MODEL PEMBELAJARAN IPS
MI
MAKALAH
Dipresentasikan
dalam Mata Kuliah: Pembelajaran IPS MI
Yang
diampu oleh: Zulaikha, M.Pd

Disusun
oleh:
Sabrina
Kartikawaty (123911099)
Sintia
Ayu R (123911101)
Siwi
Fatmawati (123911103)
Sugeng
Prayitno (123911104)
Tutik Noviana (123911106)
|
Ulfiana
Rifa’ah (123911107)
Ulin
Nuha (123911109)
Umi
Mualifah (123911111)
Umi
Widiyastuti (123911112)
Vicky
Sofi K (123911113)
|
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014
I.
PENDAHULUAN
Model pembelajaran akan menjelaskan makna kegiatan-kegiatan
pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik selama proses pembelajaran
berlangsung. Setiap model pembelajaran mengarahkan pendidik ke dalam mendesain
pembelajaran dan menggunakan strategi pembelajaran yang tepat untuk membantu
peserta didik belajar, sehingga kompetensi dan tujuan belajarnya tercapai. Model
pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan materi pelajaran akan menciptakan
proses pembelajaran yang berkualitas, sehingga tercapai kompetensi yang
ditentukan.
Efektif tidaknya pendidik mengajar akan tergantung pada bagaimana
pendidik mampu melaksanakan aktivitas mengajar secara baik. Oleh karena itu,
pendidik dan tenaga kependidikan perlu memperkaya pemahamannya mengenai model
pembelajaran. Jadi model pembelajaran dirancang untuk membelajarkan peserta
didik dan memudahkan guru menggunakan strategi, metode, teknik, pengajaran
sesuai dengan mata pelajaran yang menjadi tanggung jawab pendidik.[1]
II.
RUMUSAN
MASALAH
A.
Apa pengertian Model Pembelajaran?
B.
Apa saja macam-macam Model Pembelajaran?
C.
Bagaimana aplikasi Model Pembelajaran dalam
Proses Pembelajaran IPS MI?
III.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Model Pembelajaran
Istilah “model” dapat dipahami sebagai
suatu kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan
sesuatu kegiatan. Selain itu, istilah “model” dapat juga dipahami sebagai suatu
barang atau benda tiruan dari benda yang sesungguhnya. Sedangkan model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam
melakukan sesuatu kegiatan belajar dan mengajar (Winataputra, 2001)
Secara bebas dapat diartikan bahwa model
pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai
pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam
tutorial dan menentukan perangkat-perangkat pembelajaran.[2]
B.
Macam-macam Model Pembelajaran
1.
Model Pembelajaran Debat Aktif
Dalam debat aktif, keterampilan sosial
sangat dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi. Keterampilan ini dapat diajarkan
kepada siswa dan peran siswa untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran
tersebut bermacam-macam menurut tugas, misalnya peran pencatat, pembuat
kesimpulan, pengatur materi, atau guru dan peran guru sebagai pemonitor proses
belajar.
Penerapan Model Pembelajaran Debat Aktif (Active
Debate), langkah-langkahnya sebagai berikut:
a.
Materi pembelajaran telah diberikan
kepada siswa satu minggu sebelum pembelajaran. Siswa diharuskan untuk membaca
dan memahami materi tersebut.
b.
Kelas dibagi menjadi 5 kelompok. 1)
kelompok pertama ditetapkan sebagai penyaji, 2) kelompok kedua dan 3) kelompok
ketiga ditentukan sebagi kontra atau penyangga, 4) kelompok kempat sebagai
pembela kelompok pertama, dan 5) kelompok kelima sebagai penengah.
c.
Sebelum debat dimulai, guru
menyajikan global materi pembelajaran yang akan didebatkan kepada siswa dalam
bentuk ceramah.
d.
Mintalah masing-masing kelompok
menentukan juru bicaranya dan mintalah tiap-tiap kelompok mendiskusikan materi
pada kelompoknya sendiri dan merumuskan argument hasil diskusi.
e.
Setelah selesai diskusi, dan telah
menemukan problem atau masalah untuk disampaikan. Diskusi dihentikan dan
setting kelas dibuat dengan situasi yang berbeda.
f.
Perdebatan dimulai, guru bertindak
sebagai pemandu. Langkah pertama, suruhlah juru bicara kelompok penyaji menyampaikan
argumen. Langkah kedua, Meminta kelompok kontra (2 dan 3) memberikan atau
menyampaikan kontra argumentasinya dan buatlah situasi debat antara penyaji
dengan kontra dan sesekali meminta argumentasi kelompok penengah. Langkah
ketiga, mintalah kelompok pembela menyampaikan argumentasi pembelaannya dan
buatlah situasi debat antara kelompok kontra dengan kelompok pembela dan
sesekali meminta argumen dari kelompok penengah. Doronglah peserta yang lain
untuk mencatat argumen atau bantahan dan disarankan kepada juru bicaranya. Dan
doronglah mereka untuk sesekali memberikan applaus argumen dari juru bicara tim
mereka.
g.
Ketika perdebatan dianggap cukup,
gabungkan kelompok menjadi lingkaran penuh.
Kemudian simpulkan argumen-argumen dari perdebatan tersebut. Sebelum
menutup pembelajaran, doronglah siswa untuk menyambut applaus atas debat yang
dilakukan, setelah itu tutup pembelajaran dengan membaca doa.[3]
2. Model Pembelajaran Bermain Peran (Role
Playing)
Model pembelajaran bermain
peran (role playing) adalah salah satu proses belajar mengajar yang
tergolong dalam simulasi. Simulasi adalah suatu cara pengajaran dengan
melakukan proses tingkah laku secara tiruan.
Jadi model bermain peran
adalah model pembelajaran yang di dalamnya menampakkan adanya perilaku
pura-pura dari siswa yang terlihat dan atau peniruan situasi dari tokoh-tokoh
sejarah sedemikian rupa.
Kelebihan:
a.
Melibatkan seluruh siswa dapat
berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerja
sama.
b.
Siswa bebas mengambil keputusan dan
berkreasi secara utuh.
c.
Permainan merupakan penemuan yang
mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda
d.
Guru dapat mengevaluasi pemahaman
tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.
e.
Permainan merupakan pengalaman
belajar yang menyenangkan bagi anak.[4]
3. Model Pembelajaran Pemecahan Masalah (Problem
Solving)
Metode pemecahan masalah
( problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran
dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi
atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara
bersama-sama.
Keunggulan
dari metode problem solving sebagai berikut:
a.
Melatih siswa untuk mendesain suatu
penemuan
b.
Merangsang perkembangan kemajuan
berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat
b. Berfikir dan bertindak kreatif
c. Memecahkan masalah yang dihadapi secara
realistis
d. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan
e. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil
pengamatan
Kelemahan
metode ploblem solving sebagai berikut:
a. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk
menerapkan metode ini. misalnya terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan
siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian
atau konsep tersebut
b. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang
dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.
4. Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Problem Based
Instruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupan yang
bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan
memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
Langkah-langkah:
a.
Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. memotivasi siswa terlibat
dalam aktifitas pemecahan masalah yang dipilih.
b.
Guru membantu siswa mendefinisikan
dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
seperti menetapkan topik, tugas, jadwal dll.
c.
Guru mendorong siswa untuk
mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan
penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data hipotesis, pemecahan
masalah.
d.
Guru membantu siswa dalam
merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu
mereka berbagi tugas dengan temannya. Guru membantu siswa untuk melakukan
refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang
mereka gunakan.
Kelebihan :
a.
Siswa dilibatkan pada kegiatan
belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik.
b.
Dilatih untuk dapat bekerjasama
dengan siswa lain.
c.
Dapat memperoleh dari berbagai
sumber
Kekurangan:
a.
Untuk siswa yang malas tujuan dari
metode problem solving tidak dapat tercapai
b.
Membutuhkan banyak waktu dan dana.
c.
Tidak semua mata pelajaran dapat
diterapkan dengan metode ini.
5. Model Pembelajaran Picture and Picture
Picture and picture
adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan atau
diurutkan menjadi urutan logis.
Langkah-langkah
:
a.
Guru menyampaikan kompetensi yang
ingin dicapai.
b.
Menyajikan materi sebagai
pengantar.
c.
Guru menunjukkan atau
memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi.
d.
Guru memanggil atau menunjuk siswa
secara bergantian memasang atau mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang
logis
e.
Guru menanyakan alasan atau dasar
pemikiran urutan gambar tersebut
f.
Dari alasan atau urutan gambar
tersebut guru memulai menanamkan konsep atau materi sesuai dengan kompetensi
yang di capai
g.
Kesimpulan atau rangkuman.
Kelebihan :
a.
Guru lebih mengetahui kemampuan
masing-masing siswa
b.
Melatih berfikir logis dan
sistematis
Kekurangan :
a.
Memakan banyak waktu
b.
Banyak siswa yang pasif
6. Model Pembelajaran Numbered Heads Together
Adalah suatu
metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat 1 kelompok
kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa:
Langkah-langkah:
a.
Siswa dibagi dalam kelompok, setiap
siswa daalm setiap kelompok mendapat nomor.
b.
Guru memberikan tugas dan
masing-masing kelompok mengerjakannya
c.
Kelompok mendiskusikan jawaban yang
benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya.
d.
Guru memanggil salah satu nomor
siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka,
e.
Tanggapan dari teman yang lain,
kemudian guru menunjuk nomor yang lain
f.
Kesimpulan.
Kelebihan :
a.
Setiap siswa menjadi siap semua
b.
Dapat melakukan diskusi dengan
sungguh-sungguh
c.
Siswa yang pandai dapat mengajari
siswa yang kurang pandai
Kelemahan :
a.
Kemungkinan nomor yang dipanggil,
dipanggil lagi oleh guru
b.
Tidak semua anggota kelompok
dipanggil oleh guru
7. Model Pembelajaran Jigsaw
Dalam model
ini, guru membagi suatu informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih
kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang
terdiri dari 4 orang sehingga setiap anggota bertanggung jawab terhadap
penguasaan setiap sub topik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa
dari masing-masing kelompok yang bertanggung jawab terhadap sub topik yang sama
membentuk kelompok lagi yang terdiri dari 2 atau 3 orang.
Siswa bekerja
sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya:
a.
Belajar dan menjadi ahli dalam sub
topik bagiannya.
b.
Merencanakan bagaimana mengajarkan
sub topik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Setelah itu siswa
kembali ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam sub topiknya dan
mengajarkan informasi penting dalam sub topik tersebut kepada temannya. Ahli
dalam sub topik lainnya juga bertindak serupa, sehingga seluruh siswa
bertanggung jawab untuk menunjukkan peguasaannya terhadap seluruh materi yang
ditugaskan oleh guru. Dengan demikian setiap siswa dalam kelompok harus
menguasai topik secara keseluruhan.
8. Model Pembelajaran Examples Non Examples
Example Non Example adalah metode
belajar yang menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh dapat dari kasus atau
gambar yang relevan dengan materi yang akan diajarkan.
Langkah-langkah pembelajaran:
a.
Guru mempersiapkan gambar-gambar
sesuai tujuan pembelajaran
b.
guru menempelkan gambar di papan
atau ditayangkan lewat OHP.
c.
Guru memberi petunjuk dan memberi
kesempatan kepada siswa untuk memerhatikan atau menganalisis gambar.
d.
Melalui diskusi kelompok 2-3 orang
siswa, hasil diskusi dari analisis gambar tersebut dicatat pada kertas.
e.
Tiap kelompok diberi kesempatan
membacakan hasil diskusinya.
f.
Mulai dari komentar atau hasil
diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
g.
Kesimpulan
Kelebihan:
a.
Siswa lebih kritis dalam
menganalisis gambar.
b.
Siswa mengetahui aplikasi dari
materi berupa contoh gambar
c.
siswa diberi kesempatan untuk
mengemukakan pendapatnya.
Kekurangan:
a.
Tidak semua materi dapat disajikan
dalam bentuk gambar
b.
memakan waktu yang lama
9. Model
Pembelajaran Kekuatan Berdua (The Power of Two)
Penerapan model pembelajaran Kekuatan
Berdua (the power of two), dengan langkah-langkah atau prosedur yang
dilakukan guru, sebagai berikut:
a.
langkah pertama, membuat masalah (problem).
Dalam proses belajar, guru memberikan satu atau lebih pertanyaan kepada peserta
didik yang membutuhkan refleksi.
b.
langkah kedua, guru meminta peserta
didik untuk merenung dan menjawab pertanyaan sendiri-sendiri.
c.
langkah ketiga, guru membagi
peserta berpasang-pasangan. Dalam proses belajar setelah semua peserta didik
melengkapi jawabannya, bentuklah ke dalam pasangan dan mintalah mereka untuk
berbagi (sharing) jawaban dengan yang lain.
d.
langkah keempat, guru meminta
pasangan untuk berdiskusi mencari jawaban baru. Dalam proses belajar, guru
meminta siswa untuk membuat jawaban baru untuk masing-masing pertanyaan dengan
memperbaiki respons masing-masing individu.
e.
langkah kelima, guru meminta
peserta untuk mendiskusikan hasil sharingnya. Dalam proses belajar,
ketika semua pasangan selesai menulis jawaban baru, bandingkan jawaban dari
masing-masing pasangan kepasangan yang lain.
10. Model
Pembelajaran Memilah dan Memilih Kartu (Card Short)
Penerapan model pembelajaran memilah
dan memilih kartu (card short) dengan langkah-langkah atau prosedur yang
dilakukan, sebagai berikut:
a.
Langkah pertama, guru membagikan
selembar kartu kepada setiap siswa dan pada kartu tersebut telah dituliskan
suatu materi. Kartu tersebut terdiri dari kartu judul dan kartu bahasan. Kartu
Judul biasanya menggunakan huruf KAPITAL dan kartu-kartu sub judul
menggunakan huruf non-kapital.
b.
Langkah kedua, siswa diminta untuk
mencari teman (pemegang kartu judul) yang sesuai dengan masalah yang ada pada
kartunya untuk satu kelompok.
c.
Langkah ketiga, siswa akan berkelompok dalam
satu pokok bahasan atau masalah masing-masing.
d.
Langkah keempat, siswa diminta
untuk menempelkan di papan tulis bahasan yang ada dalam kartu tersebut
berdasarkan urutan-urutan bahasannya yang dipegang kelompok tersebut.
e.
langkah kelima, seorang siswa
(pemegang kartu judul) dari masing-masing kelompok untuk menjelaskan dan
sekaligus mengecek kebenaran urutan per pokok bahasan.
f.
langkah keenam, bagi siswa yang
salah mencari kelompok sesuai bahasan atau materi pelajaran tersebut diberi
hukuman dengan mencari judul bahasan atau materi yang sesuai dengan kartu yang
dipegang.
g.
Langkah ketujuh, guru memberikan
komentar atau penjelasan.[5]
C.
Aplikasi Model Pembelajaran dalam
proses pembelajaran IPS MI
Kelompok kami
akan mengaplikasikan model pembelajaran Problem Based Instruction,
dengan penggunaan metode diskusi. Kami mengambil materi kelas IV semester 2
tema 5 yaitu “Pahlawanku” dengan sub tema 1 yaitu “perjuangan para pahlawan”.
Berikut kami lampirkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
[1] Syaiful
Sagala, Supervisi Pembelajaran, Bandung: ALFABETA, 2010, hlm.65
[2] Syaiful Sagala,
Supervisi Pembelajaran, Bandung: ALFABETA, 2010, hlm.62-63
[3] Nurochim,
Perencanaan Pembelajaran Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2013, hlm.58-59
[4] Mulyono, Strategi
Pembelajaran, Malang: UIN-MALIKI PRESS, 2011, hlm. 44
[5] Nurochim,
Perencanaan Pembelajaran Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2013, hlm.61-79
DAFTAR
PUSTAKA
Sagala, Syaiful 2010,
Supervisi Pembelajaran, Bandung: ALFABETA
Nurochim 2013,
Perencanaan Pembelajaran Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta: Raja Grafindo Persada
Mulyono, , 2011 Strategi
Pembelajaran, Malang: UIN-MALIKI PRESS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar