga-muga si
ko isih ana duwit lewihan belanja.”
“Kulo
wonten arto tabungan, tapi namung
sekedik. Namung wonten gangsal
juta. Menawi Mas Dani gadeh arto namung sedoso juta.”
“Ya wis
ora papa, mengko kurange tek adol
sawah. Duwite desimpen disit, limang dina maning Bapak lan Ibu maring umahmu.”
“Nggih Pak.”
“Yo
wis... salam nggo Dani... Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam...”
Perjalanan dari Bandung menuju Jogja
memang tidak menyita waktu lama. Sorenya Ira sudah sampai di Daerah Istimewa
yang terkenal dengan batiknya. Dan Trio menjemput Ira di terminal. Tak lebih 10
menit, mereka berdua lalu sampai di rumah kakak Trio.
“Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikum salam... Silahkan masuk, oh
ini yo yang sering kamu ceritain ke kakak, cantik juga.” Sapa Kak Ika.
Muka Ira langsung merah seperti cabe
merah.
“Idih kakak... Apa-apaan si. Bikin Trio
malu aja.”
“Nglanjutin studinya di mana...?” Kata
Kak Ika.
“Alhamdulillh ya di UNY.” Jawab Trio nyrobot
mirip gaya Syahrini.
“Sok tahu kamu.” Kata Ira
“Kalian ini kaya kucing sama anjing
saja. Yo, nanti Ira diajak keliling-keliling Jogja ya.”
“Bukan kucing sama anjing kak, tapi
Kurcaci sama Sang putri. Iya nanti malam Trio ajak ke Malioboro, maklum kak dia
ngga pernah ke Maliboro bahkan mungkin dia kira Malioboro itu rumah sakit jiwa.
Nanti ke sananya pake sepeda ya kak.”Jawab Trio ngledek.
Ira lalu menyubit Trio. Dan Kak Ika
hanya bisa menggeleng kepala dan tersenyum melihat mereka berdua. Kendaraan yang
paling Trio suka adalah sepeda. Dari kecil ia kemana-mana pake sepeda. Sepeda
juga menyatukan Trio dengan teman-temnnya, seperti Aji, Yudi, Ryan, dan Yogi.
Dan tak lupa Ira.
Bapak dan Ibu Trio masih bingung
mencari pinjaman. Padahal mereka harus ke Jogja Besok sore. Dan sawahnya pun
belum laku.
Malam harinya Trio mengajak Ira
keliling Kota Gudeg itu dengan menggunakan sepeda. Dan setelah merasa capai
berevolusi di Kota Jogja, akhirnya mereka pulang. Esok paginya, Trio mengantar
Ira ke kos-kosan Ira. Tapi ia terlebih dahulu mengajak Ira ke sebuah tempat
yang sangat indah, berada di sebuah bukit yang menghadap danau.
“Aku ngajak kamu ke sini mau nunjukkin
sesuatu ke kamu. Liat ke pohon itu. Disana ada sebuah kertas, ayo kita ke
sana.” Ajak Trio.
Mereka akhirnya sampai di bawah pohon
itu, dan pohonnya bercabang. Cabang yang pertama sangat rendah, dan pada cabang
itu memang ada sebuah kertas yang diikat pita. Dan mereka berdua duduk pada
cabang itu.
“Ir,
bisa minta tolong ngga...?”
“Minta tolong apa...?”
“Tolong ambilin kertas itu, lalu baca dengan keras. Tenang, di sini ngga ada yang nganggap kamu orang gila. Lalu kamu jawab pertanyaan disitu dengan keras juga ya..?” Kata Trio.
“Minta tolong apa...?”
“Tolong ambilin kertas itu, lalu baca dengan keras. Tenang, di sini ngga ada yang nganggap kamu orang gila. Lalu kamu jawab pertanyaan disitu dengan keras juga ya..?” Kata Trio.
Ira lalu membuka kertas itu dan ia
kaget. Di tulisan itu bertuliskan, ANDA BELUM BERUNTUNG, COBA ANDA BUKA KERTAS
YANG ADA DI DALAM SARANG BURUNG ITU. Trio lalu tertawa terbahak, ia merasa
senang sudah mengerjai Ira. Dan Ira merasa malu, karena ia sudah membaca
tulisan itu dengan keras.
“Ih...kamu apa-apaan si.” Kata Ira
dengan wajah merah.
“Ayo ikutin petunjuk selanjutnya.”
“Tapi aku ngga bisa naik ke dahan itu.
Kamu mau ya aku jatuh.”
“Dasar manja. Ya udah aku ambilin.”
Ternyata pada dahan itu terdapat ulat,
dan akhirnya tangan Trio gatal-gatal. Tapi untungnya kertas di dalam sarang itu
dapat ia ambil.
“Ni baca yang keras. Tangan aku gatal
ni gara-gara kamu.”
“Satu sama!!!. Makanya jangan suka ngerjain orang. Ya udah aku baca. SANG KURCACI SAYANG SAMA SANG PUTRI. MAU NGGA SANG PUTRI JADI PACAR SANG KURCACI...? hai kertas bilang ya sama kurcaci kalau aku juga sayang sama dia.”
“Satu sama!!!. Makanya jangan suka ngerjain orang. Ya udah aku baca. SANG KURCACI SAYANG SAMA SANG PUTRI. MAU NGGA SANG PUTRI JADI PACAR SANG KURCACI...? hai kertas bilang ya sama kurcaci kalau aku juga sayang sama dia.”
Tiba-tiba Aji, Ryan, Yogi dan Yudi
datang dari sebuah bukit. Mereka ternyata yang menyiapkan itu semua dengan
komandan dari Trio, tapi Ira tidak menetahuinya.
“Thank’s ya Bro. Baru kali ini ada
Kurcaci sama Sang Putri jadian, biasanya kan yang sama Sang Putri, Sang
Pangeran.”Kata Trio.
Malam harinya...
Bapak dan Ibu Trio sudah sampai di
Jogja, tapi uangnya masih kurang.
“Ndo,
kapan kowe maring sekolahanmu...?”
Kata Bapak Trio
“Dinten
meniko, dinten pungkasan daftar
ulange.”Jawab Trio
“Tapi wis wengi ndo lan duwite urung ana.”
“Mboten
nopo-nopo, mbok ngenjing mboten
ditampi.”
“Nggeh
mangke kulo tak anter Pak. Lan Wau
bar isya kulo ngampil arto teng rencang kulo. Alhamdulillah angsal sedoso juta.” Kata Mas Dani
“Yo
wis siki langsung maring
sekolahmu, Ndo.”
Akhirnya tepat pukul 21.00 WIB Trio dan
Mas Dani ke kampus Trio. Tapi mereka sampai kampus pukul 21.20 WIB
“Mas ini ada Mahasiswa yang mau daftar
ulang.” Kata Mas Dani ke petugas.
“Maaf Mas, daftar ulangnya sudah
ditutup tadi baru saja pukul 21.00 WIB.”Kata Petugas.
“Tapi mas, kita cuma telat 20 menit.”
“Ya sudah besok anda kembali saja ke
sini, mudah-mudahan masih bisa.”
Akhirnya Trio dan Mas Dani pulang.
Mereka akan kembali esok harinya.
Esok harinya. Pagi-pagi sekali Trio dan
Mas Dani pergi ke kampus Trio.
“Mas, masih bisa kan kita daftar ulang
hari ini...?”
“Atas kebijakan kampus, kami masih
terima daftar ulang saudara.”
Dan akhirnya Trio dapat menggapai
mimpinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar