Páginas

Rabu, 29 Oktober 2014

Makalah Ushul Fiqh


IJTIHAD
MAKALAH
DisusunGunaMemenuhiTugas
Mata Kuliah: Ushul Fiqh
DosenPengampu:Ali Muchtar,H.Lc,MA 








.
DisusunOleh:
 
Intan Rizqia Fajariah(113711025)
Sabrina Kartikawaty(123911099)
Sigit Kurniawan(123911100)
Sintia Ayu(123911101)
Diasih Azzahra            (123911122)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012


I.            PENDAHULUAN
Syari’at Islam yang datang kepada kita dasarnya ialah Qur’an kemudian Qur’an itu di jelaskan oleh Nabi Muhammad s.a.w. baik dengan kata-kata maupun perbuatannya. Kata-kata dan perbuatan inilah yang dikatakan Sunnah.
Sahabat-sahabat Nabi dan para Tabi’in yang telah sempurna pengetahuannya tentang bahasa Qur’an, bahasa Arab, dan mengetahui sebab-sebab turunnya, rahasia-rahasia syari’at dan tujuannya.Pengetahuan ini disebabkan karena pergaulan mereka dengan Nabi s.a.w, dan kecerdasan mereka sendiri.
Sesudah Islam meluas dan bangsa Arab sudah bergaul dengan bangsa-bangsa lain maka dibuatlah peraturan-peraturan bahasa Arab, disamping itu banyak peristiwa peristiwa baru yang timbul dalam kehidupan manusia.Para ulama tersebar di negeri-negeri yang baru dan terpengaruh oleh lingkungan dan cara berfikir negeri itu.Karena itu, masing-masing ulama dalam melakukan ijtihad dan mencari hukum dengan jalan fikiran sendiri.Keadaan seperti ini menimbulkan perbedaan pendapat,baik sebagai pengmbilan kpeutusan maupun fatwa, maka timbullah pikiran untuk membuat peraturan-peraturan dalam ijtihad dan pengambilan hukum agar memperoleh pendapat yang paling mendekati kebenaran.[1]


  II.               RUMUSAN MASALAH
1.         Apa pengertian ijtihad,dasar hukum dan objek kajian?
2.         Apa saja macam-macam dan syarat-syarat Mujtahid?
3.         Bagaimana cara melakukan Ijtihad?



III.            PEMBAHASAN
A.    Pengertian ijtihad,dasar hukum dan objek kajian
a. Pengertian Ijtihad
Ijtihad berasal dari kata Jahadah الجهد artinya segala usaha sungguh-sungguh yang dilakukan oleh seorang Mujtahid untuk mencapai suatu putusan syara’ (hukum islam) tentang kasus yang penyelesaiannya belum tertera dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.Adapula ulama yang merumuskan pengertian Ijtihad adalah mencurahkan segala tenaga (fikiran) untuk menemukan hukum agama (syara’).Melalui salah satu dalil syara’ dengan cara tertentu.Jadi ijtihad ialah jalan yang diikuti hakim dalam menetapkan hukum, baik yang berhubungan dengan nash undang-undang ataupun dengan mengistinbathkan hukum yang wajib diterapkan di waktu tak ada nash.[2]
Dari segi bahasa, arti Ijtihad adalah mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan.Kata ijtihad tidak digunakan kecuali untuk permasalahan yang sulit, menurut istilah ijtihad ialah mnggunakan semua kesanggupan akal dan pikiran untuk menetapkan hukum-hukum syari’at.[3]
b.Dasar-Dasar ijtihad
Landasan dasar ijtihad adalah :
1. Al-Qur’an
$pkšr'¯»tƒtûïÏ%©!$#(#þqãYtB#uä(#qãèÏÛr&©!$#(#qãèÏÛr&urtAqß§9$#Í<'ré&ur͐öDF{$#óOä3ZÏB(bÎ*sù÷Läêôãt»uZs?Îû&äóÓx«çnrŠãsùn<Î)«!$#ÉAqß§9$#urbÎ)÷LäêYä.tbqãZÏB÷sè?«!$$Î/ÏQöquø9$#ur̍ÅzFy$#4y7Ï9ºsŒ×Žöyzß`|¡ômr&ur¸xƒÍrù's?ÇÎÒÈ
59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dantaatilahRasul (Nya), danulilamri di antarakamu. kemudianjikakamuberlainanPendapattentangsesuatu, Makakembalikanlahiakepada Allah (Al Quran) danRasul (sunnahnya), jikakamubenar-benarberimankepada Allah danharikemudian. yangdemikianitulebihutama (bagimu) danlebihbaikakibatnya.
           2. As-Shunnah
As-Shunnah merupakan proses pengambilan hukum setelah Al-Qur’an, seperti halnya dialog yang terjadi antara sahabat Mu’adz bin Jabal dengan nabi tantang proses pengambilan hukum yang tidak terdapat dalam nash al-qur’an maupun as-shunnah.
3. Dalil Aqly(Rasio)
Sebagaimana yang diketahui bahwa Al-qur’an yang diturunkan itu hanya sebatas kepada Nabi, sehingga setelah beliau wafat, tapi atas peristiwa yang pernah terjadi kepada Mu’adz bin Jabal dan kemudian dilegitimasi oleh nabi mengisyaratkan bahwa peranan rasio dalam ijtihad sangat urgen. Dengan catatan tetap berpegang teguh pada Al-qur’an dan as-shunnah.[4]
       c. Objek Kajian
Ruanglingkupijtihadyaitumasalah-masalah yang tidakditentukansecarapastiolehnash Al-Qur'an danHadist. Hukumislamtentangsesuatu yang ditunjukkanolehayat-ayat Al-qur'andanhadis yang statusnyamengandungpenafsiransertahukumislamtentangsesuatu yang samasekalibelumditegaskanataudisinggungoleh Al-qur'an, Hadist, maupanIjma' paraulama' serta yang dikenaldenganmasailfiqhiahdanwaqhiyah.
berijtihaddalambidang-bidang yang takdisebutkandalam Al-qur'andanhadist
.[5]
B.     Macam-macamdan syarat-syarat Mujtahid
a. Macam-macam Mujtahid
1. Mujtahidmustaqil(mandiri) untukmencapaitingkataniniharusdipenuhiseluruhpersyaratan jtihad yang telahdisebutkan.mujtahiddalamtingkataninilah yang mempunyaiotoritasmengkajiketetapan hukumlangsung dariQur’andanhadits,melakukanqiyasmengeluarkan fatwa ataspertimbanganmaslahat, menerapkandalilistihsan.
2. Mujtahidmuntasibmerekainiadalah mujtahid yang mengambilpendapat-pendapatimamnya,secaraumumijtihadnyamenghasilkankesimpulan-kesimpulan yang hampirsamadengan hasil ijtihad yang diperolehimamnya.
3. Mujtahidmahzabperananmujtahidketigainiadalahterbatasdalammelakukan istinbathukumterhadap masalah-masalah yang belumdiriwayatkanimamnya.
4. Mujtahidmurajjihmereka yangtidakmelakukanistinbat terhadaphukum-hukum yang belumsempatditetapkanolehulamaterdahuludanbelumdiketahuihukumnya.
5. Mujahidmuwazzinmereka membanding-bandingkanantarabeberapapendapatatauriwayatyang merekalakukan, menetapkanbahwaqiyas yang dipakaidalampendapatinilebihmengenadibandingpenggunaanqiyaslainnyapadapendapatlain.ataumenilaibahwasuaturiwayatitulebihshahihataukuatdalilnya.[6]

b. Syarat-Syarat Mujtahid
Orang-orang yang ber ijtihad harus memenuhi beberapa syarat:
·            Mengetahui nas al-Qur’an dan hadits.Kalau tidak mengetahui salah satunya, maka ia bukan mujtahid dan tidak boleh berijtihad. Beberapa jumlah ayat-ayat Qur’an dan hadits yang harus diketahui, Menurut Al-Ghazali dan Ibnul Arabi,ayat-ayat yang harus diketahui ialah kurang lebih 500 ayat, yaitu ayat-ayat yang mengenai hukum.Jumlah hadits yang harus diketahui mujtahid ada yang mengatakan harus 3000 buah. Ada pula yang mengatakan harus 1200 buah.
·            Mengetahui soal-soal ijma sehingga ia tidak memberikan fatwa yang berlainan dengan ijma’,memegangi ijma dan memandangnya sebagaidalil syara’.
·            Mengetahui bahasa arab sehingga dapat mengerti idiom-idiomnya, harus mengerti pembicaraan yang jelas yang zhahir dan mujmal
·            Mengetahui ilmu ushul fiqh,karena ilmu ushul fiqh menjadi dasar dan pokok ijtihad,hendaknya mujtahid menyelidiki persoalan ilmiah secara ushul fiqh sehingga sampai kepada kebenarannya.Dengan demikian,  mudah mengembalikan persoalan cabang kepada pokok permasalahannya.
·            Mengetahui nasikh dan mansukh, sehingga tidak mengeluarkan hukum berdasarkan dalil yang sudah di mansukh.
Masalah yang di ijtihadkan ialah tiap-tiap hukum syara’ yang tidak ada kepastian dalilnya.Jadi tidak dilakukan ijtihad terhadap hukum akal dan soal-soal ilmu kalam.juga tidak di ijtihadkan soal-soal yang dalil nya sudah pasti, seperti sholat lima waktu, zakat, dan lainnya.[7]
C.    Cara Melakukan Ijtihad
Seseorang yang hendakberijtihadharuslahmemperhatikanurutanurutan di bawahini.Apabilaiatidakmendapatkansesuatudalil yang lebihtinggitingkatannya, barulahiabolehmenggunakandalil-dalilberikutnya. 
Urutantersebutadalahsebagaiberikut
1.Dalildalambentukmantuq : 
a. Nash-nashAl_Quran 
b. Haditsmutawattir 
c. HaditsAhad 
d. Zhahir Al-Quran 
e. ZhahirHadits
2. Dalilmafhum 
a. Mafhum Al-Quran 
b. MafhumHadits
3.Perbuatandantaqrirnabi 
4.Qiyas 
5.Bara’ahashaliyah 
Jika Mujtahid menghadapidalil-dalil yang berlawanan, hendaknyaditempuhbeberapaalternatifseperti berikut : 
1.
Memadukan/mengkompromikandalildaliltersebut 
2. Mentarjihkan (menguatkansalahsatunya) 
3.Menashkanyaitudicarimana yang lebihduludanmana yang kemudian, yang lebihdahuluitulah yang dinashkan (tidakberlakulagi) 
4.Tawaqquf, yaknimembiarkanatautidakmenggunakandalildalil yang bertentangantersebut.
5. Menggunakandalil yang lebihrendahtingkatannya
.[8]

 IV.            Kesimpulan
a.       Ijtihad adalah mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan.
b.      Macam-macam mujtahid
·         Mujtahidmustaqil(mandiri)
·         Mujtahidmuntasib
·         Mujtahidmahzab
·         Mujtahidmurajjih
·         Mujahidmuwazzin
Syarat-Syarat Mujtahid :
·            Mengetahui nas al-Qur’an dan hadits
·            Mengetahui soal-soal
·            Menguasai bahasa arab
·  Mengetahui ilmu ushul fiqh
·       Mengetahui nasikh dan mansukh
c.       Cara melakukan ijtihad
Urutanmelakukan ijtihad adalahsebagaiberikut :
1. Dalildalambentuk : 
a. Nash-nashAl_Quran 
b. Haditsmutawattir 
c. HaditsAhad 
d. Zhahir Al-Quran 
e. ZhahirHadits
2. Dalilmafhum 
a. Mafhum Al-Quran 
b. MafhumHadits
3.Perbuatandantaqrirnabi 
4.Qiyas 
5.Bara’ahashaliyah 
Jika Mujtahid menghadapidalil-dalil yang berlawanan, hendaknyaditempuhbeberapaalternatifseperti berikut : 
1. Memadukan/mengkompro
mikandalildaliltersebut 
2. Mentarjihkan (menguatkansalahsatunya) 
3.Menashkanyaitudicarimana yang lebihduludanmana yang kemudian, yang lebihdahuluitulah yang dinashkan (tidakberlakulagi) 
4.Tawaqquf, yaknimembiarkanatautidakmenggunakandalildalil yang bertentangantersebut.
5. Menggunakandalil yang lebihrendahtingkatannya
.


    V.            Penutup
Demikianlah pemaparan makalah kami tentang pengertian Ijtihad,dasar hukum,objek kajiannya,macam-macam mujtahid,syarat-syarat mujthahid,serta cara melakukan ijtihad.Kami sadar bahwa dalam makalah kami masih banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran selalu kami harapkan demi perbaikan makalah selanjutnya.Semoga makalah ini dapat bemanfaat bagi pembaca.
Wallahu a’alm bi al-showab










DaftarPustaka

Ash shiddieqy,Muhammmad Hasbi. Pengantar Ilmu Fiqh 1999. Semarang : Pustaka Rizqi Putra
Hanafie M.A,A.USHUL FIQH 1993 ,Jakarta : Widjaya
Syarifuddin,Amir ,Prof.DR, UshulFiqhJilid 2 1999, Logos WacanaIlmu, Jakarta : Logos Wacana Ilmu
Zahrah,Abu ,Prof.M. , UshulFiqh 1994, Jakarta : Pustaka Firdaus



[1]A.Hanafie M.A Ushul Fiqh,Jakarta: Widjaya,1993. Hlm 9
[2]Teungku Muhammad Hasbi Ash-shiddieqy Pengantar Imu Fiqh,Semarang : pustaka Rizqi Putra,1999 Hlm 200
[3]A.Hanafie M.A Ushul Fiqh,Jakarta: Widjaya,1993. Hlm 151
[4]Prof.DR.AmirSyarifuddin, UshulFiqhJilid 2Jakarta: Logos Ilmu Wacana 1999. Hlm 274
[5]A.Hanafie M.A Ushul Fiqh,Jakarta: Widjaya,1993,Hlm 151
[6]Prof.M. Abu Zahrah, UshulFiqh, Jakarta: Pustaka Firdaus 1994 Hlm 579
[7]A.Hanafie M.A Ushul Fiqh,Jakarta: Widjaya,1993, Hlm 152-153
[8]A.Hanafie M.A Ushul Fiqh,Jakarta: Widjaya,1993, Hlm 155

Tidak ada komentar:

Posting Komentar