TASAWUF AL-GHAZALI
MAKALAH
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah : Akhlak Tasawuf
Dosen
Pengampu : Syamsudin Yahya

Disusun
Oleh :
Ryan
Saputra 123911098
Sabrina
Kartikawaty 123911099
Siti
Asniah 123911102
Siwi
Fatmawati 123911103
Sugeng Prayitno 123911104
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014
I.
PENDAHULUAN
Tasawuf sebagai salah satu ilmu esoterik islam memang selalu menarik untuk
diperbincangkan. Terlebih pada saat ini dimana masyarakat seakan mengalami
banyak masalah sehingga tasawuf dianggaap sebagai satu obat manjur untuk
mengobati kehampaan tersebut.
Terlepas dari banyaknya pro dan kontra seputar asal mula munculnya tasawuf
harus kita akui bahwa nilai-nilai tasawuf memang sudah ada sejak zaman
Rasulullah SAW. Setidaknya tasawuf pada saat itu terlihat dari tingkah laku
nabi yang pada akhirnya kita namakan dengan nilai-nilai sufi. Hal tersebut
sangatlah wajar karena misi terpenting nabi adalah untuk memperbaiki dan
sekaligus meyempurnakan akhlak masyarakat arab dulu.
Diantara salah satu tokoh tasawuf islam yang sangat terkenal adalah
Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad al-Thusi atau yang kita kenal
dengan sebutan Imam Al-Ghazali. Beliau telah berhasil menggagas kaedah-kaedah
tasawuf yang terkumpul dalam karya yang terkenal Ihya’ U’lum al-Din (The
Revival of Religion Sciences). Karya al-Ghazali ini dianggap sebagai jembatan
yang mendamaikan syari’at dengan tasawuf yang sempat mengalami clash pada zaman
itu
Al-Ghazali adalah seorang ahli pikir Islam.
Puluhan buku telah ditulisnya yang meliputi berbagai lapangan ilmu, antara lain
teologi Islam (ilmu kalam), hukum Islam (fiqh), tasawuf, akhlak dan adab
kesopanan, kemudian autobiografi. Sebagian besar dari buku-buku itu berbahasa
Arab, dan yang lain ditulis dengan bahasa Parsi. Pengaruh Al-Ghazali di
kalangan kaum muslimin besar sekali sehingga, menurut pandangan para ahli
ketimuran (orientalis), agama Islam yang digambarkan oleh kebanyakan kaum
muslimin berpangkal pada konsepsi Al-Ghazali. Keistimewaan
yang luar biasa dari al-Ghazali, bahwa dia adalah seorang pengarang yang sangat
produktif, baik pada saat ia skeptis maupun setelah ia menemukan pendiriannya
yang tegas. Al-Ghazali mulai menulis sejak ia berusia 25 tahun.
Bertambah masa, bertambah berkembanglah
pemikiran manusia. Begitu pula dengan perkembangan filsafat Islam. Pada abad
ke-5, filsafat Islam mengalami perkembangan yang dapat dikatakan merubah pola
filsafat Islam yang banyak dipertentangkan. Ini dibuktikan dengan
pemikiran-pemikiran Imam Al Ghazali sebagai pionir filsafatnya yang dominan
relevan dengan konsep Islam. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka kami
menyusun makalah yang berjudul Al Ghazali sebagai kontribusi kecil kami dalam
menambah khazanah keilmuan. Selain itu, ini juga sebagai bentuk tanggung jawab
kami dalam memenuhi tugas terstruktur pada mata kuliah Sejarah Perkembangan
Tasawuf.
II.
RUMUSAN
MASALAH
A.
Bagaimana Riwayat
Hidup Al Ghazali?
B.
Apa Saja Karya-karya
yang pernah Ditorehkan oleh Al Ghazali?
C.
Bagaimanakah
Filsafat dan Tasawuf Al Ghazali serta perkembangannya?
D.
Apakah
Pemikiran-pemikiran Al Ghazali Berpengaruh terhadap Masa dan Generasi
Sesudahnya? Jika ya, seperti Apakah Pengaruhnya?
III.
PEMBAHASAN
A.
Riwayat Hidup Al
Ghazali
Nama lengkapnya Abu Hamid Ibn Muhammad Ibn
Ahmad Al Ghazali, lebih dikenal dengan Al Ghazali. Dia lahir di kota kecil yang
terletak di dekat Thus, Provinsi Khurasan, Republik Islam Irak pada tahun 450 H
(1058 M).[1][1]
Nama Al Ghazali ini berasal dari ghazzal, yang berarti tukang pintal benang,
karena pekerjaan ayahnya adalah memintal benang wol. Sedangkan Ghazali juga
diambil dari kata ghazalah, yaitu nama kampung kelahiran Al Ghazali dan inilah
yang banyak dipakai, sehingga namanya pun dinisbatkan oleh orang-orang kepada
pekerjaan ayahnya atau kepada tempat lahirnya.[2]
Orang tuanya gemar mempelajari ilmu tasawuf,
karena orang tuanya hanya mau makan dari hasil usaha tangannya sendiri dari
menenun wol. Ia juga terkenal pecinta ilmu dan selalu berdo’a agar anaknya
kelak menjadi seorang ulama. Amat disayangkan ajalnya tidak memberikan
kesempatan padanya untuk menyaksikan keberhasilan anaknya sesuai do’anya.
Ayahnya sebelum wafat menitipkan anaknya (imam al-Ghazali) dan saudarnya
(Ahmad), ketika itu masih kecil dititipkan pada teman ayahnya, seorang ahli
tasawuf untuk mendapatkan bimbingan dan didikan.[3]
Sejak kecil, Al Ghazali dikenal sebagai anak
yang senang menuntut ilmu. Karenanya, tidak heran sejak masa kanak-kanak, ia
telah belajar dengan sejumlah guru di kota kelahirannya. Diantara guru-gurunya
pada waktu itu adalah Ahmad Ibn Muhammad Al Radzikani. Kemudian pada masa
mudanya ia belajar di Nisyapur juga di Khurasan, yang pada saat itu merupakan
salah satu pusat ilmu pengetahuan yang penting di dunia Islam. Ia kemudian
menjadi murid Imam Al Haramaîn Al Juwaini yang merupakan guru besar di Madrasah
An Nizhâmiyah Nisyapur. Al Ghazali belajar teologi, hukum Islam, filsafat,
logika, sufisme dan ilmu-ilmu alam.[4][4]
Berdasarkan kecerdasan dan kemauannya yang luar
biasa, Al Juwaini kemudian memberinya gelar Bahrûm Mughrîq (laut yang
menenggelamkan). Al Ghazali kemudian meninggalkan Naisabur setelah Imam Al Juwaini
meninggal dunia pada tahun 478 H (1085 M). Kemudian ia berkunjung kepada Nizhâm
Al Mâlik di kota Mu’askar. Ia mendapat penghormatan dan penghargaan yang besar,
sehingga ia tinggal di kota itu selama 6 tahun. Pada tahun 1090 M ia diangkat
menjadi guru di sebuah Nizhâmiyah, Baghdad. Pekerjaan itu dilakukan dengan
sangat berhasil. Selama di Baghdad, selain mengajar, ia juga memberikan
bantahan-bantahan terhadap pikiran-pikiran golongan bathiniyyah, ismâiliyyah,
golongan filsafat dan lain-lain. Setelah mengajar di berbagai tempat, seperti
di Baghdad, Syam dan Naisabur, akhirnya ia kembali ke kota kelahirannya di Thus
pada tahun 1105 M.
Empat tahun lamanya Al Ghazali memangku jabatan
tersebut, bergelimang ilmu pengetahuan dan kemewahan duniawi. Di masa inilah
dia banyak menulis buku-buku ilmiah dan filsafat. Tetapi keadaan yang demikian
tidak selamanya mententramkan hatinya. Di dalam hatinya mulai timbul keraguan,
pertanyaan-pertanyaan batinnya mulai muncul, ‘inikah ilmu pengetahuan yang
sebenarnya?’, ‘Inikah kehidupan yang dikasihi Allah?’, ‘Inikah cara hidup yang
diridhai Tuhan?’, dengan mereguk madu dunia sampai ke dasar gelasnya.
Bermacam-macam pertanyaan timbul dari hati sanubarinya. Keraguan terhadap daya
serap indera dan olahan akal benar-benar menyelimuti dirinya. Akhirnya dia
menyingkir dari kursi kebesaran ilmiahnya di Baghdad menuju Mekkah, kemudian ke
Damaskus dan tinggal disana sambil mengisolir diri untuk beribadah.
Ia mulai tentram dengan jalannya di Damaskus,
yakni jalan sufi. Ia tidak lagi mengandalkan akal semata-mata, tetapi juga
kekuatan nûr yang dilimpahkan Tuhan kepada para hamba-Nya yang
bersungguh-sumgguh menuntut kebenaran. Dari Damaskus ia kembali ke Baghdad dan
kembali ke kampungnya di Thus. Di sini ia menghabiskan hari-harinya dengan
mengajar dan beribadah sampai ia dipanggil Tuhan ke hadirat-Nya pada tanggal 14
Jumâdil Akhir tahun 505 H (1111 M) dalam usia 55 tahun dengan meninggalkan
beberapa anak perempuan. Dan ada juga yang mengatakan bahwa beliau meninggal
usia 54 tahun.[5][5]
B.
Karya-karya yang pernah
Ditorehkan oleh Al Ghazali
Al-Ghazali dikenal sebagai sosok intelektual
multidimensi dengan penguasaan ilmu multidisiplin. Hampir semua aspek keagamaan
dikajinya secra mendalam. Aktifitasnya bergumul dengan ilmu pengetahuan
berlangsung tidak pernah surut hingga ajal menjemputnya. Dalam ranah keilmuan
Islam, sebuah bukti pengakuan atas kapasitas keilmuan dan tingkat penerimaan
para ulama terhadapnya. Abdurrahman Badawi dalam bukunya Muallafah al-ghazali
menyebutkan karya al-Ghazali mencapai 457 buku.[6][6]
Rampung dari mempelajari beberapa filsafat,
baik Yunani maupun dari pendapat-pendapat filosof Islam, Al Ghazali mendapatkan
argumen-argumen yang tidak kuat, bahkan banyak yang bertentangan dengan ajaran
Islam. Oleh karena itu, Al Ghazali menyerang argumen filosof Yunani dan Islam
dalam beberapa persoalan. Di antaranya, Al Ghazali menyerang dalil Aristoteles
tentang azalinya alam dan pendapat para filosof yang mengatakan bahwa Tuhan
tidak mengetahui perincian alam dan hanya mengetahui soal-soal yang besar saja.
Ia pun menentang argumen para filosof yang mengatakan kepastian hukum sebab
akibat semata-mata, mustahil adanya penyelewengan.[7][7]
Al Ghazali mendapat gelar kehormatan Hujjatul
Islâm atas pembelaannya yang mengagumkan terhadap agama Islam, terutama
terhadap kaum bâthiniyyah dan kaum filosof. Sosok Al Ghazali mempunyai
keistimewaan yang luar biasa. Dia seorang ulama, pendidik, ahli pikir dalam
ilmunya dan pengarang produktif.
Karya-karya tulisnya meliputi berbagai disiplin
ilmu pengetahuan. Berikut beberapa warisan dari karya ilmiah yang paling besar
pengaruhnya terhadap pemikiran umat Islam:[8][8]
1.
Maqâshid Al Falâsifah (tujuan-tujuan para
filosof), karangan pertama yang berisi masalah-masalah filsafat. Tahâfut Al
Falâsifah (kekacauan pikiran para filosof) yang dikarang ketika jiwanya dilanda
keragu-raguan di Baghdad dan Al Ghazali mengecam filsafat para filosof dengan
keras.
2.
Mi’yâr Al ‘Ilm (kriteria ilmu-ilmu). Ihyâ`
‘Ulûm Ad Dîn (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama), merupakan karya terbesarnya
selama beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara
damaskus,Yerussalem, Hijjâz dan Thus yang berisi panduan antara fiqih, tasawuf
dan filsafat.
3.
Al Munqidz Min Adl Dlalâl (penyelamat dari
kesatuan), merupakan sejarah perkembangan alam pikiran Al Ghazali dan
merefleksikan sikapnya terhadap beberapa macam ilmu serta jalan mencapai Tuhan.
4.
Al Ma’ârif Al ‘Aqliyyah (pengetahuan yang
rasional).
5.
Misykat Al Anwâr (lampu yang bersinar banyak),
pembahasan Akhlâq Tasawuf.
6.
Minhaj Al ‘Âbidîn (jalan mengabdikan diri pada
Tuhan).
7.
Al Iqtishâd fî Al I’tiqâd (moderasi dalam
akidah).
8.
Ayyuhâ Al Walad (wahai anak). Al Mustasyfa
(yang terpilih).
9.
Iljam Al ‘Awwâm ‘an ‘Ilm Al Kalâm.
10.
Mizan Al ‘Amal (timbangan amal).
C.
Filsafat Al Ghazali
1.
Filsafat
Ketuhanan Al Ghazali
Al Ghazali memandang metafisika (ketuhanan)
dengan memberi reaksi keras terhadap Neoplatonisme Islam. Menurutnya, banyak
kesalahan para filosof, karena mereka tidak teliti dalam lapangan logika dan
matematika. Untuk itu, Al Ghazali mengecam secara langsung dua tokoh
Neoplatonisme muslim (Al Farabi dan Ibn Sina) serta secara tidak langsung
terhadap Aristoteles, guru mereka. Menurut Al Ghazali, dalam Tahâfut Al
Falâsifah, para pemikir bebas tersebut ingin meninggalkan keyakinan-keyakinan
Islam dan mengabaikan dasar-dasar pemujaan ritual dengan menganggapnya sebagai
sesuatu yang tidak berguna bagi pencapaian intelektual mereka.
Pandangan Al Ghazali tentang filsafat ketuhanan
terdiri dari tiga masalah pokok, yaitu:
a.
Masalah Wujud
Al Ghazali mengikuti tradisi ulama kalam Al
Asy’ari, dalam menetapkan wujud Tuhan. Beliau menggunakan dalil wujud Tuhan
atas dua bentuk, yaitu dalil naqli dan dalil aqli. Penggunaan dalil naqli yakni
melalui perenungan terhadap ayat-ayat Al Qur`ân sambil memperhatikan alam
semesta sebagai ciptaan Tuhan bahwa dengan perenungan ayat dan fenomena alam
yang serba teratur, manusia akan sampai pada pengakuan terhadap wujud Tuhan.
Ia menunjukkan wujud Tuhan melalui dalil aqli
dan ia mempertentangkan wujud Allah dengan wujud makhluk. Wujud Allah adalah
qadîm, sedangkan wujud makhluk adalah hadîts (baru). Wujud hadîts menghendaki
sebab gerak yang mendahuluinya sebagai penggerak yang mengadakannya. Sebab
musabab ini tidak akan berakhir sebelum sampai kepada Yang Qadîm yang tidak
dicipta dan digerakkan. Sedangkan jika wujud Allah hadîts, tentu akan
menghendaki sebab musabab seperti itu juga, yang sudah pasti tak akan ada
pangkal pokok geraknya. Hal demikian adalah suatu hal yang mustahil dan tak
akan menghasilkan apa-apa.
b.
Masalah Dzat dan Sifat
Al Ghazali membatasi diri dari pembahasan
tentang Dzat Tuhan dengan mengemukakan hadits Nabi Muhammad saw. yang melarang
manusia memikirkan dzat Allah SWT. Dari itu, beliau menegaskan bahwa akal
menusia tidak akan sampai mencapai dzat itu. Cukup bagi manusia hanya
mengetahui sifat af’âlnya saja. Sedangkan dalam membahas sifat Tuhan, Al
Ghazali cenderung mengikuti para mutakallimîn dari madzhab Asy’ari. Beliau
menetapkan adanya sifat dzat yang diistilahkan dengan sifat salbiyyah (sifat
yang menafikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kesempurnaan dzat Allah SWT).
Sifat salbiyyah ini ada lima, yaitu: Qidâm (tidak berpemulaan), Baqâ` (kekal),
Mukhâlafah li Al Hawâdits (berlainan dengan yang baru), Qiyâmuh Bi Nafsih
(berdiri sendiri) dan Wahdâniyyah (esa).
Sifat-sifat ini menafikan kesempurnaan makhluk
dan menetapkan kesempurnaan Allah SWT. Selain sifat salbiyyah, adapula sifat
ma’âni (sifat-sifat yang melekat pada dzat Allah SWT.) Dia bukanlah dzatnya dan
adanya sifat ini bersamaan dengan adanya Allah SWT. dan tidak dapat dipisahkan
dari dzatnya. Sifat ma’âni ada tujuh yaitu: Qudrah (Maha Kuasa), Iradah (Maha
Berkehendak), ‘Ilmu (Maha Mengetahui), Sama’ (Maha Mendengar), Bashar (Maha
Melihat), Kalam (Maha Berbicara) dan Hayat (Maha Hidup).
c.
Masalah Af’al
Al Ghazali berpendapat bahwa perbuatan Allah
SWT. tidak terbatas dalam menciptakan alam saja, tetapi Allah SWT. juga
menciptakan perbuatan manusia dan ikhtiarnya. Perbuatan manusia tidaklah
terlepas dari kehendak Allah SWT. Manusia hanya diberi kekuasaan dalam
lingkungan kehendak Tuhan. Jadi pebuatan dan ikhtiar manusia adalah terbatas
dan tidak akan melampaui garis-garis qadar. Dalam menguraikan af’al ini, Al
Ghazali mengembalikan permasalahan kepada firman Allah SWT dalam Q.S. Fâthir
ayat 8.
2.
Tasawuf Al Ghazali
Al Ghazali dengan sifat kritisnya kadang tidak
percaya pada kebenaran semua (oxioma atau sangat mendasar) yang akhirnya
melahirkan skeptik.[9][9]
Dia pernah mengutarakan pendapatnya terkait cahaya, sebagai berikut:
“Cahaya itu adalah kunci dari kebanyakan
pengetahuan, dan siap yang menyangka bahwa kasyf (pembukaan tabir) bergantung
pada argumen-argumen, sebenarnya telah mempersempit rahmat Tuhan yang demikian
luas… Cahaya yang dimaksud adalah cahaya yang disinarkan Tuhan dalam hati
sanubari seseorang.”
Berdasarkan ungkapan dia tersebut, dapat
disimpulkan bahwa satu-satunya pengetahuan yang menimbulkan keyakinan akan
kebenarannya bagi Al Ghazali adalah pengetahuan yang diperoleh secara langsung
dari Tuhan dengan Tasawuf.[10][10]
Ungkapan ini ada setelah dia tidak merasa puas dengan ilmu kalam dan filsafat
serta meninggalkan kedudukannya yang tinggi di Madrasah Nizhamiyah, Baghdad
tahun 1095 M dan pergi bertapa di salah satu menara Mesjid Umawi di Damaskus.
Tasawuf Al Ghazali berbeda dengan tasawuf yang
berkembang saat itu. Ia tidak melibatkan diri dalam aliran tashawuf inkarnasi
(pantheisme) dan karya-karyanya tidak keluar dari sunnah Islam yang benar.
Pengetahuannya tidak berdasarkan hasil-hasil argumen Ilmu Kalam. Sehingga dari
saat tersebut, tasawuf mulai digandrungi masyarakat lagi.
3.
Filsafat
Etika/ Akhlâq Al Ghazali
Tujuan dari butir-butir nilai akhlâq yang
dikemukakannya adalah sebagai sarana mencapai ma’rifatullah (mengenal Allah
SWT) dengan arti membuka hijab-hijab yang membatasi diri manusia dengan
Tuhannya, karena menurutnya, akhlâq sangat terkait erat dengan filsafat
ketuhanannya.[11][11]
Menurut Al Ghazali, akhlâq adalah sifat yang
tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dan tindak-tanduk
dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Dalam hal
ini, terdapat persamaan antara Imam Al Ghazali, Ibn Maskawaih dan Tusi, bahwa
akhlâq harus dimulai dengan pengetahuan tentang jiwa, kekuatan dan
sifat-sifatnya. Karena ia merupakan sumber kebaikan, kebahagiaan dan
sebaliknya.
Berbicara masalah jiwa, sebagaimana Tusi dan
filosof lainnya, Al Ghazali membagi jiwa menjadi tiga bagian, yaitu: jiwa
bernafsu (an nafs al bahîmiyyah) yang berasal dari materi, jiwa berani (an nafs
as sabû’iyyah) dan jiwa berfikir (an nafs an nâthiqah) yang berasal dari Ruh
Tuhan yang tidak akan hancur. Al Ghazali juga membuat tabulasi kebaikan pokok,
yang terdiri dari empat hal, yaitu kebijaksanaan, keberanian, menjaga kesucian
dan keadilan. Empat hal ini merupakan jalan tengah dari ketiga jenis jiwa tadi.
Dan untuk mencapai jalan tengah ini, diperlukan akal yang berfungsi efektif
bagi terciptanya posisi tengah jiwa berpikir dan syari’at berfungsi efektif
untuk terciptanya posisi tengah jiwa bernafsu dan berani.
Al Ghazali mengenalkan konsep jalan lurus (ash
shirât al mustaqîm) yang dinyatakan lebih halus daripada sehelai rambut dan
lebih tajam daripada mata pisau. Kesempurnaan jalan ini akan dapat dicapai
dengan penggabungan antara akal dan wahyu.
Ihyâ` ‘Ulûm Ad Dîn merupakan salah satu karya
Al Ghazali yang mengupas tentang pemikiran filsafat etikanya. Maka, dapat
dikatakan bahwa filsafat etika Al Ghazali adalah Tasawuf Al Ghazali, yang
bertujuan pokok:
Maksudnya bahwa manusia semampunya meniru
keteladanan sifat-sifat ketuhanan, seperti pengasih, penyayang, pengampun (pema’af),
serta sifat-sifat yang disukai Tuhan, seperti sabar, jujur, takwa, zuhud,
ikhlas, beragama dan lainnya.
Akhlâq merupakan keseimbangan antara daya ilmu
dan daya pengendalian amarah. Dan jalan untuk mencapai akhlâq ialah dengan
naluri insani serta latihan-latihan. Latihan ini dilakukan dengan amal-amal.
Adapun tujuan dari akhlâq luhur adalah menahan diri dari mencintai dunia wujud
dan mengalihkannya kepada nikmatnya mencintai Allah SWT.
Al Ghazali
berpendapat bahwa watak manusia pada dasarnya adalah seimbang, dan lingkungan
dan pendidikanlah yang memperburuknya. Sebagaimana prinsip Islam, Al Ghazali
menganggap Tuhan sebagai pencipta yang berkuasa dan sangat memelihara dan
menjadi rahmatan lil ‘âlamîn. Untuk taqarrub pada Allah, yang terpenting adalah
muqârabah dan muhâsabah. Adapun kesenangan menurut Al Ghazali ada dua, yaitu
kepuasan (ladzdzât) ketika mengetahui kebenaran sesuatu dan kebahagiaan
(sa’âdah) ketika mengetahui kebenaran sumber dari segala kebahagiaan itu
sendiri (ma’rifatullâh disertai musyâhadah al qalb).[12][12]
D.
Pengaruh Pemikiran-pemikiran Al Ghazali
terhadap Masa dan Generasi Sesudahnya
Pemikiran Al Ghazali banyak mempengaruhi pada
masa setelahnya, karena sesuai dengan ajaran Islam. Ia mendapat gelar Hujjatul
Islâm karena jasanya dalam mengomentari dan melakukan pembelaan terhadap
berbagai serangan dari pihak luar, baik Islam maupun orientalis Barat.
Pemikiran Al Ghazali dan Ibn Rusyd pada
dasarnya memiliki satu garis kesamaan, yaitu sebuah garis yang berangkat dari
titik pemikiran Ibn Sina dengan aliran filsafat yang memiliki bangun dasar
wahdatul wujûd. Al Ghazali mengemukakan bahwa para filosof yang mengajarkan
tiga hal (keabadian alam, pengetahuan Tuhan yang universal dan menolak
bangkitnya jasad setelah mati) adalah kafir, termasuk yang mengikutinya.[13][13]
Beberapa filosof yang terpengaruhi
pemikiran-pemikiran Al Ghazali dari karya-karyanya, yaitu:[14][14]
a.
B Mic Donal menerjemahkan beberapa pasal dari
Ihyâ` ‘Ulûmuddîn.
b.
H Baeur yang menterjemahkan Qawâ’id Al ‘Aqâ`id
ditransfer ke dalam bahasanya, yaitu Dogmatic Al Ghazali’s.
c.
Carra De Vaux yang menterjemahkan buku Tahâfut
Al Falâsifah.
d.
De Boer dan Asin Palacois yang masing-masing
menterjemahkan Tahâfut Al Falâsifah.
e.
Barbier De Minard yang menterjemahkan Al
Munqizhu min Adl Dlalâl.
f.
WHT. Craidner, London yang menterjemahkan buku
Miskat Al Anwâr.
IV.
KESIMPULAN
Nama lengkap Al Ghazali adalah Abu Hamid Ibn
Muhammad Ibn Ahmad Al Ghazali, lebih dikenal dengan Al Ghazali. Lahir di
Provinsi Khurasan, Republik Islam Irak, tahun 450 H (1058 M). Ayahnya adalah
memintal benang wol.
Awal mula Al Ghazali mengenal tasawuf adalah
ketika sebelum ayahnya meninggal, namun dalam hal ini ada dua versi: ayahnya
sempat menitipkan Al Ghazali kepada saudaranya, Ahmad seorang sufi. Sejak
kecil, Al Ghazali dikenal sebagai anak yang senang menuntut ilmu. Al Juwaini
kemudian memberinya gelar Bahrûm Mughrîq (laut yang menenggelamkan). Dan empat
tahun Al Ghazali bergelimang ilmu pengetahuan dan kemewahan duniawi. Di masa
inilah dia banyak menulis buku-buku ilmiah dan filsafat. Bermacam-macam
pertanyaan timbul dari hati sanubarinya. Dia menyingkir dari kursi kebesaran
ilmiahnya di Baghdad menuju Mekkah, kemudian ke Damaskus dan tinggal disana
sambil mengisolir diri untuk beribadah dan mengambil jalan sufi. Ia wafat pada
tanggal 14 Jumâdil Akhir tahun 505 H (1111 M) dalam usia 55 tahun.
Al Ghazali mendapat gelar kehormatan Hujjatul
Islâm atas pembelaannya yang mengagumkan terhadap agama Islam, terutama
terhadap kaum bâthiniyyah dan kaum filosof. Dia seorang ulama, pendidik, ahli pikir
dalam ilmunya dan pengarang produktif.
Karya-karya tulisnya meliputi: Maqâshid Al
Falâsifah, Tahâfut Al Falâsifah, Mi’yâr Al ‘Ilm, Ihyâ` ‘Ulûm Ad Dîn, Al Munqidz
Min Adl Dlalâl, Al Ma’ârif Al ‘Aqliyyah, Misykat Al Anwâr, Minhaj Al ‘Âbidîn,
Al Iqtishâd fî Al I’tiqâd, Ayyuhâ Al Walad, Al Mustasyfa, Iljam Al ‘Awwâm ‘an
‘Ilm Al Kalâm dan Mizan Al ‘Amal.
Filsafat Imam Al Ghazali meliputi Filsafat
Ketuhanan (Masalah Wujud, Dzat dan Sifat serta Af’al); Tashawuf Al Ghazali,
tidak melibatkan diri dalam aliran tashawuf inkarnasi (pantheisme) dan
karya-karyanya tidak keluar dari sunnah Islam yang benar. Pengetahuannya tidak
berdasarkan hasil-hasil argumen Ilmu Kalam; Filsafat Etika/ Akhlâq Al Ghazali.
Akhlâq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan
dan tindak-tanduk dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan.
Al Ghazali membagi jiwa menjadi tiga bagian,
yaitu: an nafs al bahîmiyyah an nafs as sabû’iyyah dan an nafs an nâthiqah. Ia
pun mengenalkan konsep jalan lurus (ash shirât al mustaqîm) yang dinyatakan
lebih halus daripada sehelai rambut dan lebih tajam daripada mata pisau.
Filsafat etika Al Ghazali adalah Tashawuf Al Ghazal, yang bertujuan pokok.
Akhlâq merupakan keseimbangan antara
daya ilmu dan daya pengendalian amarah. Dan jalan untuk mencapai akhlâq ialah
dengan naluri insani serta latihan-latihan. Al Ghazali berpendapat bahwa watak
manusia pada dasarnya adalah seimbang, dan lingkungan dan pendidikanlah yang
memperburuknya.
V.
PENUTUP
Demikian makalah ini kami buat. Kami menyadari bahwa dalam
penyusunannya masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu kritik dan
saran yang membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan makalah kami
kedepannya dan semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin.
[1]
Sirajuddin. 2007. Filsafat Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. hlm. 155.
[2]
Hasyimiyah Nasution. 1999. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama. hlm.
77.
[3]
http://www.2lisan.com/2615/biografi-imam-al-ghazali/#.ULX0ZGe0UrA.
November 28, 2012. 6:33 PM
[4][4]
Ahmad Syadani. 1997. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia. hlm. 178.
[5][5]
Yunasril Ali. 1991. Perkembangan Pemikiran Falsafi dalam Islam. Jakarta: Bumi
Aksara. hlm. 67.
[6][6]http://uchinfamiliar.blogspot.com/2010/08/karya-karya-monumental-al-ghazali.html.
November20, 2012. 10:55 PM
[7][7]
Ibid. hlm. 68.
[8][8]
Hermawan, A. Heris dan Yaya Sunarya. 2011. Filsafat. Bandung: CV Insan Mandiri.
hlm. 91-92.
[9][9]
Mustofa, A. 2007. Filsafat Islam. Bandung: CV Pustaka Setia. hlm. 224.
[10][10]
Nasution, Harun. 1978. Filsafat dan Mistisme. Jakarta: Bulan Bintang. hlm. 31.
[11][11]
Ali, Yunasril. 1991. Perkembangan Pemikiran Falsafi dalam Islam. Jakarta: Bumi
Aksara. hlm. 74.
[12][12]
Suseno, Magniz Franz. 2000. Dua Belas Tokoh Etika Abad Ke-20. Yogyakarta:
Kanisius. hlm. 33.
[13][13]
Madkur, Ibrahim. 1968. Fî Al Falsafah Al Islâmiyyât wan Manhaj wa Tathbiquh.
Kairo: Dâr Al Ma’ârif. hlm. 56-57.
[14][14]
Hanafi, Ahmad. 1990. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang. hlm.
137.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Hanafi. 1990. Pengantar
Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang
Ali,
Yunasril. 1991. Perkembangan Pemikiran Falsafi dalam Islam. Jakarta:
Bumi Aksara
Hamka. 1986. Tasawuf Perkembangan
dan Pemurniannya. Jakarta: PT Pustaka
Harun, Nasution. 1987. Filsafat
dan Mistisme. Jakarta: Bulan Bintang
Hermawan, dkk. 2011. Filsafat.
Bandung: CV Insan Mandiri
Ibrahim,
Madkur. 1968. Fî Al Falsafah Al Islâmiyyât wan Manhaj wa Tathbiquh. Kairo:
Dâr Al Ma’ârif
Mustofa. 2007. Filsafat Islam.
Bandung: CV Pustaka Setia
Simuh. 2002. Tasawuf
dan perkembangannya dalam islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sirajuddin. 2007. Filsafat Islam.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Syadani, Ahmad. 1997. Filsafat
Umum. Bandung: Pustaka Setia
http://www.2lisan.com/2615/biografi-imam-al-ghazali/#.ULX0ZGe0UrA. Diakses pada tanggal 23 Mei 2014
pukul 08:46 WIB
http://uchinfamiliar.blogspot.com/2010/08/karya-karya-monumental-al-ghazali.html diakses pada tanggal 23 Mei 2014
pukul 09:00 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar