IJTIHAD
DisusunGunaMemenuhiTugas
Mata
Kuliah: Ushul Fiqh
DosenPengampu:Ali
Muchtar,H.Lc,MA
.
DisusunOleh:
Intan Rizqia Fajariah(113711025)
Sabrina Kartikawaty(123911099)
Sigit Kurniawan(123911100)
Sintia Ayu(123911101)
Diasih Azzahra
(123911122)
FAKULTAS
TARBIYAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012
I.
PENDAHULUAN
Syari’at Islam yang datang kepada kita dasarnya ialah Qur’an kemudian Qur’an
itu di jelaskan oleh Nabi Muhammad s.a.w. baik dengan kata-kata maupun
perbuatannya. Kata-kata dan perbuatan inilah yang dikatakan Sunnah.
Sahabat-sahabat Nabi dan para Tabi’in yang telah sempurna pengetahuannya
tentang bahasa Qur’an, bahasa Arab, dan mengetahui sebab-sebab turunnya,
rahasia-rahasia syari’at dan tujuannya.Pengetahuan ini disebabkan karena
pergaulan mereka dengan Nabi s.a.w, dan kecerdasan mereka sendiri.
Sesudah Islam meluas dan bangsa Arab sudah bergaul dengan bangsa-bangsa
lain maka dibuatlah peraturan-peraturan bahasa Arab, disamping itu banyak
peristiwa peristiwa baru yang timbul dalam kehidupan manusia.Para ulama
tersebar di negeri-negeri yang baru dan terpengaruh oleh lingkungan dan cara
berfikir negeri itu.Karena itu, masing-masing ulama dalam melakukan ijtihad dan
mencari hukum dengan jalan fikiran sendiri.Keadaan seperti ini menimbulkan
perbedaan pendapat,baik sebagai pengmbilan kpeutusan maupun fatwa, maka
timbullah pikiran untuk membuat peraturan-peraturan dalam ijtihad dan
pengambilan hukum agar memperoleh pendapat yang paling mendekati kebenaran.[1]
II.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian
ijtihad,dasar hukum dan objek kajian?
2.
Apa saja macam-macam
dan syarat-syarat Mujtahid?
3.
Bagaimana cara
melakukan Ijtihad?
III.
PEMBAHASAN
A. Pengertian ijtihad,dasar hukum dan objek kajian
a. Pengertian Ijtihad
Ijtihad berasal dari kata Jahadah
الجهد artinya segala usaha sungguh-sungguh yang dilakukan
oleh seorang Mujtahid untuk mencapai suatu putusan syara’ (hukum islam) tentang
kasus yang penyelesaiannya belum tertera dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah
SAW.Adapula ulama yang merumuskan pengertian Ijtihad
adalah mencurahkan segala tenaga (fikiran) untuk menemukan hukum agama
(syara’).Melalui salah satu dalil syara’ dengan cara tertentu.Jadi
ijtihad ialah jalan yang diikuti hakim dalam menetapkan hukum, baik yang
berhubungan dengan nash undang-undang ataupun dengan mengistinbathkan hukum
yang wajib diterapkan di waktu tak ada nash.[2]
Dari segi bahasa, arti Ijtihad adalah mengerjakan sesuatu
dengan segala kesungguhan.Kata ijtihad tidak digunakan kecuali untuk permasalahan
yang sulit, menurut istilah ijtihad ialah mnggunakan semua kesanggupan akal dan
pikiran untuk menetapkan hukum-hukum syari’at.[3]
b.Dasar-Dasar
ijtihad
Landasan dasar ijtihad adalah :
1. Al-Qur’an
$pkr'¯»ttûïÏ%©!$#(#þqãYtB#uä(#qãèÏÛr&©!$#(#qãèÏÛr&urtAqß§9$#Í<'ré&urÍöDF{$#óOä3ZÏB(bÎ*sù÷Läêôãt»uZs?Îû&äóÓx«çnrãsùn<Î)«!$#ÉAqß§9$#urbÎ)÷LäêYä.tbqãZÏB÷sè?«!$$Î/ÏQöquø9$#urÌÅzFy$#4y7Ï9ºs×öyzß`|¡ômr&ur¸xÍrù's?ÇÎÒÈ
59. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dantaatilahRasul (Nya),
danulilamri di antarakamu. kemudianjikakamuberlainanPendapattentangsesuatu,
Makakembalikanlahiakepada Allah (Al Quran) danRasul (sunnahnya),
jikakamubenar-benarberimankepada Allah danharikemudian.
yangdemikianitulebihutama (bagimu) danlebihbaikakibatnya.”
2. As-Shunnah
As-Shunnah merupakan proses pengambilan hukum setelah Al-Qur’an, seperti
halnya dialog yang terjadi antara sahabat Mu’adz bin Jabal dengan nabi tantang
proses pengambilan hukum yang tidak terdapat dalam nash al-qur’an maupun as-shunnah.
3. Dalil Aqly(Rasio)
Sebagaimana yang diketahui bahwa Al-qur’an yang diturunkan itu hanya
sebatas kepada Nabi, sehingga setelah beliau wafat, tapi atas peristiwa yang
pernah terjadi kepada Mu’adz bin Jabal dan kemudian dilegitimasi oleh nabi mengisyaratkan
bahwa peranan rasio dalam ijtihad sangat urgen. Dengan catatan tetap berpegang
teguh pada Al-qur’an dan as-shunnah.[4]
c. Objek Kajian
Ruanglingkupijtihadyaitumasalah-masalah
yang tidakditentukansecarapastiolehnash Al-Qur'an danHadist. Hukumislamtentangsesuatu
yang ditunjukkanolehayat-ayat Al-qur'andanhadis yang
statusnyamengandungpenafsiransertahukumislamtentangsesuatu yang
samasekalibelumditegaskanataudisinggungoleh Al-qur'an, Hadist, maupanIjma' paraulama' serta yang dikenaldenganmasailfiqhiahdanwaqhiyah.
berijtihaddalambidang-bidang yang takdisebutkandalam Al-qur'andanhadist.[5]
berijtihaddalambidang-bidang yang takdisebutkandalam Al-qur'andanhadist.[5]
B.
Macam-macamdan
syarat-syarat Mujtahid
a. Macam-macam Mujtahid
1. Mujtahidmustaqil(mandiri)
untukmencapaitingkataniniharusdipenuhiseluruhpersyaratan jtihad yang
telahdisebutkan.mujtahiddalamtingkataninilah yang mempunyaiotoritasmengkajiketetapan
hukumlangsung dariQur’andanhadits,melakukanqiyasmengeluarkan fatwa
ataspertimbanganmaslahat, menerapkandalilistihsan.
2. Mujtahidmuntasibmerekainiadalah mujtahid yang
mengambilpendapat-pendapatimamnya,secaraumumijtihadnyamenghasilkankesimpulan-kesimpulan
yang hampirsamadengan hasil ijtihad yang diperolehimamnya.
3. Mujtahidmahzabperananmujtahidketigainiadalahterbatasdalammelakukan
istinbathukumterhadap masalah-masalah yang belumdiriwayatkanimamnya.
4. Mujtahidmurajjihmereka yangtidakmelakukanistinbat
terhadaphukum-hukum yang belumsempatditetapkanolehulamaterdahuludanbelumdiketahuihukumnya.
5. Mujahidmuwazzinmereka membanding-bandingkanantarabeberapapendapatatauriwayatyang
merekalakukan, menetapkanbahwaqiyas yang
dipakaidalampendapatinilebihmengenadibandingpenggunaanqiyaslainnyapadapendapatlain.ataumenilaibahwasuaturiwayatitulebihshahihataukuatdalilnya.[6]
b. Syarat-Syarat Mujtahid
Orang-orang yang ber ijtihad harus
memenuhi beberapa syarat:
·
Mengetahui nas
al-Qur’an dan hadits.Kalau tidak mengetahui salah satunya, maka ia bukan mujtahid
dan tidak boleh berijtihad. Beberapa jumlah ayat-ayat Qur’an dan hadits yang harus
diketahui, Menurut Al-Ghazali dan Ibnul Arabi,ayat-ayat yang harus diketahui
ialah kurang lebih 500 ayat, yaitu ayat-ayat yang mengenai hukum.Jumlah hadits
yang harus diketahui mujtahid ada yang mengatakan harus 3000 buah. Ada pula
yang mengatakan harus 1200 buah.
·
Mengetahui
soal-soal ijma sehingga ia tidak memberikan fatwa yang berlainan dengan
ijma’,memegangi ijma dan memandangnya sebagaidalil syara’.
·
Mengetahui
bahasa arab sehingga dapat mengerti idiom-idiomnya, harus mengerti pembicaraan
yang jelas yang zhahir dan mujmal
·
Mengetahui ilmu
ushul fiqh,karena ilmu ushul fiqh menjadi dasar dan pokok ijtihad,hendaknya
mujtahid menyelidiki persoalan ilmiah secara ushul fiqh sehingga sampai kepada kebenarannya.Dengan
demikian, mudah mengembalikan persoalan
cabang kepada pokok permasalahannya.
·
Mengetahui
nasikh dan mansukh, sehingga tidak mengeluarkan hukum berdasarkan dalil yang
sudah di mansukh.
Masalah yang di ijtihadkan ialah tiap-tiap hukum syara’ yang
tidak ada kepastian dalilnya.Jadi tidak dilakukan ijtihad terhadap hukum akal
dan soal-soal ilmu kalam.juga tidak di ijtihadkan soal-soal yang dalil nya sudah
pasti, seperti sholat lima waktu, zakat, dan lainnya.[7]
C.
Cara Melakukan
Ijtihad
Seseorang yang
hendakberijtihadharuslahmemperhatikanurutanurutan di bawahini.Apabilaiatidakmendapatkansesuatudalil
yang lebihtinggitingkatannya, barulahiabolehmenggunakandalil-dalilberikutnya.
Urutantersebutadalahsebagaiberikut
1.Dalildalambentukmantuq :
a. Nash-nashAl_Quran
b. Haditsmutawattir
c. HaditsAhad
d. Zhahir Al-Quran
e. ZhahirHadits
2. Dalilmafhum
a. Mafhum Al-Quran
b. MafhumHadits
3.Perbuatandantaqrirnabi
4.Qiyas
5.Bara’ahashaliyah
Jika Mujtahid menghadapidalil-dalil yang berlawanan, hendaknyaditempuhbeberapaalternatifseperti berikut :
1. Memadukan/mengkompromikandalildaliltersebut
2. Mentarjihkan (menguatkansalahsatunya)
3.Menashkanyaitudicarimana yang lebihduludanmana yang kemudian, yang lebihdahuluitulah yang dinashkan (tidakberlakulagi)
4.Tawaqquf, yaknimembiarkanatautidakmenggunakandalildalil yang bertentangantersebut.
5. Menggunakandalil yang lebihrendahtingkatannya.[8]
Urutantersebutadalahsebagaiberikut
1.Dalildalambentukmantuq :
a. Nash-nashAl_Quran
b. Haditsmutawattir
c. HaditsAhad
d. Zhahir Al-Quran
e. ZhahirHadits
2. Dalilmafhum
a. Mafhum Al-Quran
b. MafhumHadits
3.Perbuatandantaqrirnabi
4.Qiyas
5.Bara’ahashaliyah
Jika Mujtahid menghadapidalil-dalil yang berlawanan, hendaknyaditempuhbeberapaalternatifseperti berikut :
1. Memadukan/mengkompromikandalildaliltersebut
2. Mentarjihkan (menguatkansalahsatunya)
3.Menashkanyaitudicarimana yang lebihduludanmana yang kemudian, yang lebihdahuluitulah yang dinashkan (tidakberlakulagi)
4.Tawaqquf, yaknimembiarkanatautidakmenggunakandalildalil yang bertentangantersebut.
5. Menggunakandalil yang lebihrendahtingkatannya.[8]
IV.
Kesimpulan
a.
Ijtihad adalah
mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan.
b.
Macam-macam mujtahid
·
Mujtahidmustaqil(mandiri)
·
Mujtahidmuntasib
·
Mujtahidmahzab
·
Mujtahidmurajjih
·
Mujahidmuwazzin
Syarat-Syarat Mujtahid :
·
Mengetahui nas
al-Qur’an dan hadits
·
Mengetahui
soal-soal
·
Menguasai
bahasa arab
· Mengetahui ilmu ushul fiqh
· Mengetahui
nasikh dan mansukh
c.
Cara melakukan
ijtihad
Urutanmelakukan ijtihad adalahsebagaiberikut :
1. Dalildalambentuk :
a. Nash-nashAl_Quran
b. Haditsmutawattir
c. HaditsAhad
d. Zhahir Al-Quran
e. ZhahirHadits
2. Dalilmafhum
a. Mafhum Al-Quran
b. MafhumHadits
3.Perbuatandantaqrirnabi
4.Qiyas
5.Bara’ahashaliyah
Jika Mujtahid menghadapidalil-dalil yang berlawanan, hendaknyaditempuhbeberapaalternatifseperti berikut :
1. Memadukan/mengkompromikandalildaliltersebut
2. Mentarjihkan (menguatkansalahsatunya)
3.Menashkanyaitudicarimana yang lebihduludanmana yang kemudian, yang lebihdahuluitulah yang dinashkan (tidakberlakulagi)
4.Tawaqquf, yaknimembiarkanatautidakmenggunakandalildalil yang bertentangantersebut.
5. Menggunakandalil yang lebihrendahtingkatannya.
1. Dalildalambentuk :
a. Nash-nashAl_Quran
b. Haditsmutawattir
c. HaditsAhad
d. Zhahir Al-Quran
e. ZhahirHadits
2. Dalilmafhum
a. Mafhum Al-Quran
b. MafhumHadits
3.Perbuatandantaqrirnabi
4.Qiyas
5.Bara’ahashaliyah
Jika Mujtahid menghadapidalil-dalil yang berlawanan, hendaknyaditempuhbeberapaalternatifseperti berikut :
1. Memadukan/mengkompromikandalildaliltersebut
2. Mentarjihkan (menguatkansalahsatunya)
3.Menashkanyaitudicarimana yang lebihduludanmana yang kemudian, yang lebihdahuluitulah yang dinashkan (tidakberlakulagi)
4.Tawaqquf, yaknimembiarkanatautidakmenggunakandalildalil yang bertentangantersebut.
5. Menggunakandalil yang lebihrendahtingkatannya.
V.
Penutup
Demikianlah
pemaparan makalah kami tentang pengertian Ijtihad,dasar hukum,objek
kajiannya,macam-macam mujtahid,syarat-syarat mujthahid,serta cara melakukan
ijtihad.Kami sadar bahwa dalam makalah kami masih banyak kekurangan, untuk itu
kritik dan saran selalu kami harapkan demi perbaikan makalah selanjutnya.Semoga
makalah ini dapat bemanfaat bagi pembaca.
Wallahu a’alm
bi al-showab
DaftarPustaka
Ash shiddieqy,Muhammmad
Hasbi. Pengantar Ilmu Fiqh 1999. Semarang : Pustaka Rizqi Putra
Hanafie M.A,A.USHUL FIQH 1993 ,Jakarta : Widjaya
Syarifuddin,Amir ,Prof.DR, UshulFiqhJilid 2 1999, Logos WacanaIlmu, Jakarta : Logos Wacana
Ilmu
Zahrah,Abu ,Prof.M. , UshulFiqh 1994, Jakarta : Pustaka
Firdaus
[1]A.Hanafie M.A Ushul Fiqh,Jakarta: Widjaya,1993.
Hlm 9
[2]Teungku Muhammad Hasbi Ash-shiddieqy
Pengantar Imu Fiqh,Semarang : pustaka Rizqi Putra,1999 Hlm 200
[3]A.Hanafie M.A Ushul Fiqh,Jakarta:
Widjaya,1993. Hlm 151
[4]Prof.DR.AmirSyarifuddin,
UshulFiqhJilid 2Jakarta: Logos Ilmu
Wacana 1999. Hlm 274
[5]A.Hanafie M.A Ushul Fiqh,Jakarta:
Widjaya,1993,Hlm 151
[7]A.Hanafie M.A Ushul Fiqh,Jakarta:
Widjaya,1993, Hlm 152-153
[8]A.Hanafie M.A Ushul Fiqh,Jakarta:
Widjaya,1993, Hlm 155
Tidak ada komentar:
Posting Komentar