Páginas

Rabu, 29 Oktober 2014

Cerpen


PENDAKIAN KURCACI PADA
UJUNG CITA DAN CINTA


Dag dig dug...Dag dig dug...Dag dig dug
Bunyi alunan gendang ,,, eh bukan lah....
Bunyi gendang itu bertalun-talun...
Suara dari hati seorang siswa yang sedang menunggu keputusan mengenai mimpinya yang masih panjang. Perasaan yang campur aduk mirip kopi coklat dan kopi putih. Bukan donk... Nggak ada kali kopi putih. Ia sedang menunggu pengumuman kelulusannya ditingkat SLTA. Siapa pun yang mengalaminya pasti tak akan pernah tenang. Ia adalah Trio. Murid SMA N 1 MERPATI yang jauh dari rumahnya. Sebuah sekolah yang berada di dataran  tinggi, dan daerah terpencil yang berada di kota Bandung. Ia juga tinggal disebuah pondok pesantren khusus laki-laki.
“Woi....!!! Don’t melamun....” Kata seorang sahabatnya yang bernama Aji.
“Ye... Siapa yang melamun. Aku  itu takut kalau nanti nilai UN nya jelek, dan tahu nggak dari tadi detakan dari jantung aku keras dan cepet banget.”
“Nggak usah takut. Positive thinking lah.”
“Memang dari tadi jantung kamu diem apa?”
“Kalau diem, berarti aku hantu bro.” Jawab Aji dengan nada manja.
Suara tertawa datang dengan tiba-tiba dari belakang mereka. Mereka adalah teman-teman keduanya yang bernama Yogi, Ryan dan Yudi.
Mereka berkawan sejak kelas X dan mereka sama-sama berada pada program jurusan IPA. Aji dan Trio berada di kelas XII IPA 1, sedangkan Ryan, Yogi dan Yudi di XII IPA 2. Rumah  mereka juga satu provinsi yaitu Jateng dan sama-samaanak pesantren yang pasti juga satu kamar. Setiap pagi mereka selalu berangkat bersama dengan sepedanya masing-masing. Tidak seperti anak SMA kebanyakan yang berangkat sekolah naik  motor.
Akhirnya pengumuman  itu pun mulai dibacakan, dan nama siswa satu per satu pun dipanggil. Seperti Aji yang berada satu kelas dengan Trio lebih dulu dipanggil, begitu pula Ryan, Yogi, dan Yudi yang berada di kelas lain sudah mendapatkan hasil UN nya masing-masing. Baru tepat  pada Pukul 12.05 WIB, nama Trio pun dipanggil.
Darah  ku mengalir deras
Jantungku berdetak cepat
Eksekusi hidupku akan ku lalui
Bersama langkah tanpa kepastian
Sebuah hasil dengan tuangan tinta
Sebuah lembaran dokumen abadi
Akan ku terima dengan banyak pengorbanan
Waktu, uang, kesempatan, pikiran, energi tlah ku pertaruhkan
Demi secercah harapan dimasa penghabisanku
Lantunan puisi itu adalah suara hati Trio. Ia lalu majuke depan untuk mengambil selembar dokumen yang dari tadi ia tunggu-tunggu. Dengan indera penglihatannya ia mulai mengikuti arah mata angin. Eh bukan maksudnya mengikuti inti dokumen itu, dan pada beberapa deretan angka ia berhenti. Angka 78 keatas pun ia peroleh dari 6 pelajaran yang diujikan.Dan ia bersujud pada saat itu juga. Tanpa sadar kalau ia mencium sepatu gurunya. Ledakantawa pun terus bergemuruh.
“Woi... lagi sungkeman ya...?” Teman-temannya tak kalah mengejeknya.
Acara itu pun selesai, mereka berlima pulang bersama dengan sepeda masing-masing. Jalan menuju pondok pesantren mereka berkelak-kelok, menaiki gunung, menuruni lembah. Itu yang mereka alami setiap hari, jika tidak libur sekolah.
“Ayo sekarang kita balapan. Siapa yang menang ia yang ngga kalah.” Kata Ryan.
Mereka berbalapan dalam mengayuh sepeda. Untungnya jalan yang mereka lewati sepi, tak ada motor atau pun mobil yang berlalu lalang.
Akhirnya sepeda Trio berada pada nomer urut terdepan. Tetapi tepat di depan tempat pemberhentian angkot  ia bertemu dengan temannya satu sekolah. Ia adalah seorang wanita keturunan hawa. Ya iyalah, wanita ya keturunan hawa. Ia bernama Ira. Mereka sudah kenal sejak kelas X.Ira adalah wanita asli Bandung, sedang Trio asli Semarang. Dan akhirnya sepeda Trio terhenti. Ia mengajak gadis yang di depannya untuk pulang bersamanya.
“Hai...!” Sapa Trio
“Hai juga...” Jawab Ira
“Gimana kalau sepeda aku ini menjadi kereta kencana untuk sang putri...?” Kata Trio.
“Dasar sok puitis. Iya deh sang kurcaci.” Balas Ira.
“Kok kurcaci si. Harusnya itu sang pangeran.”
“Sang Kurcaci dan Sang Putri ayo buruan bentar lagi sore.” Ledek teman-teman Trio yang dari tadi sudah menguping perbicaraan mereka.
“Jangan ngebut ya...!” Kata Ira kepada Trio.
“Teman-teman ayo kita contoh Valentino Rossi.” Kata Trio Ngledek.
Akhirnya mereka pun balapan lagi. Tapi Trio absen dari turnamen antar teman itu. Karena ia sadar ia sedang memboncengkan seorang gadis yang sudah lama ia kagumi sejak kelas X, tetapi tak pernah ia utarakan perasaannya. Tersadar dari lamunannya bahwa dari tadi tangan Ira pegangan di pinggang Trio saking takutnya. Trio yang merupakan anak Pesantren lalu melepaskan tangan Ira dengan tiba-tiba.
“Maaf  bukan muhrim.”Kata Trio.
“Oh iya aku lupa, maaf ya.”
“Kalau nanti kita udah muhrim lah boleh...Hemm...ngomong-ngomonggimana hasil UN nya...?” Kata Trio mencairkan suasana.
“Alhamdulillah yanilainya lumayan.” Jawab Ira.
“Kok Syahrini banget si. Yang pasti lumayan bagus kan...?”
“Ya iya lah...”
Akhirnya mereka berdua sampai di depan gank rumah Ira, dan teman-teman Trio sudah sampai dari tadi.
“Bro, udah dua tahun kita nunggu Sang Kurcaci, sekarang baru datang tuh coba liat. Bikin gue ngiri aja.” Ledek Ryan lagi sambil menepuk punggung Aji.
“Makasih ya Kurcaci.” Kata Ira
“Sama-sama. Maaf aku tidak bisa mampir, sudah sore.” Kata Trio.
“Siapa yang nawarin...?” Ledek Ira. Mereka pun tertawa bersama.
Sebenernya Ira juga sudah menyukai Trio sejak lama.Sejak mereka duduk dibangku sekolah menengah atas kelas X.
Malam Harinya, Trio keluar kamarnya dan menuju sebuah bukit yang berada persis di belakang kamarnya. Ia sering melakukan aktivitas seperti itu terutama pada malam yang cerah dan disaat ia jenuh setelah selesai belajar. Ia terbaring menghadap langit luas, disampingnya terdapat sebuah pohon yang memiliki banyak cabang dan sering ia naikki. Dan di sisi lain pun terdapat sungai yang seperti tak pernah surut airnya.
“Apa kabar bintang...? Malam ini engkau sangat indah. Tahu nggak kalau aku tadi sudah mendapatkan hasil penilaianku selama 3 tahun menuntut ilmu di SMA, dan hasilnya tidak mengecewakan. Aku akan pulang ke Jogja dan melanjutkan studyku disana. Mungkin kita akan bertemu di tempat yang berbeda.Tadi aku juga ketemu sama seorang putri jelita yang sudah aku kagumi sejak lama. Tapi aku takut, kalau aku pulang nanti aku tidak akan bertemu dengannya.Rasanya hari ini aku seneng banget campur sedih. Tapi aku juga lagi gundah, aku bingung mau melanjutkan ke universitas, tapi entah universitas mana yang mau menerima aku.” Curhat Trio kepada bintang.
Ia lalu menutup matanya merasakan dinginnya udara, sejuknya hembusan angin, serta sunyinya malam. Sampai beberapa saat ia tertidur pulas. Dan ia baru tersadar setelah bunyi HP nya berdering, telpon dari Ibunya.
Satu bulan kemudian...
Trio akhirnya diterima di universitas yang dia inginkannya yaitu UGM, dan ia memilih jurusan tekhnik kimia. Ira juga melanjutkan studinya di UNY, jurusan Akutansi. Dan Ryan, Aji, Yudi, dan Yogi juga meneruskan di UNY. Ryan dan Aji di Tekhnik Komputer, sedangkan Yogi dan Yudi di jurusan Pendidikan Fisika.
“Nak, piye pengumuman pendaftarane...?” tanya ibu Trio lewat telefon.
“Alhamdulillah bu kulo ditampi, lan minggu ngenjang kulo kedah sampun daftar ulang,”
“Pira biaya pendaftarane...?”
Kinten-kinten tigong doso juta.”
Di Semarang, Ibu Trio sedang bingung mencari uang tiga puluh juta itu. Perhiasannya talah ia jual, tapi masih kurang banyak walaupun sudah ditambah dengan uang tabungannya.
Piye iki pa...? Trio wis di tampa ning UGM, tapi duwit daftar ulange kurang akeh mayan.” Tanya ibu Trio.
“Sabar bu...Yo wis ngesuk jajal tek nyilihna duwit ning bank.”
Trio sedang berada di rumah kakaknya yang lebih dekat dengan Universitasnya Ira. Ia mencoba mencari no Ira di HP nya. Dan tepat pada huruf I, diawali dengan nama Ira.
“Assalamu’alaikum...” kata Trio.
“Wa’alaikum salam...” Jawab suara diseberang.
“Gimana kabarnya Ir...? Aku harap kau baik-baik saja.”
“Alhamdulillah aku baik-baik saja.”
“Kamu kapan mau ke Jogja...?”
“Kangen ya...? Kayaknya aku ke Jogja Nanti, ini sudah siap-siap.”
“Iya ni aku kangen, Ya dah ya sampai ketemu nanti.”
Di Semarang....
Piye Pa...wis olih duwite...?” Tanya Ibu Trio.
Durung Bu, apa aku tek nyilih maring Ika. Mbok si tanggal nom Ika ana duwitlewih, lan kae megin duwe anak siji durung sekolahdadi tanggunganne urung akeh.”
Ika adalah kakak Trio, bekerja sebagai Polwan di Jogjakarta. Dan Suaminya adalah Dani, bekerja di sebuah Bank.
“Assalamu’alaikum...Piye kabare Ndo.” Sapa Bapak Trio lewat Telepon
“Wa’alaikum salam... Alhamdulillah sae,Onten nopo Pak...?”Jawab Ika.
Ndo, adimu wis ngomong biaya daftar ulang nang UGM...?
Dereng Pak...Wonten nopo si...?”
Kiye ndo, Bapak lan Ibu lagi kebingungen ngolet silihan maring sapa nggo biaya kuliah adimu. Muga-muga si ko isih ana duwit lewihan belanja.”
Kulo wonten arto tabungan, tapi namung sekedik. Namung wonten gangsal juta. Menawi Mas Dani gadeh arto namung sedoso  juta.”
“Ya wis ora papa, mengko kurange tek adol sawah. Duwite desimpen disit, limang dina maning Bapak lan Ibu maring umahmu.”
“Nggih Pak.”
Yo wis... salam nggo Dani... Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam...”
Perjalanan dari Bandung menuju Jogja memang tidak menyita waktu lama. Sorenya Ira sudah sampai di Daerah Istimewa yang terkenal dengan batiknya. Dan Trio menjemput Ira di terminal. Tak lebih 10 menit, mereka berdua lalu sampai di rumah kakak Trio.
“Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikum salam... Silahkan masuk, oh ini yo yang sering kamu ceritain ke kakak, cantik juga.” Sapa Kak Ika.
Muka Ira langsung merah seperti cabe merah.
“Idih kakak... Apa-apaan si. Bikin Trio malu aja.”
“Nglanjutin studinya di mana...?” Kata Kak Ika.
“Alhamdulillh ya di UNY.” Jawab Trio nyrobot mirip gaya Syahrini.
“Sok tahu kamu.” Kata Ira
“Kalian ini kaya kucing sama anjing saja. Yo, nanti Ira diajak keliling-keliling Jogja ya.”
“Bukan kucing sama anjing kak, tapi Kurcaci sama Sang putri. Iya nanti malam Trio ajak ke Malioboro, maklum kak dia ngga pernah ke Maliboro bahkan mungkin dia kira Malioboro itu rumah sakit jiwa. Nanti ke sananya pake sepeda ya kak.”Jawab Trio ngledek.
Ira lalu menyubit Trio. Dan Kak Ika hanya bisa menggeleng kepala dan tersenyum melihat mereka berdua. Kendaraan yang paling Trio suka adalah sepeda. Dari kecil ia kemana-mana pake sepeda. Sepeda juga menyatukan Trio dengan teman-temnnya, seperti Aji, Yudi, Ryan, dan Yogi. Dan tak lupa Ira.
Bapak dan Ibu Trio masih bingung mencari pinjaman. Padahal mereka harus ke Jogja Besok sore. Dan sawahnya pun belum laku.
Malam harinya Trio mengajak Ira keliling Kota Gudeg itu dengan menggunakan sepeda. Dan setelah merasa capai berevolusi di Kota Jogja, akhirnya mereka pulang. Esok paginya, Trio mengantar Ira ke kos-kosan Ira. Tapi ia terlebih dahulu mengajak Ira ke sebuah tempat yang sangat indah, berada di sebuah bukit yang menghadap danau.
“Aku ngajak kamu ke sini mau nunjukkin sesuatu ke kamu. Liat ke pohon itu. Disana ada sebuah kertas, ayo kita ke sana.” Ajak Trio.
Mereka akhirnya sampai di bawah pohon itu, dan pohonnya bercabang. Cabang yang pertama sangat rendah, dan pada cabang itu memang ada sebuah kertas yang diikat pita. Dan mereka berdua duduk pada cabang itu.
“Ir, bisa minta tolong ngga...?”
            “Minta tolong apa...?”
            “Tolong ambilin kertas itu, lalu baca dengan keras. Tenang, di sini ngga ada yang nganggap kamu orang gila. Lalu kamu jawab pertanyaan disitu dengan keras juga ya..?” Kata Trio.
Ira lalu membuka kertas itu dan ia kaget. Di tulisan itu bertuliskan, ANDA BELUM BERUNTUNG, COBA ANDA BUKA KERTAS YANG ADA DI DALAM SARANG BURUNG ITU. Trio lalu tertawa terbahak, ia merasa senang sudah mengerjai Ira. Dan Ira merasa malu, karena ia sudah membaca tulisan itu dengan keras.
“Ih...kamu apa-apaan si.” Kata Ira dengan wajah merah.
“Ayo ikutin petunjuk selanjutnya.”
“Tapi aku ngga bisa naik ke dahan itu. Kamu mau ya aku jatuh.”
“Dasar manja. Ya udah aku ambilin.”
Ternyata pada dahan itu terdapat ulat, dan akhirnya tangan Trio gatal-gatal. Tapi untungnya kertas di dalam sarang itu dapat ia ambil.
“Ni baca yang keras. Tangan aku gatal ni gara-gara kamu.”
            “Satu sama!!!. Makanya jangan suka ngerjain orang. Ya udah aku baca. SANG KURCACI SAYANG SAMA SANG PUTRI. MAU NGGA SANG PUTRI JADI PACAR SANG KURCACI...? hai kertas bilang ya sama kurcaci kalau aku juga sayang sama dia.”
Tiba-tiba Aji, Ryan, Yogi dan Yudi datang dari sebuah bukit. Mereka ternyata yang menyiapkan itu semua dengan komandan dari Trio, tapi Ira tidak menetahuinya.
“Thank’s ya Bro. Baru kali ini ada Kurcaci sama Sang Putri jadian, biasanya kan yang sama Sang Putri, Sang Pangeran.”Kata Trio.
Malam harinya...
Bapak dan Ibu Trio sudah sampai di Jogja, tapi uangnya masih kurang.
Ndo, kapan kowe maring sekolahanmu...?” Kata Bapak Trio
Dinten meniko, dinten pungkasan daftar ulange.”Jawab Trio
“Tapi wis wengi ndo lan duwite urung ana.”
Mboten nopo-nopo, mbok ngenjing mboten ditampi.”
Nggeh mangke kulo tak anter Pak. Lan Wau bar isya kulo ngampil arto teng rencang kulo. Alhamdulillah angsal sedoso juta.” Kata Mas Dani
Yo wis siki langsung maring sekolahmu, Ndo.”
Akhirnya tepat pukul 21.00 WIB Trio dan Mas Dani ke kampus Trio. Tapi mereka sampai kampus pukul 21.20 WIB
“Mas ini ada Mahasiswa yang mau daftar ulang.” Kata Mas Dani ke petugas.
“Maaf Mas, daftar ulangnya sudah ditutup tadi baru saja pukul 21.00 WIB.”Kata Petugas.
“Tapi mas, kita cuma telat 20 menit.”
“Ya sudah besok anda kembali saja ke sini, mudah-mudahan masih bisa.”
Akhirnya Trio dan Mas Dani pulang. Mereka akan kembali esok harinya.
Esok harinya. Pagi-pagi sekali Trio dan Mas Dani pergi ke kampus Trio.
“Mas, masih bisa kan kita daftar ulang hari ini...?”
“Atas kebijakan kampus, kami masih terima daftar ulang saudara.”
Dan akhirnya Trio dapat menggapai mimpinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar