Páginas

Rabu, 29 Oktober 2014

Makalah Pembelajaran IPS MI


MODEL PEMBELAJARAN IPS MI
MAKALAH
Dipresentasikan dalam Mata Kuliah: Pembelajaran IPS MI
Yang diampu oleh: Zulaikha, M.Pd
Disusun oleh:
Sabrina Kartikawaty    (123911099)
Sintia Ayu R                (123911101)
Siwi Fatmawati            (123911103)
Sugeng Prayitno           (123911104)
Tutik Noviana              (123911106)

Ulfiana Rifa’ah         (123911107)
Ulin Nuha                  (123911109)
Umi Mualifah            (123911111)
Umi Widiyastuti        (123911112)
Vicky Sofi K              (123911113)


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014


       I.            PENDAHULUAN
Model pembelajaran akan menjelaskan makna kegiatan-kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik selama proses pembelajaran berlangsung. Setiap model pembelajaran mengarahkan pendidik ke dalam mendesain pembelajaran dan menggunakan strategi pembelajaran yang tepat untuk membantu peserta didik belajar, sehingga kompetensi dan tujuan belajarnya tercapai. Model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan materi pelajaran akan menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas, sehingga tercapai kompetensi yang ditentukan.
Efektif tidaknya pendidik mengajar akan tergantung pada bagaimana pendidik mampu melaksanakan aktivitas mengajar secara baik. Oleh karena itu, pendidik dan tenaga kependidikan perlu memperkaya pemahamannya mengenai model pembelajaran. Jadi model pembelajaran dirancang untuk membelajarkan peserta didik dan memudahkan guru menggunakan strategi, metode, teknik, pengajaran sesuai dengan mata pelajaran yang menjadi tanggung jawab pendidik.[1]

    II.            RUMUSAN MASALAH
A.   Apa pengertian Model Pembelajaran?
B.   Apa saja macam-macam Model Pembelajaran?
C.   Bagaimana aplikasi Model Pembelajaran dalam Proses Pembelajaran IPS MI?

 III.            PEMBAHASAN
A.   Pengertian Model Pembelajaran
        Istilah “model” dapat dipahami sebagai suatu kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan sesuatu kegiatan. Selain itu, istilah “model” dapat juga dipahami sebagai suatu barang atau benda tiruan dari benda yang sesungguhnya. Sedangkan model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan sesuatu kegiatan belajar dan mengajar (Winataputra, 2001)
        Secara bebas dapat diartikan bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan menentukan perangkat-perangkat pembelajaran.[2]

B.   Macam-macam Model Pembelajaran
1.      Model Pembelajaran Debat Aktif
            Dalam debat aktif, keterampilan sosial sangat dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi. Keterampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut bermacam-macam menurut tugas, misalnya peran pencatat, pembuat kesimpulan, pengatur materi, atau guru dan peran guru sebagai pemonitor proses belajar.
     Penerapan Model Pembelajaran Debat Aktif (Active Debate), langkah-langkahnya sebagai berikut:
a.       Materi pembelajaran telah diberikan kepada siswa satu minggu sebelum pembelajaran. Siswa diharuskan untuk membaca dan memahami materi tersebut.
b.      Kelas dibagi menjadi 5 kelompok. 1) kelompok pertama ditetapkan sebagai penyaji, 2) kelompok kedua dan 3) kelompok ketiga ditentukan sebagi kontra atau penyangga, 4) kelompok kempat sebagai pembela kelompok pertama, dan 5) kelompok kelima sebagai penengah.
c.       Sebelum debat dimulai, guru menyajikan global materi pembelajaran yang akan didebatkan kepada siswa dalam bentuk ceramah.
d.      Mintalah masing-masing kelompok menentukan juru bicaranya dan mintalah tiap-tiap kelompok mendiskusikan materi pada kelompoknya sendiri dan merumuskan argument hasil diskusi.
e.       Setelah selesai diskusi, dan telah menemukan problem atau masalah untuk disampaikan. Diskusi dihentikan dan setting kelas dibuat dengan situasi yang berbeda.
f.       Perdebatan dimulai, guru bertindak sebagai pemandu. Langkah pertama, suruhlah juru bicara kelompok penyaji menyampaikan argumen. Langkah kedua, Meminta kelompok kontra (2 dan 3) memberikan atau menyampaikan kontra argumentasinya dan buatlah situasi debat antara penyaji dengan kontra dan sesekali meminta argumentasi kelompok penengah. Langkah ketiga, mintalah kelompok pembela menyampaikan argumentasi pembelaannya dan buatlah situasi debat antara kelompok kontra dengan kelompok pembela dan sesekali meminta argumen dari kelompok penengah. Doronglah peserta yang lain untuk mencatat argumen atau bantahan dan disarankan kepada juru bicaranya. Dan doronglah mereka untuk sesekali memberikan applaus argumen dari juru bicara tim mereka.
g.      Ketika perdebatan dianggap cukup, gabungkan kelompok menjadi lingkaran penuh.  Kemudian simpulkan argumen-argumen dari perdebatan tersebut. Sebelum menutup pembelajaran, doronglah siswa untuk menyambut applaus atas debat yang dilakukan, setelah itu tutup pembelajaran dengan membaca doa.[3]
2.  Model Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing)
                        Model pembelajaran bermain peran (role playing) adalah salah satu proses belajar mengajar yang tergolong dalam simulasi. Simulasi adalah suatu cara pengajaran dengan melakukan proses tingkah laku secara tiruan.
                        Jadi model bermain peran adalah model pembelajaran yang di dalamnya menampakkan adanya perilaku pura-pura dari siswa yang terlihat dan atau peniruan situasi dari tokoh-tokoh sejarah sedemikian rupa.
Kelebihan:
a.       Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerja sama.
b.      Siswa bebas mengambil keputusan dan berkreasi secara utuh.
c.       Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda
d.      Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.
e.       Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.[4]
3.  Model Pembelajaran Pemecahan Masalah (Problem Solving)
                        Metode pemecahan masalah ( problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
Keunggulan dari metode problem solving sebagai berikut:
a.         Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan
b.        Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat
b.    Berfikir dan bertindak kreatif
c.    Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
d.    Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan
e.    Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan
Kelemahan metode ploblem solving sebagai berikut:
a.    Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. misalnya terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut
b.    Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.
4.  Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Problem Based Instruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupan yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
Langkah-langkah:
a.         Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. memotivasi siswa terlibat dalam aktifitas pemecahan masalah yang dipilih.
b.        Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut seperti menetapkan topik, tugas, jadwal dll.
c.         Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data hipotesis, pemecahan masalah.
d.        Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
Kelebihan  :
a.    Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik.
b.    Dilatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain.
c.    Dapat memperoleh dari berbagai sumber
Kekurangan:
a.    Untuk siswa yang malas tujuan dari metode problem solving tidak dapat tercapai
b.    Membutuhkan banyak waktu dan dana.
c.    Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini.
5.  Model Pembelajaran Picture and Picture
                        Picture and picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan atau diurutkan menjadi urutan logis.
Langkah-langkah :
a.         Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
b.        Menyajikan materi sebagai pengantar.
c.         Guru menunjukkan atau memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi.
d.        Guru memanggil atau menunjuk siswa secara bergantian memasang atau mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
e.         Guru menanyakan alasan atau dasar pemikiran urutan gambar tersebut
f.         Dari alasan atau urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep atau materi sesuai dengan kompetensi yang di capai
g.        Kesimpulan atau rangkuman.
Kelebihan :
a.         Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa
b.        Melatih berfikir logis dan sistematis
Kekurangan :
a.       Memakan banyak waktu
b.      Banyak siswa yang pasif
6.  Model Pembelajaran Numbered Heads Together
Adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat 1 kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa:
Langkah-langkah:
a.       Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa daalm setiap kelompok mendapat nomor.
b.      Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
c.       Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya.
d.      Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka,
e.       Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain
f.       Kesimpulan.
Kelebihan :
a.         Setiap siswa menjadi siap semua
b.        Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh
c.         Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai
Kelemahan :
a.       Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru
b.      Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru

7.  Model Pembelajaran Jigsaw
Dalam model ini, guru membagi suatu informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari 4 orang sehingga setiap anggota bertanggung jawab terhadap penguasaan setiap sub topik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggung jawab terhadap sub topik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri dari 2 atau 3 orang.
Siswa bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya:
a.       Belajar dan menjadi ahli dalam sub topik bagiannya.
b.      Merencanakan bagaimana mengajarkan sub topik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Setelah itu siswa kembali ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam sub topiknya dan mengajarkan informasi penting dalam sub topik tersebut kepada temannya. Ahli dalam sub topik lainnya juga bertindak serupa, sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan peguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. Dengan demikian setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan.
8. Model Pembelajaran Examples Non Examples
Example Non Example adalah metode belajar yang menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh dapat dari kasus atau gambar yang relevan dengan materi yang akan diajarkan.
Langkah-langkah pembelajaran:
a.       Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai tujuan pembelajaran
b.      guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP.
c.       Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memerhatikan atau menganalisis gambar.
d.      Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisis gambar tersebut dicatat pada kertas.
e.       Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
f.       Mulai dari komentar atau hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
g.      Kesimpulan

Kelebihan:
a.         Siswa lebih kritis dalam menganalisis gambar.
b.        Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar
c.         siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.
Kekurangan:                                                          
a.         Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar
b.        memakan waktu yang lama
9. Model Pembelajaran Kekuatan Berdua (The Power of Two)
          Penerapan model pembelajaran Kekuatan Berdua (the power of two), dengan langkah-langkah atau prosedur yang dilakukan guru, sebagai berikut:
a.       langkah pertama, membuat masalah (problem). Dalam proses belajar, guru memberikan satu atau lebih pertanyaan kepada peserta didik yang membutuhkan refleksi.
b.      langkah kedua, guru meminta peserta didik untuk merenung dan menjawab pertanyaan sendiri-sendiri.
c.       langkah ketiga, guru membagi peserta berpasang-pasangan. Dalam proses belajar setelah semua peserta didik melengkapi jawabannya, bentuklah ke dalam pasangan dan mintalah mereka untuk berbagi (sharing) jawaban dengan yang lain.
d.      langkah keempat, guru meminta pasangan untuk berdiskusi mencari jawaban baru. Dalam proses belajar, guru meminta siswa untuk membuat jawaban baru untuk masing-masing pertanyaan dengan memperbaiki respons masing-masing individu.
e.       langkah kelima, guru meminta peserta untuk mendiskusikan hasil sharingnya. Dalam proses belajar, ketika semua pasangan selesai menulis jawaban baru, bandingkan jawaban dari masing-masing pasangan kepasangan yang lain.
10. Model Pembelajaran Memilah dan Memilih Kartu (Card Short)
          Penerapan model pembelajaran memilah dan memilih kartu (card short) dengan langkah-langkah atau prosedur yang dilakukan, sebagai berikut:
a.         Langkah pertama, guru membagikan selembar kartu kepada setiap siswa dan pada kartu tersebut telah dituliskan suatu materi. Kartu tersebut terdiri dari kartu judul dan kartu bahasan. Kartu Judul biasanya menggunakan huruf KAPITAL dan kartu-kartu sub judul menggunakan huruf non-kapital.
b.        Langkah kedua, siswa diminta untuk mencari teman (pemegang kartu judul) yang sesuai dengan masalah yang ada pada kartunya untuk satu kelompok.
c.          Langkah ketiga, siswa akan berkelompok dalam satu pokok bahasan atau masalah masing-masing.
d.        Langkah keempat, siswa diminta untuk menempelkan di papan tulis bahasan yang ada dalam kartu tersebut berdasarkan urutan-urutan bahasannya yang dipegang kelompok tersebut.
e.         langkah kelima, seorang siswa (pemegang kartu judul) dari masing-masing kelompok untuk menjelaskan dan sekaligus mengecek kebenaran urutan per pokok bahasan.
f.         langkah keenam, bagi siswa yang salah mencari kelompok sesuai bahasan atau materi pelajaran tersebut diberi hukuman dengan mencari judul bahasan atau materi yang sesuai dengan kartu yang dipegang.
g.        Langkah ketujuh, guru memberikan komentar atau penjelasan.[5]

C.  Aplikasi Model Pembelajaran dalam proses pembelajaran IPS MI
Kelompok kami akan mengaplikasikan model pembelajaran Problem Based Instruction, dengan penggunaan metode diskusi. Kami mengambil materi kelas IV semester 2 tema 5 yaitu “Pahlawanku” dengan sub tema 1 yaitu “perjuangan para pahlawan”. Berikut kami lampirkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).


[1] Syaiful Sagala, Supervisi Pembelajaran, Bandung: ALFABETA, 2010, hlm.65
[2] Syaiful Sagala, Supervisi Pembelajaran, Bandung: ALFABETA, 2010, hlm.62-63
[3] Nurochim, Perencanaan Pembelajaran Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013,  hlm.58-59
[4] Mulyono, Strategi Pembelajaran, Malang: UIN-MALIKI PRESS, 2011, hlm. 44
[5] Nurochim, Perencanaan Pembelajaran Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013, hlm.61-79
 
DAFTAR PUSTAKA
Sagala, Syaiful 2010, Supervisi Pembelajaran, Bandung: ALFABETA
Nurochim 2013, Perencanaan Pembelajaran Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta: Raja Grafindo Persada
Mulyono, , 2011 Strategi Pembelajaran, Malang: UIN-MALIKI PRESS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar